SAMARINDA – Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kaltim mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga kondusivitas daerah agar aktivitas sosial dan ekonomi tetap berjalan dengan baik.
FPK menegaskan Kaltim merupakan “rumah besar” yang dihuni beragam suku dan budaya. Di tengah perbedaan tersebut, seluruh elemen masyarakat diharapkan tetap bersatu dalam satu tujuan, yakni menjaga kedamaian daerah.
Baca Juga: Picu Gaduh, DPRD Kaltim Siap Panggil Pemprov Terkait Pengalihan Iuran BPJS ke Kabupaten/Kota
Ketua FPK Kaltim, Syaharie Jaang, mengatakan kerukunan yang terbangun selama ini tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses panjang.
“Kerukunan ini dirawat dari perbedaan suku, budaya, dan kepentingan. Namun kita tetap disatukan oleh tujuan yang sama, yaitu Kaltim yang damai,” ujarnya.
Ia menegaskan menjaga stabilitas daerah menjadi tanggung jawab bersama, termasuk dalam menyampaikan aspirasi di ruang publik. Menurutnya, kebebasan berpendapat merupakan hak setiap warga, namun harus dijalankan secara bertanggung jawab.
“Silakan menyampaikan aspirasi, itu dijamin undang-undang. Tapi ada rambu yang harus dipatuhi. Tidak boleh merusak atau anarkis,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan potensi konflik harus dicegah sejak dini karena dampaknya tidak mudah dikendalikan.
Baca Juga: Soroti Tambang hingga Dinasti Politik, Aksi Massa 21 April di Samarinda Mulai Terendus Polda Kaltim
“Sekali api konflik menyala, memadamkannya tidak mudah,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris FPK Kaltim, Achmad Jubaidi, mengajak masyarakat mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menyikapi berbagai persoalan. “Mari hindari provokasi dan kedepankan cara-cara damai serta bermartabat,” ujarnya.
FPK Kaltim juga mengingatkan bahwa dampak kerusuhan paling dirasakan oleh masyarakat kecil, mulai dari pedagang, pekerja, hingga anak-anak yang membutuhkan rasa aman dalam beraktivitas.
Karena itu, masyarakat diharapkan bersama-sama menjaga Kaltim sebagai rumah besar yang penuh persaudaraan dengan menjunjung tinggi sikap saling menghormati. “Damai itu indah, dan Kalimantan Timur terlalu berharga untuk dikorbankan oleh emosi sesaat,” tutup Jubaidi. (kpg/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan