KALTIMPOST.ID - Berbagai upaya dilakukan agar mampu mendorong pertanian berkelanjutan di Kalimantan Timur. Salah satunya dengan kegiatan lokakarya berbasis masyarakat tentang inovasi pupuk hayati.
Petani sawit di Desa Labangka, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menjadi sasaran kegiatan. Pelatihan telah berlangsung pada Rabu (15/4/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Seeds of Science Asia (SoSA) 2025–2026. Berkat dukungan Australian Academy of Science bersama ISC Regional Focal Point for Asia and the Pacific (ISC RFP-AP) dan INGSA-Asia.
Baca Juga: Ratusan Konsumen Balikpapan Regency Menuntut Hak, DPRD: Developer Abaikan Hak Pembeli
Pelatihan ini menjangkau lebih dari 30 petani kelapa sawit skala kecil. Serta melibatkan partisipasi aktif perempuan dan pemuda. Sekaligus menghadirkan pemangku kebijakan dan stakeholder sektor pertanian.
Wakil Rektor III Bidang Kerja Sama, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat dan Urusan Internasional Universitas Balikpapan Merry Krisdawati Sipahutar mengatakan, lokakarya ini bertujuan membekali petani dengan keterampilan praktis dalam mengolah limbah padat kelapa sawit.
Seperti tandan kosong kelapa sawit (TKKS) menjadi pupuk hayati berbasis mikroorganisme lokal. Dalam pelatihan tersebut, peserta belajar teknik fermentasi menggunakan bahan sederhana.
“Seperti molase, rumput, tanah permukaan, dan inokulan mikroba,” katanya. Merry memaparkan materi produksi pupuk organik dengan fokus pada proses teknis mengubah tandan kosong kelapa sawit (empty fruit bunches/EFB) menjadi pupuk hayati berkualitas tinggi.
Baca Juga: PPP Kaltim Pilih Fokus Konsolidasi, Enggan Terlibat Polemik DPP
“Sebenarnya dengan teknik yang tepat, TKKS yang selama ini dianggap limbah bisa menjadi pupuk berkualitas tinggi yang bermanfaat bagi tanah,” ungkapnya.
Sementara Dr. Indrayani turut menyampaikan materi mengenai strategi branding produk melalui sesi berjudul ‘Strategi Branding Produk UNIBA Ecopalm Compos’.
Sebab produk yang baik perlu didukung dengan identitas, kemasan, dan strategi pasar yang tepat. “Sehingga memiliki nilai jual dan dapat bersaing,” ujarnya.
Selain mendapat materi pembelajaran, sesi praktik langsung menjadi bagian penting. Petani diajak membuat pupuk hayati secara mandiri dan melihat langsung perbandingan hasilnya melalui demplot.
Salah satu peserta mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka menjadi tahu cara mengolah limbah sawit sendiri. Ke depan mereka ingin coba produksi sendiri supaya bisa mengurangi biaya pupuk.
Dia turut senang melihat antusiasme peserta tinggi. Banyak petani menyatakan siap melanjutkan produksi pupuk hayati secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Harapannya kegiatan ini menjadi model pengembangan pertanian berkelanjutan berbasis masyarakat. Sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Sehingga meningkatkan kesuburan tanah dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim di wilayah pedesaan. Sebagai informasi, kegiatan dibuka oleh Camat Babulu Kansip.
Kansip menuturkan, pertanian berkelanjutan harus mulai didorong dari tingkat desa. “Pemanfaatan limbah sawit menjadi pupuk hayati ini adalah solusi nyata yang ramah lingkungan dan ekonomis bagi petani,” tuturnya.
Begitu pula sesi pembukaan juga menampilkan sambutan daring dari Profesor Kavita Shah, Steering Committee dari International Network for Governmental Science Advice (INGSA) Asia.
“Integrasi pengetahuan ilmiah ke dalam kebijakan dan praktik masyarakat sangat penting agar inovasi seperti ini dapat berkelanjutan dan memberikan dampak nyata,” jelasnya.
Lokakarya tidak hanya fokus pada aspek teknis. Namun juga mengintegrasikan pendekatan kebijakan. Melalui dialog antara petani, pemerintah desa, dan kecamatan muncul kesepakatan baru.
Yakni memasukkan program pupuk hayati ke dalam Surat Keputusan Kepala Desa dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) yang didukung oleh Dana Desa. (*)
Editor : Duito Susanto