KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Menjelang dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027, sejumlah orang tua siswa di Balikpapan merasakan meningkatnya beban pengeluaran untuk kebutuhan pendidikan anak. Meski pemerintah telah menjalankan program bantuan seragam gratis, banyak kebutuhan lain yang tetap harus dipenuhi secara mandiri oleh keluarga.
Mulai dari tas sekolah, sepatu, alat tulis, buku pelajaran, hingga berbagai perlengkapan penunjang lainnya masih menjadi tanggungan orang tua. Kondisi tersebut semakin terasa di tengah situasi ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya membaik.
Salah seorang wali murid siswa sekolah dasar, Nurhayati, mengaku biaya yang harus dikeluarkan menjelang masuk sekolah cukup besar meskipun anaknya mendapatkan bantuan seragam dari pemerintah.
"Alhamdulillah seragam dasar memang terbantu karena ada program dari pemerintah. Tapi kan kebutuhan sekolah bukan cuma seragam. Masih ada tas, sepatu, alat tulis, buku dan kebutuhan lainnya yang tetap harus dibeli," ucapnya.
Menurutnya, harga perlengkapan sekolah saat ini juga mengalami kenaikan dibanding beberapa tahun lalu. Kondisi tersebut membuat orang tua harus lebih cermat mengatur keuangan keluarga.
"Dulu mungkin belanja sekolah tidak terlalu terasa. Sekarang satu anak saja bisa menghabiskan ratusan ribu sampai jutaan rupiah kalau dihitung semua kebutuhan. Apalagi kalau anaknya lebih dari satu," katanya.
Hal serupa disampaikan Ahmad, orang tua siswa SMP di Balikpapan Timur. Ia mengatakan kebutuhan pendidikan menjadi salah satu pengeluaran terbesar keluarga setiap memasuki tahun ajaran baru.
Baca Juga: Klaim Seragam Gratis dan Subsidi SPP Ringankan Beban Orang Tua di Tahun Ajaran Baru
"Kalau dihitung seragam tambahan sekolah, sepatu, tas dan perlengkapan lainnya memang cukup berat. Kami harus menyisihkan anggaran jauh-jauh hari supaya tidak terlalu terasa saat masuk sekolah," ujarnya.
Meski demikian, Ahmad menilai pendidikan tetap menjadi prioritas utama keluarga. Karena itu, berbagai kebutuhan sekolah tetap diupayakan terpenuhi meskipun harus mengurangi pengeluaran di sektor lain. "Pendidikan anak tetap nomor satu. Mau bagaimana pun tetap harus diusahakan karena itu investasi masa depan mereka," katanya.
Di sisi lain, sejumlah orang tua mengapresiasi program bantuan pendidikan yang selama ini diberikan pemerintah daerah, mulai dari seragam gratis hingga subsidi biaya pendidikan bagi siswa. Menurut mereka, program tersebut cukup membantu meringankan beban ekonomi masyarakat, terutama bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah.
"Kami bersyukur ada bantuan seragam gratis. Kalau tidak ada bantuan itu tentu pengeluaran kami lebih besar lagi. Mudah-mudahan program seperti ini bisa terus berlanjut," ujar Siti Rahma, ibu dari calon siswa SMP.
Meski demikian, ia berharap bantuan pendidikan dapat diperluas mencakup kebutuhan lain yang juga cukup membebani orang tua. "Kalau bisa ke depan mungkin ada bantuan tas atau perlengkapan sekolah lainnya. Karena sekarang yang mahal bukan cuma seragam saja," katanya.
Sementara itu, meningkatnya biaya kebutuhan pendidikan juga diakui para pedagang perlengkapan sekolah. Mereka menyebut harga seragam sekolah kini berada pada kisaran Rp 180 ribu hingga Rp 250 ribu per set, tergantung jenjang pendidikan dan jenis bahan yang digunakan.
Baca Juga: Madrasah Swasta Balikpapan Didorong Tingkatkan Mutu di Tengah Persaingan Sekolah Negeri Gratis
Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat memilih menunda pembelian atau menunggu kepastian bantuan pemerintah sebelum berbelanja kebutuhan sekolah.
Meski menghadapi berbagai tantangan ekonomi, para orang tua tetap optimistis menyambut tahun ajaran baru. Mereka berharap anak-anak dapat belajar dengan baik dan memperoleh pendidikan yang berkualitas demi masa depan yang lebih cerah.
"Yang penting anak-anak semangat sekolah. Kami sebagai orang tua pasti berusaha semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan mereka. Harapannya mereka bisa belajar dengan baik dan meraih cita-cita," tutup Nurhayati. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo