Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Hetifah Dorong Transformasi Pendidikan Lewat Teknologi Digital dan AI

Bayu Rolles • Jumat, 26 Juni 2026 | 13:03 WIB
PENDIDIKAN: Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian gelar lokakarya transformasi pendidikan, Jumat (26/6/2026). (Bayu/KP)
PENDIDIKAN: Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian gelar lokakarya transformasi pendidikan, Jumat (26/6/2026). (Bayu/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Transformasi pendidikan tak lagi bisa diukur dengan pembaruan kurikulum atau penambahan infrastruktur sekolah.

Di kondisi pesatnya pertumbuhan teknologi digital dan akal imitasi (AI), kemampuan para guru atau tenaga pendidik dalam beradaptasi dengan perkembangan itu jadi tantangan lain yang juga perlu diperhitungkan.

Berangkat dari kesadaran itu, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI menggelar sebuah lokakarya bertema "Transformasi Pembelajaran melalui Pemanfaatan Teknologi Digital yang Interaktif dan Bermakna" pada Jumat (26/6).

Baca Juga: Pemangkasan RKAB Berpotensi Berdampak pada 10 Ribu Pekerja Tambang di Kutim

Peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN AM Saifullah Aldeia, pakar pembelajaran digital Prof Eko Indrajit, serta Kepala BRIDA Kalimantan Timur Fitriansyah jadi tiga pembicara dalam acara yang digelar di Hotel Mercure Samarinda itu.

Kegiatan itu diikuti 100 guru SMA dan SMK di Kota Tepian untik mengembangkan pola adaptasi proses mengajar para tenaga pendidik agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Hadir lewat layar virtual, Hetifah menegaskan transformasi digital jadi sebuah keharusan dan sekolah-sekolah dituntut bergerak cepat agar tak tertinggal.

Baca Juga: 30 Tim Siap Bertarung di Piala Soeratin U13 dan U15 Balikpapan 2026, Kick-off 29 Juni

"Tanpa dukungan infrastruktur, kurikulum, dan budaya belajar digital yang memadai, kesenjangan mutu pendidikan antara wilayah perkotaan dan daerah terluar, terpencil, maupun pesisir akan semakin melebar," katanya.

Perubahan kebutuhan dunia kerja juga menjadi alasan mengapa transformasi pendidikan tidak bisa ditunda. Industri kini membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai pengetahuan dasar, tetapi juga memiliki literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta kecakapan berkolaborasi.

"Pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dan daya saing. Kita tidak bisa hanya berorientasi pada ijazah, tetapi harus menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan," kata legislator yang mewakili Kaltim di Senayan, DPR RI itu.

Teknologi dinilainya bisa menjadi jembatan pemerataan akses pendidikan. Pembelajaran hibrida, laboratorium virtual, hingga platform digital memungkinkan layanan pendidikan menjangkau lebih banyak peserta didik tanpa dibatasi kondisi geografis.

Optimisme itu turut ditopang dengan capaian Kaltim yang menempati peringkat kedelapan nasional dalam Digital Competitiveness Index dan konsisten berada di jajaran 10 besar selama lima tahun terakhir.

Menurut Hetifah, capaian tersebut jadi modal penting untuk mempercepat transformasi digital, termasuk melalui pengembangan Smart Province dan pembentukan Dewan TIK.

Meski demikian, Hetifah mengingatkan jika pekerjaan rumah Kaltim masih cukup besar. Literasi digital guru belum merata, fasilitas teknologi di sejumlah daerah masih terbatas, sementara banyak peladen pembelajaran digital yang belum sepenuhnya mudah diakses.

Lewat lokakarya ini, Hetifah berharap forum tersebut bisa menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus memperkuat kompetensi digital. Sehingga para guru mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakter peserta didik masa kini.

Pandangan serupa disampaikan Peneliti Pusat Riset Pendidikan BRIN, AM Saifullah Aldeia. Menurutnya, transformasi digital tidak boleh dimaknai sebatas menghadirkan perangkat teknologi di ruang kelas.

"Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi mampu menciptakan pengalaman belajar yang efektif, menarik, dan bermakna," katanya.

Saifullah menilai generasi saat ini tumbuh di tengah derasnya arus informasi sehingga pendekatan pembelajaran juga harus lebih fleksibel dan berpusat pada peserta didik. Dalam kondisi itu, peran guru sebagai fasilitator, mentor, sekaligus pendamping justru semakin penting.

"Peran guru kini lebih ke arah membantu siswa memilah informasi, membangun karakter, dan mengasah daya pikir kritis," terangnya.

Pandangan tersebut diperkuat Prof. Eko Indrajit jika digitalisasi bukan sekadar memindahkan papan tulis ke layar komputer atau mengganti buku dengan gawai. "Esensi transformasi terletak pada kemampuan merancang pengalaman belajar yang lebih interaktif, relevan, dan mampu menumbuhkan kreativitas, kolaborasi, serta kemandirian peserta didik" terangnya.

Pada akhirnya, keberhasilan transformasi pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang dimiliki sekolah. Yang menjadi pembeda adalah sejauh mana guru mampu memanfaatkan teknologi untuk membuat proses belajar tetap tumbuh di perkembangan zaman. (*)

Editor : Duito Susanto
#dpr ri #akal imitasi #teknologi digital #transformasi pendidikan #Hetifah Sjaifuddian