Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Masuk SD Terlalu Cepat Tak Selalu Menguntungkan, Psikolog: Anak Bisa Kehilangan Percaya Diri

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 4 Juli 2026 | 15:10 WIB
JANGAN MEMAKSA: Perkembangan dan kesiapan anak menjadi faktor yang jauh lebih menentukan untuk masuk SD dibanding sekadar usia ataupun kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. RAMA/KP
JANGAN MEMAKSA: Perkembangan dan kesiapan anak menjadi faktor yang jauh lebih menentukan untuk masuk SD dibanding sekadar usia ataupun kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. RAMA/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Keinginan sebagian orang tua agar anak segera masuk sekolah dasar (SD) demi mengejar prestasi ternyata tidak selalu berdampak positif.

Dari sudut pandang psikologi, perkembangan dan kesiapan anak justru menjadi faktor yang jauh lebih menentukan dibanding sekadar usia ataupun kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

Psikolog Biro Psikologi Matavhati, Yulia Wahyu Ningrum, menjelaskan, usia 7 tahun ditetapkan sebagai usia ideal masuk SD bukan tanpa alasan. Pada rentang usia tersebut, sebagian besar anak umumnya telah mencapai kematangan perkembangan untuk menghadapi tuntutan belajar di sekolah.

Namun, Dia menegaskan bahwa psikologi tidak hanya menjadikan usia sebagai satu-satunya tolok ukur kesiapan. Pada usia sekitar 7 tahun, umumnya anak mulai memiliki kemampuan mengendalikan emosi dengan lebih baik.

Baca Juga: ICON City Hotel dan HAVEN Coffee Eatery Music Hadirkan Minuman Einspanner Series, Ada Empat Pilihan Rasa Tentunya Seger dan nikmat

Anak mulai mampu duduk fokus dalam waktu lebih lama, idealnya sekitar 20 menit, mengikuti aturan kelas, memahami instruksi bertahap, menyelesaikan tugas hingga tuntas, serta mulai berpikir lebih logis.

“Anak juga biasanya lebih siap berinteraksi dengan teman sebaya dan mampu menunda keinginan demi menyelesaikan tanggung jawab," ujarnya.

Menurutnya, kesiapan sekolah bukan hanya diukur dari kecerdasan akademik. Kematangan emosi, kemampuan sosial, hingga kesiapan otak untuk belajar setiap hari di lingkungan sekolah memiliki peran yang sama pentingnya. Karena itu, anak yang terlihat pintar belum tentu siap mengikuti proses belajar di SD.

Yulia mengaku masih banyak menemui orang tua yang beranggapan semakin cepat anak masuk SD maka peluang suksesnya akan semakin besar. Padahal, anggapan tersebut merupakan salah satu miskonsepsi yang paling sering dia temui selama mendampingi anak dan keluarga.

Baca Juga: Masih Tersisa 86 Kursi, SMK 2 Bontang Penuhi Kuota Lewat Offline

"Penelitian menunjukkan bahwa kesiapan belajar jauh lebih penting daripada sekadar usia yang lebih muda. Anak yang dipaksa masuk SD sebelum benar-benar siap mungkin mampu mengikuti pelajaran pada awalnya, tetapi dalam jangka panjang mereka lebih rentan mengalami stres belajar, kehilangan percaya diri, kesulitan berkonsentrasi, hingga muncul penolakan terhadap sekolah," bebernya.

Bahkan, lanjut dia, tidak sedikit anak yang tampak mampu mengikuti pelajaran saat duduk di kelas satu, tetapi mulai mengalami kesulitan ketika tuntutan akademik meningkat pada kelas tiga atau empat.

Dalam beberapa kasus, anak juga merasa mengalami perundungan karena secara mental belum siap beradaptasi dengan lingkungan sekolah.

"Lebih baik anak terlambat enam bulan tetapi siap, daripada lebih cepat enam bulan tetapi harus berjuang setiap hari karena belum matang secara perkembangan," tegasnya.

Jika hasil asesmen sebenarnya menunjukkan anak belum siap tetapi tetap dipaksakan masuk SD, konsekuensinya dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Mulai dari kehilangan motivasi belajar, mudah cemas, sering mengeluh sakit sebelum berangkat sekolah, menolak belajar, menjadi lebih pendiam, hingga menunjukkan ledakan emosi di rumah.

Baca Juga: Rekomendasi 10 Film Aksi Mirip 'John Wick' bagi Penggemar Sinema Baku Hantam

Dampak yang paling dikhawatirkan adalah ketika anak mulai meyakini dirinya bodoh atau tidak mampu, padahal yang belum siap sesungguhnya adalah tahap perkembangan mereka.

Yulia menambahkan, selama hampir dua dekade mendampingi anak dan keluarga, ia belajar bahwa keberhasilan di sekolah bukan ditentukan oleh siapa yang paling cepat masuk SD, melainkan siapa yang paling siap menjalani proses belajar.

"Masa kecil bukan perlombaan. Tugas kita sebagai orang tua adalah memastikan anak bertumbuh sesuai tahap perkembangannya, bukan sesuai kecemasan orang dewasa," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Psikolog Samarinda #anak masuk SD #kesiapan anak sekolah #usia ideal masuk SD #pendidikan anak