KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung (calistung) kerap menjadi kebanggaan orang tua sebelum anak memasuki sekolah dasar (SD). Namun, kemampuan akademik tersebut bukan jaminan seorang anak benar-benar siap menjalani kehidupan sekolah.
Kematangan emosi dan kemandirian justru menjadi bekal yang lebih menentukan keberhasilan anak beradaptasi di bangku SD.
Psikolog klinis Yulia Wahyu Ningrum, menilai kebijakan pemerintah yang melarang tes membaca, menulis, dan berhitung sebagai syarat masuk SD sudah tepat. Sebab, sekolah dasar merupakan tempat anak belajar, bukan tempat menyeleksi siapa yang sudah menguasai kemampuan akademik sejak dini.
"Calistung hanyalah salah satu keterampilan akademik. Anak dapat belajar membaca dalam beberapa bulan pertama di SD apabila kesiapan belajarnya baik. Sebaliknya, kemampuan mengendalikan emosi, mendengarkan guru, bekerja sama dengan teman, serta bertahan mengikuti proses belajar jauh lebih sulit diajarkan apabila belum berkembang," ujarnya psikolog klinis tersebut.
Baca Juga: Imbas Masuk Kawasan Bukit Soeharto, Jalan Pantai Tanah Merah Samboja Terpaksa Diperbaiki Swadaya
Menurut Yulia, masih banyak orang tua yang terlalu fokus melatih kemampuan akademik, tetapi lupa membangun kemandirian anak. Akibatnya, tidak sedikit anak yang sudah mampu membaca buku cerita atau menghitung hingga ratusan, tetapi masih kesulitan melakukan aktivitas sederhana secara mandiri.
"Anak sudah mampu membaca buku cerita, tetapi belum bisa memakai sepatu sendiri. Sudah bisa menghitung sampai seratus, tetapi belum mampu merapikan tas. Sudah hafal perkalian sederhana, tetapi tidak mampu meminta izin kepada guru ketika ingin ke toilet. Padahal di SD, guru mengajar puluhan anak sekaligus sehingga tidak mungkin mendampingi satu anak terus-menerus," jelasnya.
Dia menegaskan, kemampuan yang paling sulit dikejar setelah anak masuk SD bukanlah membaca, melainkan kematangan emosi. Sebab, kemampuan membaca masih dapat dipelajari melalui latihan yang konsisten.
Baca Juga: Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Tak Naik hingga September 2026
Sementara itu, kemampuan mengendalikan emosi, menerima kegagalan, bekerja sama, menyelesaikan konflik, hingga bertahan menghadapi tantangan membutuhkan proses perkembangan yang jauh lebih panjang.
Oleh sebab itu, orang tua perlu mengenali tanda-tanda sederhana bahwa anak telah siap bersekolah. Di antaranya mampu mengikuti instruksi dua hingga tiga tahap, dapat duduk fokus selama sekitar 20-30 menit, menyelesaikan tugas sederhana tanpa terus diingatkan.
Kemudian berpisah dengan orang tua tanpa tangisan berlebihan, berani bertanya saat mengalami kesulitan, mampu bermain bergantian dengan teman, hingga mengurus kebutuhan pribadi seperti makan, memakai sepatu, dan pergi ke toilet secara mandiri.
Sebaliknya, anak yang sudah lancar membaca tetapi masih sering tantrum, sulit mengikuti instruksi, atau tidak mampu berpisah dengan orang tua kemungkinan besar masih memerlukan waktu untuk memperkuat kesiapan sekolahnya.
"Sekolah dasar tidak hanya menuntut kemampuan akademik, tetapi juga kemampuan mengelola diri. Anak akan menghadapi aturan, jadwal belajar, tugas, guru, teman sebaya, hingga berbagai situasi sosial yang menuntut pengendalian emosi," paparnya.
Yulia menambahkan, kesiapan anak memasuki SD sesungguhnya mulai dibangun sejak lahir melalui pola asuh di rumah. Orang tua yang memberi kesempatan anak belajar mandiri, bertanggung jawab, bermain bersama teman, menyelesaikan masalah sederhana, dan mengenalkan aturan secara konsisten akan membantu anak lebih siap menghadapi dunia sekolah.
Peran PAUD maupun taman kanak-kanak juga penting karena menjadi tempat anak belajar bersosialisasi, bergiliran, mengikuti instruksi, mengelola emosi, serta mengenal rutinitas belajar.
Baca Juga: Rekomendasi 10 Film Aksi Mirip 'John Wick' bagi Penggemar Sinema Baku Hantam
"Pesan saya kepada para orang tua, jangan terburu-buru mengejar anak agar cepat masuk SD. Yang perlu kita kejar bukanlah usia masuk sekolah, tetapi kesiapan anak untuk menikmati proses belajarnya. Anak yang siap akan lebih mudah berkembang, lebih percaya diri, dan lebih bahagia menjalani masa sekolahnya.
Karena pada akhirnya, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat anak lebih cepat, melainkan membantu mereka tumbuh secara utuh, cerdas secara intelektual, matang secara emosi, dan sehat secara sosial," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo