Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kisah Inspirasi Dr Ir Isradi Zainal, Satukan Dunia Industri dan Kampus

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 4 Juli 2026 | 22:11 WIB
TERUS BELAJAR: Di tengah padatnya aktivitas, Isradi Zainal tetap meluangkan waktu membaca referensi, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, serta memperbarui wawasan sebagai bagian dari komitmennya terhadap pembelajaran sepanjang hayat. FUAD MUHAMMAD/KP
TERUS BELAJAR: Di tengah padatnya aktivitas, Isradi Zainal tetap meluangkan waktu membaca referensi, mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, serta memperbarui wawasan sebagai bagian dari komitmennya terhadap pembelajaran sepanjang hayat. FUAD MUHAMMAD/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di balik ruang kerja Rektor Universitas Balikpapan, tersimpan perjalanan panjang yang tidak dimulai dari ruang kuliah ataupun meja birokrasi. Sebelum dikenal sebagai akademisi, Dr Ir Isradi Zainal lebih dulu menghabiskan puluhan tahun di lapangan.

Isradi terbiasa berada di galangan kapal, kawasan industri, proyek migas hingga perusahaan multinasional yang menuntut standar keselamatan dan kualitas kelas dunia. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya ketika dipercaya memimpin Universitas Balikpapan (Uniba).

Baginya, kampus tidak boleh menjadi menara gading yang hanya menghasilkan teori. Perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat, dunia usaha, hingga tantangan pembangunan nasional. "Saya meyakini kampus harus memberi dampak. Pendidikan harus menghasilkan lulusan yang sesuai kebutuhan masyarakat, bukan sekadar mencetak ijazah," kata Isradi.

Prinsip tersebut menjadi benang merah kepemimpinannya sejak menjabat Rektor Uniba periode 2021–2025. Berbagai kebijakan yang diambil selalu diarahkan pada satu tujuan, yakni mendekatkan dunia akademik dengan realitas industri.

Baca Juga: Ribuan Umat Doakan Indonesia di BSCC Dome Balikpapan, Ini Harapannya

Perjalanan Isradi sendiri menjadi cerminan dari filosofi tersebut. Menempuh pendidikan Sarjana Teknik Perkapalan di Universitas Hasanuddin, kehausan terhadap ilmu membuatnya tidak berhenti di satu bidang. Ia kemudian melanjutkan pendidikan Magister Teknik Mesin, Magister Manajemen, Magister Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Magister Hukum hingga menyelesaikan pendidikan doktoral.

Bahkan, ia juga meraih gelar Master of Business Administration (DESS) dari Université Pierre Mendès France di Grenoble, Prancis, setelah mempertahankan tesis dalam bahasa Prancis.

Perjalanan akademiknya tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Berbagai pelatihan profesional di Jepang, India, Swedia, Prancis, China hingga Australia memperkaya perspektifnya mengenai sistem manajemen mutu, keselamatan kerja, hingga inspeksi industri.

Bekal itulah yang kemudian membawanya dipercaya menjadi insinyur profesional, auditor berbagai standar internasional, ahli keselamatan kerja, sekaligus konsultan pada berbagai perusahaan nasional maupun multinasional.

Baca Juga: Gubernur Kaltim Resmikan Rumah Produksi Bersama Pakan Ternak di Kukar, Targetkan Harga Pakan Bisa Lebih Murah 30 Persen

"Saya bukan lahir dari akademisi murni. Saya lahir dari praktisi. Karena itu saya tahu apa yang dibutuhkan perusahaan dan apa yang harus dipersiapkan mahasiswa," ujarnya.

Pengalaman bekerja di lapangan selama hampir dua dekade menjadi pembeda dalam gaya kepemimpinannya. Ia pernah terlibat dalam berbagai proyek di sektor pelayaran, pertambangan, minyak dan gas, konstruksi hingga industri manufaktur. Mobilitas tinggi membuatnya terbiasa bekerja lintas negara, mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Papua Nugini hingga berbagai negara lainnya.

Ketika akhirnya memasuki dunia pendidikan, pengalaman tersebut tidak ditinggalkan begitu saja. Sebaliknya, seluruh pengalaman industri justru dibawa masuk ke dalam kampus.

Menurutnya, mahasiswa harus memahami bagaimana teori diterapkan dalam praktik. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi juga individu yang memahami persoalan nyata. "Kami ingin mahasiswa bukan hanya pintar secara teori. Mereka harus punya kompetensi yang benar-benar dibutuhkan industri," katanya.

Pandangan tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai kebijakan akademik. Isradi mendorong dosen agar pembelajaran tidak berhenti pada buku teks. Mahasiswa didorong mengkaji studi kasus nyata, memahami perkembangan industri, serta mengikuti perubahan teknologi yang berlangsung sangat cepat.

Baginya, era digital telah mengubah cara belajar. Informasi kini tersedia tanpa batas. Mahasiswa dapat mengakses jurnal internasional, mengikuti kuliah daring dari universitas terbaik dunia, hingga mempelajari teknologi terbaru hanya melalui perangkat digital. Karena itu, peran dosen juga harus berubah.

Baca Juga: Wilujeng Sumping! Persib Bandung Resmi Boyong Ragnar Oratmangoen, Kontrak hingga 2029

"Sekarang mahasiswa bisa belajar dari mana saja. Tugas kampus adalah mengarahkan mereka agar mampu berpikir kritis, bukan hanya menghafal," jelasnya. Pendekatan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa masa depan pendidikan berada pada kemampuan membangun karakter sekaligus kompetensi. Tidak cukup hanya mencetak lulusan yang cerdas.

Menurut Isradi, integritas justru menjadi modal terbesar seseorang untuk bertahan dalam persaingan global. "Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa, kejujuran adalah kunci sukses. Orang yang jujur akan terus berkembang," pesannya.

Filosofi itu tidak lahir dari teori semata. Selama bertahun-tahun menjadi auditor dan inspektor, ia melihat banyak perusahaan lebih menghargai pekerja yang memiliki karakter kuat dibanding sekadar kemampuan teknis. Kemampuan dapat dipelajari. Namun karakter, disiplin dan integritas membutuhkan proses pembentukan yang jauh lebih panjang.

Baca Juga: “Simsalabim: Jadi Komisaris!”

Pandangan itu pula yang membuatnya aktif membangun berbagai organisasi profesi. Di tingkat nasional, Isradi pernah dipercaya sebagai Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa K3 Nasional (APJK3N), Deputi Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ketua PII Kalimantan Timur, Sekjen Forum Rektor Persatuan Insinyur Indonesia, hingga menjadi bagian dari Tim Ahli Transisi Ibu Kota Nusantara.

Jaringan profesional yang luas membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dengan pemerintah maupun dunia industri. Ia memanfaatkan posisi tersebut bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan memperluas kesempatan mahasiswa memperoleh pengalaman nyata.

"Kampus tidak boleh berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha, organisasi profesi dan masyarakat," tegasnya.

Hubungan yang dibangun selama puluhan tahun di dunia profesional menjadi salah satu modal penting bagi Uniba. Melalui jejaring tersebut, berbagai kementerian, lembaga negara, organisasi profesi hingga perusahaan nasional menjalin komunikasi dengan universitas yang dipimpinnya.

Isradi meyakini, keberhasilan perguruan tinggi pada masa depan tidak lagi hanya diukur dari jumlah mahasiswa atau gedung megah. Yang jauh lebih penting adalah seberapa besar kontribusi kampus terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.

Karena itu, ia selalu menekankan bahwa dosen harus menghasilkan penelitian yang aplikatif, sementara mahasiswa didorong terlibat dalam pengabdian masyarakat yang memberi solusi nyata. "Kampus harus hadir di tengah masyarakat. Kita tidak boleh hanya bicara teori," katanya.

Pandangan tersebut terasa selaras dengan perjalanan hidupnya. Ia pernah menjadi aktivis mahasiswa, profesional industri, pengusaha, auditor internasional hingga akademisi. Semua pengalaman itu membentuk satu kesimpulan sederhana.

Baca Juga: Kawal Bankeu 2025, Gubernur Kaltim dan Bupati Kutai Barat Tinjau Proyek Jalan Poros Asa–Juaq Asa

Menurutnya, keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh satu profesi tertentu, melainkan oleh kemauan untuk terus belajar. "Saya selalu belajar. Di mana pun berada, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari," ucapnya.

Semangat belajar itu pula yang membawanya menempuh pendidikan lintas disiplin hingga berbagai negara. Baginya, ilmu pengetahuan tidak mengenal batas wilayah. Karena itu, mahasiswa juga harus memiliki keberanian yang sama untuk terus berkembang.

Ia berharap lulusan perguruan tinggi Indonesia mampu bersaing bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga di panggung internasional. "Jangan pernah merasa minder. Kalau punya kompetensi, karakter dan kemauan belajar, kita bisa bersaing dengan siapa pun," tegasnya.

Bagi Isradi, dunia industri dan dunia pendidikan bukanlah dua ruang yang terpisah. Keduanya harus saling menguatkan. Kampus membutuhkan industri agar tetap relevan, sementara industri membutuhkan perguruan tinggi sebagai tempat lahirnya sumber daya manusia berkualitas.

Baca Juga: Puncak Harlah ke-34 Ponpes Assalam Arya Kemuning, Pemkab Kubar Apresiasi Kontribusi Nyata bagi Daerah

Di titik itulah, ia melihat perannya sebagai rektor. Bukan sekadar memimpin sebuah universitas, melainkan menjembatani dua dunia yang selama ini sering berjalan sendiri-sendiri.

Dari ruang kuliah hingga kawasan industri, dari laboratorium hingga proyek nasional, ia ingin memastikan bahwa pendidikan benar-benar melahirkan manfaat yang dirasakan masyarakat luas. "Kalau ilmu tidak memberi manfaat bagi masyarakat, berarti masih ada yang harus kita perbaiki. Itulah yang terus kami upayakan di Universitas Balikpapan," tuturnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#rektor universitas balikpapan #dunia usaha #pengembangan sdm #universitas balikpapan #Isradi Zainal