Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tak Sekadar Cetak Sarjana, Rektor Uniba Isradi Zainal Bongkar Strategi Siapkan SDM Penyangga IKN

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 4 Juli 2026 | 22:19 WIB
AKTIF MEMIMPIN: Rektor Universitas Balikpapan Dr Ir Isradi Zainal memulai aktivitas dengan berkoordinasi bersama jajaran pimpinan kampus. Baginya, kepemimpinan di perguruan tinggi harus mampu menghadirkan pendidikan yang selaras dengan kebutuhan dunia industri.
AKTIF MEMIMPIN: Rektor Universitas Balikpapan Dr Ir Isradi Zainal memulai aktivitas dengan berkoordinasi bersama jajaran pimpinan kampus. Baginya, kepemimpinan di perguruan tinggi harus mampu menghadirkan pendidikan yang selaras dengan kebutuhan dunia industri.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Ketika banyak perguruan tinggi berlomba membuka program studi baru demi menambah jumlah mahasiswa, Universitas Balikpapan (Uniba) justru memilih jalur berbeda. Di Uniba, arah pengembangan kampus tidak semata-mata mengejar pertumbuhan institusi, melainkan memastikan setiap program yang dibuka benar-benar menjawab kebutuhan pembangunan daerah dan nasional.

Bagi Isradi, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur menjadi momentum yang tidak boleh disia-siakan oleh perguruan tinggi. Kampus harus mampu membaca perubahan, menyiapkan sumber daya manusia, sekaligus menjadi bagian dari solusi atas berbagai tantangan pembangunan.

"Kampus berdampak artinya kampus harus menghasilkan lulusan yang sesuai kebutuhan masyarakat. Apa yang dibutuhkan daerah, itulah yang harus kita siapkan," ungkap Isradi. Prinsip itu menjadi pijakan dalam setiap langkah transformasi yang dilakukan sejak dirinya memimpin Uniba pada 2021.

Alih-alih mengikuti tren pendidikan tinggi secara umum, Uniba memilih melakukan pemetaan kebutuhan. Mulai dari sektor kesehatan, industri, pertambangan, lingkungan, hingga ekonomi hijau dipelajari untuk menentukan arah pengembangan program akademik.

Baca Juga: Kisah Inspirasi Dr Ir Isradi Zainal, Satukan Dunia Industri dan Kampus

Salah satu langkah strategis adalah menghadirkan Fakultas Kedokteran. Menurut Isradi, keputusan tersebut bukan sekadar menambah fakultas baru, tetapi lahir dari hasil analisis mengenai kebutuhan tenaga kesehatan di Kalimantan Timur yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan IKN.

Ia mengakui proses pembukaan Fakultas Kedokteran bukan perkara mudah. Berbagai persyaratan akademik, infrastruktur, hingga regulasi harus dipenuhi dalam waktu yang relatif singkat. Namun perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil.

"Kami melihat kebutuhan dokter di Kalimantan Timur masih sangat besar. Karena itu kami berjuang agar Fakultas Kedokteran bisa hadir dan memberi kontribusi bagi daerah," katanya.

Transformasi tidak berhenti di sana. Program studi lain juga mulai diarahkan agar memiliki karakteristik yang berbeda dibanding perguruan tinggi lain. Salah satunya melalui pengembangan konsep Green Management pada Program Magister Manajemen.

Baca Juga: Ribuan Umat Doakan Indonesia di BSCC Dome Balikpapan, Ini Harapannya

Menurut Isradi, perkembangan industri ke depan tidak lagi hanya berbicara mengenai keuntungan ekonomi. Perusahaan kini dituntut menerapkan prinsip keberlanjutan, efisiensi energi, pengelolaan lingkungan, hingga tata kelola yang bertanggung jawab.

Karena itu, mahasiswa harus diperkenalkan sejak awal dengan konsep manajemen yang relevan terhadap tantangan masa depan. "Kalau kita bicara lima sampai sepuluh tahun ke depan, perusahaan membutuhkan pemimpin yang memahami keberlanjutan. Itu yang kami siapkan," ungkapnya.

Pengalaman panjangnya sebagai praktisi industri menjadi modal penting dalam menyusun arah tersebut. Ia mengaku memahami perubahan kebutuhan perusahaan karena selama bertahun-tahun berkecimpung sebagai konsultan, auditor sistem manajemen, ahli keselamatan kerja, hingga insinyur profesional.

Pengalaman itu membuat kurikulum di Uniba lebih dekat dengan praktik lapangan. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga mempelajari bagaimana teori diterapkan dalam dunia kerja yang sesungguhnya. “Kami tidak ingin mahasiswa hanya memahami konsep. Mereka harus tahu bagaimana kondisi nyata di lapangan," sebutnya.

Perubahan juga terlihat dalam pendekatan pembelajaran. Menurut Isradi, era digital telah menghapus batas antara kampus besar dan kampus kecil. Akses terhadap ilmu pengetahuan kini tersedia bagi siapa saja yang memiliki kemauan belajar.

Karena itu, peran dosen ikut berubah. Dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, melainkan pembimbing yang membantu mahasiswa memilah informasi, berpikir kritis, dan menyelesaikan persoalan secara sistematis.

Baca Juga: Gubernur Kaltim Resmikan Rumah Produksi Bersama Pakan Ternak di Kukar, Targetkan Harga Pakan Bisa Lebih Murah 30 Persen

"Sekarang semua informasi tersedia. Yang penting bukan siapa yang paling banyak menghafal, tetapi siapa yang mampu membaca perubahan," tutur Isradi.

Di ruang-ruang kuliah, mahasiswa didorong memanfaatkan teknologi digital secara maksimal. Berbagai referensi internasional, jurnal ilmiah, hingga perkembangan teknologi terbaru menjadi bagian dari proses pembelajaran sehari-hari.

Isradi bahkan menilai perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi digital harus dipandang sebagai peluang, bukan ancaman. Karena itu, ia mendorong mahasiswa membangun kemampuan belajar mandiri. Menurutnya, dunia kerja saat ini berubah jauh lebih cepat dibanding perubahan kurikulum perguruan tinggi.

Lulusan yang mampu terus belajar akan lebih mudah beradaptasi dibanding mereka yang hanya mengandalkan pengetahuan saat kuliah. "Kami ingin mahasiswa memiliki kemampuan belajar sepanjang hayat. Dunia akan terus berubah," pesannya.

Baca Juga: Perbaikan Jalan Mahulu–Malinau Terus Berjalan, DPRD Mahulu Optimistis Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Transformasi kampus juga dilakukan melalui penguatan jejaring nasional maupun internasional. Sebagai tokoh yang aktif di berbagai organisasi profesi dan forum rektor, Isradi memanfaatkan jaringan tersebut untuk membuka peluang kolaborasi.

Hubungan kerja sama dibangun dengan berbagai kementerian, perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah daerah, hingga institusi luar negeri. Menurutnya, kolaborasi menjadi kebutuhan mutlak di era global. Tidak ada lagi perguruan tinggi yang mampu berkembang sendirian.

"Kami membangun jejaring karena mahasiswa membutuhkan pengalaman yang lebih luas daripada sekadar belajar di ruang kelas," ucapnya.

Keberadaan IKN semakin memperkuat posisi strategis tersebut. Uniba berupaya mengambil peran sebagai salah satu perguruan tinggi yang mendukung pembangunan ibu kota baru melalui pendidikan, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.

Isradi menilai pembangunan IKN bukan hanya proyek fisik, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia. Karena itu, perguruan tinggi harus menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Selain membuka program studi baru, Uniba juga mulai memperkuat bidang-bidang yang berkaitan dengan lingkungan, konstruksi hijau, keselamatan kerja, hingga manajemen pembangunan berkelanjutan.

Baca Juga: Puncak Harlah ke-34 Ponpes Assalam Arya Kemuning, Pemkab Kubar Apresiasi Kontribusi Nyata bagi Daerah

Seluruh pengembangan tersebut disusun agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan kawasan IKN. "Kami tidak ingin membuka program hanya karena sedang tren. Kami melihat apa yang benar-benar dibutuhkan Kalimantan Timur," bebernya.

Namun di balik seluruh transformasi itu, Isradi selalu mengingatkan bahwa keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah gedung atau program studi. Menurutnya, ukuran sesungguhnya adalah kualitas lulusan yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kompetensi, kemandirian, dan karakter. Mahasiswa didorong memiliki kemampuan profesional, tetapi juga dibiasakan berpikir sebagai calon pencipta lapangan kerja. Baginya, lulusan perguruan tinggi tidak boleh hanya bercita-cita menjadi pegawai.

Mereka juga harus memiliki keberanian membangun usaha, menciptakan inovasi, dan menghasilkan solusi bagi lingkungan sekitarnya. "Kami ingin lulusan siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan pekerjaan," tegas Isradi.

Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Kunjungi Ponpes Assalam di Kubar, Disambut Gubernur Kaltim dan Bupati Frederick Edwin

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan dunia kerja, Isradi meyakini hanya kampus yang mampu beradaptasi yang akan tetap relevan. Transformasi yang dilakukan Uniba bukanlah perubahan sesaat, melainkan fondasi jangka panjang agar perguruan tinggi mampu terus tumbuh bersama kebutuhan masyarakat.

Ia berharap, ketika mahasiswa meninggalkan bangku kuliah, mereka tidak hanya membawa ijazah, tetapi juga kemampuan untuk menghadapi tantangan global, membangun daerah, dan ikut mengambil bagian dalam perjalanan Kalimantan Timur sebagai pusat pertumbuhan baru Indonesia.

"Kalau kampus mampu melahirkan lulusan yang kompeten, mandiri, dan berkarakter, maka manfaatnya tidak hanya dirasakan mahasiswa, tetapi juga masyarakat, dunia usaha, dan bangsa. Itulah makna kampus yang benar-benar berdampak," tegasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Transformasi Uniba #Fakultas Kedokteran Uniba #Rektor Uniba #universitas balikpapan #Isradi Zainal