Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Dari Anak Kampung hingga Rektor Uniba, Isradi Zainal Bongkar Rahasia Menembus Batas Kesuksesan

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 4 Juli 2026 | 22:27 WIB
SEJAHTERA: Dukungan positif dari keluarga membuat Isradi Zainal terus bersemangat untuk menginspirasi lingkungan sekitar. IST/KP
SEJAHTERA: Dukungan positif dari keluarga membuat Isradi Zainal terus bersemangat untuk menginspirasi lingkungan sekitar. IST/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Setiap orang memiliki titik balik yang mengubah arah hidupnya. Bagi Dr. Ir. Isradi Zainal, perjalanan itu tidak lahir dari satu momen besar, melainkan dari rangkaian keputusan untuk terus belajar, bekerja lebih keras dan tidak pernah berhenti memperluas wawasan.

Dari kampung halaman di Sulawesi Selatan hingga berbagai negara di Asia, Eropa, dan Australia, perjalanan tersebut membentuk sosok akademisi sekaligus praktisi yang percaya bahwa kesuksesan bukanlah tujuan akhir, melainkan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin.

Di balik berbagai jabatan yang kini disandangnya sebagai akademisi, insinyur profesional, auditor, hingga Rektor Universitas Balikpapan, tersimpan kisah sederhana tentang seorang anak yang sejak kecil dibiasakan hidup disiplin.

Kebiasaan bangun sebelum subuh, menjaga waktu, dan menghargai proses menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya. Nilai-nilai tersebut terus melekat hingga sekarang, bahkan di tengah padatnya aktivitas memimpin perguruan tinggi sekaligus menjalankan berbagai peran profesional.

Baca Juga: Tak Sekadar Cetak Sarjana, Rektor Uniba Isradi Zainal Bongkar Strategi Siapkan SDM Penyangga IKN

"Saya sejak SMP sudah terbiasa bangun sekitar pukul empat pagi. Setelah salat subuh biasanya sekalian olahraga. Kebiasaan itu masih saya lakukan sampai sekarang," tuturnya.

Baginya, disiplin bukan hanya soal ketepatan waktu, tetapi juga kemampuan menjaga komitmen terhadap apa yang telah dimulai. Kebiasaan kecil itulah yang menurutnya menjadi fondasi untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih besar di kemudian hari.

Semangat belajar juga tumbuh sejak masa sekolah. Ketika sebagian orang menganggap penguasaan bahasa asing sebagai pelengkap, Isradi justru melihatnya sebagai jendela untuk memahami dunia.

Perkenalannya dengan bahasa Inggris bermula dari lingkungan tempat tinggalnya yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Ketertarikannya kemudian berkembang ketika memasuki bangku kuliah. Kesempatan bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) membuka akses terhadap budaya dan bahasa Jepang.

Baca Juga: Kisah Inspirasi Dr Ir Isradi Zainal, Satukan Dunia Industri dan Kampus

Tidak lama kemudian, ia memperoleh kesempatan mengikuti program yang berkaitan dengan Prancis hingga akhirnya melanjutkan studi dan meraih gelar magister di negara tersebut.

Selama berada di Prancis, ia bukan hanya belajar mengenai manajemen, tetapi juga mempertahankan tesis menggunakan bahasa Prancis. Pengalaman itu menjadi salah satu pencapaian yang menurutnya memperluas cara pandang terhadap pendidikan dan dunia profesional.

"Kalau kita menguasai bahasa asing, sebenarnya kita sedang membuka kesempatan yang jauh lebih luas. Ilmu pengetahuan dari berbagai negara menjadi lebih mudah dipahami," ujarnya.

Semangat tersebut kini ia tularkan kepada mahasiswa. Di Universitas Balikpapan, kemampuan berbahasa asing tidak lagi dipandang sebagai nilai tambah semata, melainkan sebagai bekal menghadapi persaingan global.

Ia bahkan mendorong mahasiswa untuk berani mempelajari lebih dari satu bahasa asing. Menurutnya, dunia kerja tidak lagi dibatasi oleh wilayah geografis. Kesempatan bisa datang dari mana saja, sehingga kemampuan berkomunikasi lintas budaya menjadi keunggulan tersendiri.

Namun perjalanan hidup Isradi tidak hanya diwarnai dunia akademik. Sebelum dikenal sebagai rektor, ia lebih dahulu mengembangkan karier sebagai praktisi industri. Pengalaman bekerja di perusahaan nasional maupun multinasional memberinya pemahaman mengenai bagaimana sebuah organisasi tumbuh, menghadapi risiko, dan mempertahankan kualitas.

Baca Juga: Kawal Bankeu 2025, Gubernur Kaltim dan Bupati Kutai Barat Tinjau Proyek Jalan Poros Asa–Juaq Asa

Di tengah perjalanan sebagai profesional, ia mulai memikirkan satu hal yang sederhana: bagaimana membangun kemandirian.

Ia mengaku pernah memiliki target-target finansial yang terus berubah seiring bertambahnya pengalaman. Dari sekadar ingin memperoleh penghasilan tetap, hingga akhirnya menyadari bahwa kemampuan dan kompetensi dapat menjadi modal untuk membangun usaha sendiri.

Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mendirikan perusahaan konsultan yang bergerak di bidang pelatihan, inspeksi teknik, keselamatan kerja, serta jasa profesional lainnya.

Usaha yang dirintis tidak langsung berkembang besar. Semua dimulai dari tim kecil, mengerjakan proyek demi proyek, hingga akhirnya dipercaya menangani berbagai pekerjaan di sektor industri. "Saya belajar bahwa kompetensi adalah modal utama. Kalau kita benar-benar menguasai bidang tertentu, pekerjaan akan datang dengan sendirinya."

Baca Juga: Ribuan Umat Doakan Indonesia di BSCC Dome Balikpapan, Ini Harapannya

Pengalaman sebagai pengusaha justru memperkaya cara pandangnya ketika memasuki dunia pendidikan. Ia memahami bahwa mahasiswa tidak cukup hanya dipersiapkan menjadi pencari kerja. Mereka juga harus memiliki keberanian menjadi pencipta lapangan kerja.

Karena itu, dalam setiap kesempatan bertemu mahasiswa, Isradi selalu menyisipkan pesan mengenai pentingnya jiwa kewirausahaan.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah membuka peluang yang jauh lebih luas dibanding beberapa dekade lalu. Bisnis tidak lagi selalu membutuhkan kantor besar atau modal yang sangat besar. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca peluang dan keberanian memulai.

"Saya selalu mengatakan kepada mahasiswa, jangan hanya berpikir bagaimana diterima bekerja. Mulailah berpikir bagaimana suatu hari nanti bisa membuka pekerjaan bagi orang lain," ucap Isriadi.

Pandangan tersebut lahir dari pengalaman pribadinya. Ia pernah merasakan bagaimana membangun usaha dari nol, menghadapi berbagai tantangan, hingga akhirnya mampu bertahan karena memiliki kompetensi yang jelas.

Meski aktif di dunia usaha, Isradi mengaku tidak pernah meninggalkan kebiasaannya untuk terus belajar. Di sela-sela kesibukan, ia gemar membaca berbagai isu yang sedang berkembang, mulai dari perkembangan industri, lingkungan, energi, hingga kebijakan publik.

Baca Juga: Puncak Harlah ke-34 Ponpes Assalam Arya Kemuning, Pemkab Kubar Apresiasi Kontribusi Nyata bagi Daerah

Topik-topik tersebut kemudian dipelajari lebih dalam menggunakan berbagai referensi, termasuk literatur berbahasa asing.

Menurutnya, teknologi digital telah mengubah cara seseorang memperoleh pengetahuan. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari mencari buku di perpustakaan, kini dapat diakses hanya dalam hitungan detik.

Namun kemudahan itu juga membawa tantangan. Ia melihat banyak generasi muda terlalu bergantung pada teknologi tanpa benar-benar memahami substansi dari informasi yang diperoleh.

Karena itu, ia selalu mengingatkan pentingnya berpikir kritis dan memahami konsep dasar sebelum memanfaatkan berbagai perangkat digital. "Teknologi membantu kita belajar lebih cepat, tetapi jangan sampai membuat kita berhenti berpikir," ujarnya.

Baca Juga: “Simsalabim: Jadi Komisaris!”

Di balik seluruh pencapaiannya, Isradi tetap percaya bahwa karakter merupakan faktor yang paling menentukan keberhasilan seseorang.

Baginya, kecerdasan intelektual memang penting. Kompetensi profesional juga harus dimiliki. Namun tanpa kejujuran, disiplin, dan integritas, semua itu tidak akan bertahan lama. Nilai tersebut selalu menjadi pesan penutup dalam setiap pertemuannya dengan mahasiswa.

Ia merangkumnya dalam tiga kata sederhana yang menjadi filosofi kepemimpinan sekaligus arah pendidikan di Universitas Balikpapan. Pertama, unggul. Setiap mahasiswa harus memiliki kompetensi yang mampu membuatnya bersaing di mana pun berada.

Kedua, inovatif. Dunia terus berubah sehingga kemampuan menciptakan gagasan baru menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Ketiga, berdampak. Ilmu yang dimiliki harus memberikan manfaat, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat.

Di atas semua itu, ia menambahkan satu nilai yang menurutnya menjadi fondasi dari seluruh pencapaian, yakni amanah. "Sehebat apa pun seseorang, kalau tidak punya karakter, kejujuran, dan disiplin, akan sulit mencapai kesuksesan yang sesungguhnya," tuturnya.

Pesan itu bukan sekadar teori yang diucapkan dari balik podium. Seluruh perjalanan hidup Isradi menunjukkan bahwa keberhasilan dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Baca Juga: Gubernur Kaltim Kunjungi Kubar: Kalau Ibu-Ibu Melahirkan Sekarang Lebih Memilih ke Rumah Sakit karena Akses Jalannya Sudah Terbangun

Dari seorang mahasiswa teknik yang aktif berorganisasi, praktisi industri yang bekerja lintas negara, pengusaha yang membangun usaha dari bawah, hingga memimpin sebuah universitas, semuanya berpangkal pada satu keyakinan bahwa belajar tidak pernah mengenal batas.

Bagi Isradi, gelar, jabatan, maupun penghargaan hanyalah bagian dari perjalanan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana setiap pengalaman dapat menjadi bekal untuk memberi manfaat bagi orang lain. Di situlah, menurutnya, makna sesungguhnya dari sebuah keberhasilan. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#rektor universitas balikpapan #Kisah Inspiratif Isradi Zainal #universitas balikpapan #uniba #Isradi Zainal