KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Perubahan zaman turut mengubah wajah perundungan di lingkungan pesantren. Jika dahulu hanya sebatas olok-olok antarsantri, kini bentuknya dinilai jauh lebih mengkhawatirkan karena sudah menyentuh penghinaan terhadap orang tua hingga unsur rasisme.
Salah satunya dirasakan Pengasuh Pondok Pesantren Bina Ul Muhajirin Penajam Paser Utara (PPU) Achmad Dzul Fikri Hadi Wijaya. Pengalaman hidupnya sejak kecil di pesantren membuatnya memahami perbedaan kondisi dulu dan sekarang.
"Kalau zaman saya dulu mungkin hanya olok-olokan atau istilah Jawanya gojlokan untuk melatih mental. Sekarang kata-katanya sudah enggak enak, sudah menyentuh orang tua, sudah rasis. Menurut saya memang tidak pantas karena zamannya sudah berbeda," bebernya.
Baca Juga: Platinum Hotel Balikpapan Luncurkan Highball & Bites, Paket Burger Premium Rp168 Ribu
Oleh sebab itu, pihaknya mulai menerapkan edukasi kepada santri baru sejak masa taaruf (penerimaan murid baru). Salah satu materi yang diberikan ialah batas penghormatan kepada guru agar tidak disalahartikan.
"Kita sampaikan batasannya. Taat kepada guru itu bagaimana. Bukan kemudian dibablasin semuanya sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.
Dia berkaca dari berbagai kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pesantren, di mana menurutnya tidak ada batasan dalam penghormatan tenaga pengajar yang kemudian disalahartikan ke hal yang lebih luas.
"Itu harus ada batasnya. Santri yang tidak tahu apa-apa harus nurut. Itu yang salah. Jadi kami memang edukasi itu ke para santri dan ke para ustaz-ustazah, kakak pendamping," sebut pria kelahiran 1989 itu.
Baca Juga: Better Food Better You, Menu Sehat Platinum Hotel Balikpapan yang Lezat dan Kaya Nutrisi
Mulai tahun ajaran 2026, Bina Ul Muhajirin juga menyiapkan sistem digital agar orang tua dapat memantau aktivitas anak selama mondok. Melalui kartu elektronik, kegiatan mulai absensi, aktivitas, transaksi di koperasi hingga catatan pelanggaran santri bisa diketahui wali santri.
"Semua kegiatan anak-anak bisa terpantau orang tua. Kalau ada pelanggaran juga langsung tercatat sehingga orang tua bisa ikut memantau dari rumah," jelasnya.
Program tersebut rencana akan bisa dirasakan manfaatnya mulai September nanti. Jadi program baru untuk mengantisipasi segala hal dan juga bentuk transparansi kepada orangtua santri.
Saat ini tercatat sekitar 150 santri yang mukim atau mondok. Dengan jenjang tsanawiyah setara SMP serta aliyah setara SMA. Dengan komposisi santri putra lebih banyak sekitar 90 orang.
Di tengah ratusan santri itu, ada pula beberapa anak usia sekolah dasar yang mondok. Mereka adalah anak-anak yang dirujuk melalui kerjasama dinas sosial setempat.
Fikri mengakui menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren saat ini bukan perkara mudah, terlebih setelah berbagai kasus yang mencuat ke publik.
"Menurut saya tantangannya luar biasa besar. Belum lagi fitnahnya juga luar biasa. Maka kami mencoba membangun sistem-sistem yang lebih baik, sementara jalur langitnya ya banyak berdoa supaya dijauhkan dari hal-hal tersebut," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo