Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Marak Kasus Kekerasan, Orang Tua Ini Tetap Percaya Pesantren: Kuncinya Selektif Memilih

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 18 Juli 2026 | 16:08 WIB
SELEKTIF: Memilih tempat pendidikan khususnya yang berbasis asrama seperti pondok pesantren harus dipilih secara selektif.
SELEKTIF: Memilih tempat pendidikan khususnya yang berbasis asrama seperti pondok pesantren harus dipilih secara selektif.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Maraknya kasus kekerasan seksual dan perundungan di lingkungan pondok pesantren tak lantas mengikis kepercayaan Tri Sugianto, terhadap pendidikan berbasis asrama.

Baginya, pesantren tetap menjadi tempat yang baik untuk membentuk karakter anak, asalkan orang tua cermat memilih lembaga pendidikan dan tidak asal menitipkan anak.

Kepercayaan itu lahir dari pengalaman pribadinya. Pria yang karib disapa Sugi itu menyebut jika sejak kecil tumbuh di lingkungan pesantren dan telah merasakan manfaat pendidikan berbasis keagamaan tersebut. Pengalaman itu pula yang membuatnya mempercayakan pendidikan ketiga anaknya di sekolah berkonsep pesantren.

Baca Juga: Ditunjuk Jadi Pilot Project, Bina Ul Muhajirin PPU Terapkan Konsep Pesantren Ramah Anak

Anak sulungnya telah lulus dari pesantren. Sementara putra keduanya kini duduk di kelas IX di sebuah boarding school berkonsep pesantren di Malang. Tahun ajaran ini, putri bungsunya yang baru lulus SD juga mulai menempuh pendidikan di sekolah yang sama.

Menurut Sugi, keputusan menyekolahkan anak ketiganya di tempat yang sama bukan tanpa alasan. Selain sudah mengenal sistem pendidikan dan pengasuhan di sekolah tersebut, ia juga merasa lebih tenang karena sang kakak dapat ikut mendampingi adiknya selama tinggal di asrama.

Meski santri tidak diperbolehkan membawa telepon genggam, hal itu tidak menjadi persoalan baginya. Sebab, pihak sekolah menyediakan jadwal komunikasi rutin antara santri dan orang tua setiap pekan. Selain itu, informasi mengenai kegiatan dan perkembangan anak juga disampaikan secara berkala kepada wali santri.

Baca Juga: Pesantren di PPU Siapkan Sistem Digital, Orang Tua Bisa Pantau Absensi hingga Pelanggaran Santri

"Kalau menurut saya, yang paling penting itu komunikasinya. Orang tua harus tahu bagaimana kondisi anaknya, seperti apa kegiatan di sekolah, dan kalau ada masalah bisa cepat disampaikan," ujar pria 45 tahun tersebut.

Di tengah maraknya kasus yang mencuat ke publik, Sugi menilai orang tua kini juga semakin kritis sebelum memilih pesantren. Menurutnya, keterbukaan informasi, sistem pengawasan, hingga komitmen sekolah dalam menjaga keamanan santri menjadi hal yang wajib dipertimbangkan.

Ia menegaskan, kasus yang terjadi di sejumlah pesantren tidak bisa dijadikan alasan untuk menggeneralisasi seluruh lembaga pendidikan berbasis pesantren.

"Bukan berarti karena ada beberapa kasus, lalu semua pesantren seperti itu. Orang tua juga harus selektif memilih, melihat bagaimana sistemnya, pengawasannya, dan keterbukaannya kepada wali santri," katanya.

Saat ini Sugi masih berada di Malang untuk memastikan putri bungsunya menjalani masa pengenalan lingkungan sekolah atau taaruf. Ia berharap pendidikan berbasis asrama tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar, sekaligus membentuk karakter dan kemandirian mereka. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
kasus kekerasan pesantren orang tua pilih pesantren pendidikan berbasis asrama Boarding School pendidikan pesantren