SAMARINDA – Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) terus memperkuat upaya pemulihan ekosistem mangrove di Kalimantan Timur (Kaltim). Namun, rehabilitasi mangrove dinilai memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dibandingkan rehabilitasi hutan daratan karena membutuhkan biaya besar, akses yang sulit, serta pendampingan berkelanjutan.
Manajer M4CR Provincial Project Implementation Unit (PPIU) Kaltim, Asman Aziz, mengatakan proses rehabilitasi mangrove tidak berhenti pada tahap penanaman.
Menurutnya, keberhasilan pemulihan sangat bergantung pada pemantauan dan perawatan setelah bibit ditanam.
"Mangrove sangat sensitif. Kalau setelah ditanam tidak dipantau, misalnya tanggul tambak jebol atau aliran air berubah, bibit yang sudah ditanam bisa hilang. Karena itu pendampingan harus dilakukan secara intensif," ujarnya, Jumat (31/7).
Baca Juga: Program M4CR Target Rehabilitasi 12 Ribu Hektare Mangrove di Kaltim hingga Akhir 2026
Ia menjelaskan, sebagian besar lokasi rehabilitasi berada di kawasan pesisir yang hanya dapat dijangkau menggunakan kapal cepat (speed boat). Kondisi tersebut membuat biaya operasional rehabilitasi mangrove jauh lebih besar dibandingkan penanaman di kawasan hutan daratan.
Selain itu, proses rehabilitasi juga memerlukan perencanaan yang matang, mulai dari penentuan lokasi, teknik penanaman yang sesuai dengan karakteristik pasang surut, hingga pemantauan rutin terhadap pertumbuhan bibit.
Untuk meningkatkan tingkat keberhasilan, M4CR menerapkan sistem pendampingan bagi kelompok masyarakat yang terlibat dalam rehabilitasi.
Setiap kelompok didampingi seorang fasilitator yang tidak hanya memberikan bimbingan teknis mengenai penanaman dan perawatan mangrove, tetapi juga membantu masyarakat dalam memenuhi administrasi program yang dibiayai melalui anggaran negara.
Asman mengungkapkan, kerusakan mangrove tidak hanya terjadi di kawasan budidaya seperti tambak, tetapi juga ditemukan di sejumlah kawasan konservasi.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlindungan kawasan konservasi masih menghadapi berbagai tantangan sehingga membutuhkan perhatian lebih serius.
Karena itu, ia menilai upaya rehabilitasi tidak dapat hanya mengandalkan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Kalau hanya mengandalkan APBN, proses rehabilitasi akan sangat lama karena kebutuhan anggarannya cukup besar. Dibutuhkan dukungan berbagai pihak agar rehabilitasi bisa berjalan lebih cepat dan berkelanjutan," tegasnya.
M4CR berharap keterlibatan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, hingga berbagai pemangku kepentingan dapat mempercepat pemulihan ekosistem mangrove di Kalimantan Timur sekaligus memperkuat ketahanan kawasan pesisir terhadap abrasi, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan.
Editor : Muhammad Ridhuan