Punya Lima Anak, Ibu Ini Pilih Banyak Ngobrol agar Anak Tak Terjerumus Pergaulan Bebas

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 15:00 WIB
NGOBROL: Orang tua diharapkan membangun kedekatan dengan anak, sehingga anak merasa didengar dan ketika ada masalah akan cerita ke orangtua, tidak langsung mencari jawaban dari orang lain.
NGOBROL: Orang tua diharapkan membangun kedekatan dengan anak, sehingga anak merasa didengar dan ketika ada masalah akan cerita ke orangtua, tidak langsung mencari jawaban dari orang lain.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di tengah maraknya kasus remaja yang terlibat tawuran, menganiaya guru hingga penyalahgunaan rokok dan minuman keras, kekhawatiran juga dirasakan para orang tua. Salah satunya Suriyanti, ibu lima anak yang kini tengah mendampingi putra bungsunya memasuki masa remaja.

Anak kelimanya yang baru berusia 16 tahun dan duduk di bangku SMA menjadi perhatian lebih. Apalagi, menurutnya, usia remaja merupakan masa yang paling rentan dipengaruhi lingkungan pergaulan.

Meski zaman terus berubah, perempuan yang dipanggil Anti itu mengaku tidak banyak mengubah prinsip pengasuhan yang diterapkannya sejak anak pertama hingga anak kelima. Baginya, nilai sopan santun, tanggung jawab, dan komunikasi tetap menjadi pondasi utama.

Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Cair Lagi di Bulan Agustus, Cek Nominal yang Masuk Rekening!

"Didikannya sebenarnya sama dari dulu. Nilai-nilai yang diajarkan juga tetap sama, hanya cara menyampaikannya yang mengikuti usia anak," ujarnya kepada Kaltim Post. Anti mengakui anak bungsunya memang sedikit lebih dimanja dibanding kakak-kakaknya.

Namun, hal itu tidak membuatnya mengurangi kedisiplinan. Justru, keempat kakaknya ikut berperan mengawasi sekaligus menjadi teladan bagi adiknya yang menjadi satu-satunya anak laki-laki di keluarga.

"Karena jarak usianya lumayan jauh, kakak-kakaknya juga ikut mendidik. Kalau ada yang kurang pas, mereka ikut mengingatkan," katanya.

Hingga kini, ia bersyukur putranya belum mengenal rokok. Lingkungan pertemanannya pun dinilai masih positif meski sang anak cukup sering berkumpul bersama teman-temannya.

Baca Juga: BKPSDM Siapkan Skema Pengisian Jabatan Kosong, Pelantikan Lima Pejabat Hasil Selter Dijadwalkan Awal September

"Namanya anak SMA pasti suka nongkrong. Tapi sejauh ini masih dalam batas wajar dan saya tahu dengan siapa dia berteman," tutur perempuan kelahiran 1971 itu.

Meski begitu, rasa khawatir sebagai orang tua tetap tidak pernah hilang. Apalagi berbagai informasi mengenai kenakalan remaja kini hampir setiap hari muncul di media sosial maupun pemberitaan.

Oleh sebab itu, Anti memilih terus membangun komunikasi dengan anaknya. Ia mengaku rutin mengingatkan putranya agar tidak mudah ikut-ikutan pergaulan yang salah dan berani berkata tidak terhadap ajakan yang merugikan.

"Saya memang sering menasihati dia. Bukan berarti mengekang, tapi mengingatkan mana yang baik dan mana yang tidak," ucapnya. Di sisi lain, Anti mengaku dirinya bukan termasuk orang yang gemar bermain gawai. Ia lebih memilih berinteraksi langsung dengan keluarga dibanding menghabiskan waktu menatap layar ponsel.

Menurutnya, kehadiran orang tua di rumah menjadi salah satu cara sederhana untuk menjaga kedekatan dengan anak sehingga mereka tidak sungkan bercerita ketika menghadapi persoalan. "Yang penting anak merasa didengar. Jadi kalau ada masalah, dia cerita ke rumah dulu, bukan mencari jawaban dari orang lain," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
parenting remaja cara mendidik anak remaja komunikasi orang tua dan anak pergaulan remaja kenakalan remaja