KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Ramainya kasus remaja yang melakukan kekerasan memunculkan anggapan bahwa pola didik orang tua saat ini terlalu lembut. Banyak yang membandingkannya dengan pola asuh zaman dulu yang dikenal keras dan dianggap mampu membentuk anak lebih disiplin.
Namun, Psikolog Klinis Siloam Hospital Balikpapan Patria Rahmawaty menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, tidak ada pola asuh yang mutlak paling tepat karena setiap keluarga memiliki kondisi berbeda. Yang terpenting adalah kemampuan orang tua menempatkan sikap sesuai situasi.
"Parenting zaman dulu tidak semuanya jelek. Tapi yang perlu dipahami, ketegasan berbeda dengan kekerasan. Ketegasan tetap diperlukan untuk membangun disiplin, tetapi bukan dengan tindakan fisik," kata dia kepada Kaltim Post.
Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Cair Lagi di Bulan Agustus, Cek Nominal yang Masuk Rekening!
Perempuan yang karib disapa Rahma itu menjelaskan, orang tua tetap perlu menetapkan aturan yang jelas kepada anak. Namun, aturan tersebut harus dibangun melalui komunikasi, bukan rasa takut. Ia mencontohkan, orang tua boleh membatasi jam pulang anak atau membuat aturan lain, tetapi tetap disertai penjelasan dan dialog.
"Anak diajak berkomunikasi. Setelah itu orang tua memberikan kepercayaan sambil tetap mengawasi. Jadi bukan dilepas begitu saja," lanjut akademisi Politeknik Negeri Balikpapan tersebut.
Rahma juga menilai salah satu persoalan terbesar saat ini adalah minimnya komunikasi dalam keluarga. Banyak orang tua hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional. "Anak sebenarnya tidak membutuhkan orang tua yang sempurna. Mereka butuh orang tua yang mau mendengarkan tanpa langsung menghakimi," ucapnya.
Ia menyarankan agar orang tua membiasakan anak bercerita sejak dini. Bahkan komunikasi sederhana melalui telepon atau pesan singkat saat orang tua bekerja dinilai sudah mampu memperkuat hubungan emosional.
Baca Juga: Waktunya Liburan! Agustus 2026 Punya 2 Hari Libur Nasional, Potensi Long Weekend, Cek Jadwalnya
"Enggak harus menunggu momen khusus. Cukup bertanya bagaimana harinya, lalu katakan nanti kita cerita di rumah. Hal sederhana seperti itu membangun bonding," paparnya.
Ketika anak melakukan kesalahan, Rahma mengingatkan agar orang tua tidak langsung memotong pembicaraan atau menyalahkan. "Dengarkan sampai selesai. Setelah itu sampaikan, terima kasih sudah jujur, tetapi kamu sadar enggak kalau tindakan itu salah. Jadi anak belajar bertanggung jawab, bukan takut," tuturnya.
Selain komunikasi, keselarasan ayah dan ibu dalam menerapkan aturan juga menjadi faktor penting. Menurutnya, perbedaan sikap orang tua justru membuat anak bingung dan mencari kenyamanan di luar rumah.
"Kalau ayah dan ibu tidak sinkron, anak akhirnya mencari tempat yang nyaman, biasanya ke teman. Padahal belum tentu lingkungan pertemanannya baik," sambungnya.
Rahma menegaskan, komunikasi yang konsisten, kehadiran emosional orang tua, dan kualitas hubungan dalam keluarga menjadi benteng utama agar anak tidak mudah terpengaruh lingkungan maupun konten negatif di media sosial. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo