Kasus Kekerasan Siswa Jadi Sorotan, Iim Rahman Dorong Parenting Berkelanjutan di Sekolah

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 15:49 WIB
PANUTAN: Iim bercengkrama dengan peserta didik saat mengajar di PAUD Qurrota A’yun Balikpapan Tengah.
PANUTAN: Iim bercengkrama dengan peserta didik saat mengajar di PAUD Qurrota A’yun Balikpapan Tengah.
 
KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Viralnya kasus murid yang menganiaya guru usai ditegur karena merokok di Balikpapan menjadi perhatian berbagai pihak. Anggota DPRD Balikpapan Komisi IV Iim Rahman menilai peristiwa tersebut tidak bisa dipandang semata sebagai tindakan kenakalan remaja, melainkan harus dilihat dari akar persoalan yang melatarbelakanginya, terutama kondisi keluarga dan pembentukan karakter anak.

Menurut Iim, sekolah memang memiliki tugas mentransfer ilmu pengetahuan, namun pendidikan karakter dan adab tidak boleh dikesampingkan. Di tengah kemajuan teknologi yang memudahkan siswa memperoleh informasi dari berbagai sumber, termasuk kecerdasan buatan, peran guru dalam membentuk kepribadian tetap tidak tergantikan.

"Guru memang mentransfer ilmu, tetapi jangan lupa yang paling penting juga adalah menanamkan adab dan karakter. Ilmu sekarang bisa dipelajari dari mana saja, bahkan dari ChatGPT. Tetapi adab hanya bisa dipelajari melalui interaksi antarmanusia," kata Iim kepada Kaltim Post.

Baca Juga: Dari Wedang Jahe hingga Teh Semangka, Menu Minuman Bertema Kemerdekaan Hadir di Yello Hotel

Ia menegaskan tujuan utama pendidikan bukan hanya meningkatkan kemampuan akademik, melainkan mengubah karakter peserta didik menjadi pribadi yang lebih baik. "Kalau akademik bisa belajar di mana saja, tetapi adab itu harus dipelajari melalui hubungan manusia dengan manusia. Itu yang tidak boleh hilang," ujarnya.

Di sisi lain, Lim menilai perilaku menyimpang seperti merokok di sekolah hingga berujung pada tindakan kekerasan tidak muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, setiap perilaku anak selalu memiliki latar belakang yang perlu dipahami secara utuh.

"Saya yakin apa yang terjadi sekarang tidak terjadi begitu saja. Tidak ujug-ujug. Pasti ada penyebab yang melatarbelakanginya, ada trauma atau persoalan yang dialami sebelumnya," ucapnya.

Karena itu, ia mengingatkan para pendidik agar tidak terburu-buru memberikan cap negatif kepada siswa yang bermasalah. Pendekatan yang lebih manusiawi dinilai jauh lebih efektif dibanding sekadar memberikan hukuman.

Baca Juga: Gaji Pensiunan PNS Cair Lagi di Bulan Agustus, Cek Nominal yang Masuk Rekening!

"Kalau ada murid yang dianggap nakal, jangan langsung dihakimi. Rangkul dulu, ajak bicara, cari tahu penyebabnya. Anak-anak itu sebenarnya tidak nakal begitu saja. Selalu ada alasan di balik perilakunya," katanya.

Iim meyakini banyak persoalan perilaku anak berakar dari lingkungan keluarga. Oleh sebab itu, penguatan ketahanan keluarga menjadi fondasi penting dalam mencegah berbagai bentuk kenakalan remaja. "Biasanya persoalan itu bermula dari rumah. Karena itu yang harus diperkuat lebih dulu adalah keluarga," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan pengasuhan atau parenting bagi orang tua. Menurutnya, program parenting selama ini lebih banyak ditemui di jenjang taman kanak-kanak, sedangkan setelah anak memasuki sekolah dasar hingga sekolah menengah justru semakin jarang dilakukan.

Padahal, lanjut Iim, tantangan mendidik anak terus berubah seiring bertambahnya usia sehingga orang tua tetap membutuhkan pendampingan. "Belajar menjadi orang tua itu juga proses sepanjang hayat. Cara mendidik anak laki-laki dan perempuan berbeda. Semua itu perlu dipelajari melalui parenting," ucapnya.

Sebagai anggota Komisi IV DPRD Balikpapan yang membidangi pendidikan, Iim mengatakan pihaknya akan terus mendorong agar program parenting dapat diterapkan secara berkelanjutan di seluruh jenjang pendidikan, mulai SD, SMP hingga SMA.

Menurutnya, setiap fase pertumbuhan anak memiliki tantangan berbeda sehingga orang tua membutuhkan bekal pengetahuan yang terus diperbarui.

"SMP adalah masa peralihan dari anak menuju remaja, SMA juga punya tantangan yang berbeda lagi. Karena itu kami berharap parenting tidak berhenti hanya di TK, tetapi terus ada di setiap jenjang pendidikan agar orang tua dan sekolah bisa bersama-sama membentuk karakter anak," tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
parenting sekolah kekerasan siswa Balikpapan pola asuh orang tua Iim Rahman DPRD Balikpapan Pendidikan Karakter Anak