Ada Babi Berjenggot, Satwa Nomaden Penghuni Hutan Kalimantan yang Kini Terancam Punah

Ari Arief • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 16:45 WIB
BERJENGGOT: Foto babi berjenggot dokumentasi milik rekoforest.org.(IST)
BERJENGGOT: Foto babi berjenggot dokumentasi milik rekoforest.org.(IST)

 

KALTIMPOST.ID,KALTIM-Kalimantan tidak hanya menjadi rumah bagi oranye-nya orangutan atau pesut Mahakam, tetapi juga bagi salah satu mamalia liar paling unik di Asia Tenggara: babi berjenggot (Sus barbatus). Memiliki sejarah evolusi yang panjang, keberadaan satwa nomaden ini kini menjadi perhatian karena populasi alaminya yang terus menyusut.

Secara taksonomi, babi berjenggot terbagi menjadi dua subspesies. Subspesies Sus barbatus mendiami kawasan Kalimantan hingga Kepulauan Palawan dan Sulu di Filipina. Sementara saudaranya, Sus barbatus oi, tersebar di Semenanjung Malaysia, Sumatera, Bangka, hingga Kepulauan Riau.

Satwa ini memiliki daya adaptasi yang sangat tinggi. Mereka dapat ditemukan di berbagai lanskap, mulai dari hutan hujan dataran rendah, kawasan mangrove pesisir, hingga hutan pegunungan di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut.

Fisik Unik dan Perilaku Nomaden

Dibandingkan dengan jenis babi liar lainnya yang masih hidup saat ini, babi berjenggot dinobatkan sebagai pemilik kepala paling panjang dan bentuk tubuh paling ramping.

Sesuai namanya, ciri khas utamanya adalah rumbai rambut kaku menyerupai janggut di rahang bawah, dua pasang kutil di wajah, serta ekor unik yang menyerupai ekor gajah.

Ciri Fisik dan Ukuran:

Bobot Dewasa: Umumnya 50–120 kg (dapat melonjak hingga >200 kg saat musim melimpahnya buah hutan).

Anak Babi: Lahir dengan corak garis-garis pucat sebagai kamuflase, yang akan memudar saat berusia 5 minggu.

Babi berjenggot bersifat omnivora oportunistik. Menggunakan moncongnya yang sensitif, mereka menggali tanah untuk mencari cacing, akar, serangga, hingga buah-buahan yang jatuh dari pohon. Satwa ini juga dikenal dengan kebiasaannya membangun sarang seluas dua meter persegi dari patahan anak pohon serta rutin berkubang di lumpur untuk mendinginkan suhu tubuh.

Gaya hidup mereka sangat dinamis (nomaden). Kawanan babi berjenggot kerap melakukan perjalanan migrasi jarak jauh di malam hari—dipimpin oleh pejantan tua—hanya untuk melacak siklus berbuahnya pohon dipterokarpa dan tengkawang.

Reproduksi dan Status Konservasi

Babi betina mencapai kematangan reproduksi pada usia 10–18 bulan. Dengan masa kehamilan sekitar empat bulan, induk dapat melahirkan 2 hingga 12 ekor anak dalam satu siklus kelahiran. Sang induk dikenal sangat agresif melindungi anak-anaknya di dalam sarang besar dari tumpukan dedaunan selama minggu-minggu pertama.

Sayangnya, keberadaan spesies unik ini berada di bawah bayang-bayang kepunahan. Badan Konservasi Dunia (IUCN) telah menetapkan babi berjenggot dalam status Rentan (Vulnerable). Populasinya tercatat merosot tajam hingga 30 persen selama tiga generasi terakhir.

Ancaman utama keberlangsungan hidup satwa ini dipicu oleh maraknya perburuan liar serta masifnya alih fungsi hutan yang menggerus habitat alami mereka.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
babi berjenggot kalimantan punah