Karhutla Bukan Sekadar Kebakaran, Asap hingga Heat Stress Ancam Kesehatan Warga

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 19:26 WIB
TERPAPAR: Partikulat halus seperti PM2.5 dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru dan jantung. (Rama Sihotang/KP)
TERPAPAR: Partikulat halus seperti PM2.5 dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit paru dan jantung. (Ilustrasi-Rama Sihotang/KP)

SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak berhenti pada persoalan api dan kerusakan lingkungan. Ketika kebakaran terjadi, masyarakat juga menghadapi rangkaian risiko lain, mulai dari paparan asap, panas ekstrem, kekeringan hingga menurunnya jarak pandang.

Dosen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Mulawarman, Dr. Ida Ayu Indira Dwika Lestari, menyebut karhutla perlu dipandang sebagai kondisi kedaruratan multi-bahaya atau multi-hazard emergency.

“Karhutla sering kali hanya diasosiasikan dengan kebakaran hutan dan kerusakan lingkungan. Padahal, dari perspektif K3 dan kesehatan masyarakat, karhutla merupakan sebuah situasi kedaruratan multi-bahaya atau multi-hazard emergency,” ujarnya.

Menurut Ida, ancaman pertama memang berasal dari api. Namun, saat kebakaran berlangsung, asap menjadi persoalan lain yang tidak kalah serius. Asap karhutla membawa partikulat halus, terutama PM2.5, serta berbagai polutan yang dapat terhirup masyarakat.

Baca Juga: Asap Karhutla Mulai Kepung Permukiman Pendingin-Sangasanga, Warga Diminta Waspada

Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparan dalam kondisi tertentu berpotensi meningkatkan keluhan pernapasan, memperburuk asma dan penyakit paru, sekaligus menambah beban bagi masyarakat dengan gangguan kardiovaskular.

Kelompok Rentan

Risiko tersebut tidak dirasakan secara sama oleh seluruh masyarakat. Anak-anak, lansia, ibu hamil serta warga dengan penyakit pernapasan dan jantung menjadi kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk.

Ancaman semakin kompleks ketika karhutla terjadi bersamaan dengan kekeringan dan suhu tinggi. Kekeringan berkepanjangan dapat memengaruhi ketersediaan sekaligus kualitas air bersih.

Di sisi lain, masyarakat maupun pekerja yang tetap beraktivitas di luar ruangan harus menghadapi kombinasi suhu tinggi, radiasi panas, aktivitas fisik dan paparan asap.

“Kondisi tersebut meningkatkan risiko dehidrasi, heat exhaustion, heat stress, hingga penurunan kapasitas kerja,” kata Ida.

Dampak karhutla juga dapat meluas ke sektor transportasi. Asap yang menurunkan jarak pandang berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan, baik di jalur darat, sungai maupun udara.

Karena itu, Ida menilai karhutla tidak dapat ditempatkan semata sebagai persoalan pemadaman api. Dampaknya bersinggungan langsung dengan kesehatan masyarakat, keselamatan, produktivitas hingga aktivitas sosial ekonomi.

Data Kualitas Udara Jadi Acuan

Menurut Ida, pemerintah perlu menempatkan perlindungan masyarakat sebagai bagian dari sistem pengendalian risiko. Ketika indikator bahaya meningkat, langkah perlindungan masyarakat harus berjalan beriringan dengan penanganan kebakaran.

Salah satu yang penting ialah pemanfaatan data kualitas udara. Informasi mengenai PM2.5 dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) perlu diterjemahkan menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat.

Bukan hanya menunjukkan angka kualitas udara, informasi tersebut juga perlu menjelaskan tindakan yang harus dilakukan ketika kualitas udara memburuk, termasuk kelompok masyarakat yang perlu mendapat perhatian khusus.

Ida merangkum sedikitnya tiga pesan utama yang perlu terus disampaikan kepada masyarakat selama menghadapi ancaman karhutla.

“Masyarakat perlu memahami setidaknya tiga pesan utama yakni hindari sumber api, segera laporkan indikasi kebakaran, dan lindungi diri dari paparan asap,” ujarnya.

Ketika kualitas udara memburuk, kelompok rentan perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengikuti informasi resmi. Perlindungan pernapasan juga menjadi penting apabila paparan asap tidak dapat dihindari.

Sementara di wilayah yang mengalami kekeringan, masyarakat perlu ikut menjaga sumber air dan melaporkan kondisi kekurangan air sejak dini.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar penanganan karhutla tidak hanya berorientasi pada bagaimana api dipadamkan. Sebab, ketika kebakaran berkembang, dampaknya dapat bergerak jauh melampaui kawasan yang terbakar.

“Ketika berbicara mengenai karhutla, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai interaksi antara keselamatan, kesehatan masyarakat, lingkungan, produktivitas, dan keberlangsungan aktivitas sosial ekonomi,” pungkasnya.

 

Editor : Muhammad Ridhuan
heat stress karhutla Kaltim dampak karhutla asap PM2.5 kesehatan masyarakat