Bukan Cuma Belajar, Siswa SD Sekolah Rakyat Samarinda Dilatih Hidup Mandiri

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:45 WIB
Kepala SD Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Pahrijal
Kepala SD Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Pahrijal

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Hari-hari pertama di asrama Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda menjadi fase paling sibuk bagi para pengasuh. Bukan soal pelajaran sekolah, melainkan hal-hal sederhana yang selama ini belum tentu dilakukan siswa sendiri di rumah.

Mulai merapikan tempat tidur, menjaga kebersihan kamar, mencuci pakaian hingga mengatur waktu tidur menjadi bagian dari pembiasaan awal siswa SD.

Kepala SD Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Pahrijal mengatakan, program tersebut sengaja diberikan karena para siswa datang dengan latar belakang kebiasaan yang berbeda.

“Program kami selama satu minggu ini adalah mengajarkan anak-anak teknik-teknik dasar di asrama, keterampilan-keterampilan dasar di asrama. Jadi ini posisinya sudah sekolah permanen, sebelumnya rintisan. Jadi ini sudah gedung sendiri dan di sini belum ada 3 minggu,” kata Pahrijal ditemui Kamis (20/8) di Sekolah Terintegrasi 2 Samarinda, Jl Stadion Utama Palaran.

Baca Juga: Usia 14 Tahun Baru Masuk SD, Sekolah Rakyat Terapkan Sistem Multi Entry Multi Exit

Menurut dia, sebagian siswa bahkan belum terbiasa memiliki perlengkapan pribadi seperti kasur dan bantal. Sehingga, pengasuh tidak bisa langsung menerapkan disiplin secara ketat. Anak-anak harus dibiasakan secara bertahap.

Pada pekan pertama, petugas kebersihan masih harus membantu merapikan kamar siswa. Namun, wali asuh diberi target agar kebiasaan tersebut secara bertahap menjadi tanggung jawab anak. “Kebiasaan-kebiasaan merapikan tempat tidur, kebersihan di asrama, kebersihan saat mandi, cuci pakaian itu sudah harus clear dalam 30 hari,” ujarnya.

Persoalan lain muncul pada pola istirahat. Pada awal masuk asrama, sejumlah anak masih terbiasa bermain hingga larut malam. Oleh sebab itu, wali asuh mulai memperketat jadwal tidur.

Pahrijal menyebut, anak-anak mulai diarahkan tidur pukul 22.00 Wita. Jika belum siap tidur, wali asuh melakukan pendekatan yang lebih tegas. “Karena enggak bisa juga kita ngikutin pola anak,” katanya. Untuk siswa SD, pola pengasuhan dibuat lebih longgar dibanding jenjang yang lebih tinggi. Setelah kegiatan sekolah selesai, anak makan siang kemudian diarahkan beristirahat.

Baca Juga: Tiga Racikan Nasi Padang di Kecapi Cafe & Resto Samarinda, Mana Paling Menggoda?

Pahrijal menjelaskan, siswa SD tidak langsung dijejali kegiatan setelah makan siang. Waktu istirahat justru dianggap penting karena mereka masih berada pada usia yang membutuhkan banyak waktu untuk bermain dan memulihkan energi.

Adaptasi juga terlihat dari penggunaan fasilitas. Sejumlah siswa sebelumnya tidak akrab dengan shower, WC duduk maupun kipas angin. Barang-barang tersebut menjadi pengalaman baru bagi sebagian anak ketika pertama kali tinggal di asrama. “Awalnya itu adaptasi, ya shower patah. Sekarang sudah bukan lagi barang asing menurut mereka,” tutur Pahrijal lalu terkekeh pelan.

Karena belum terbiasa, fasilitas asrama sempat digunakan secara tidak tepat. Ada siswa yang memainkan kipas angin. Bahkan fasilitas sanitasi juga membutuhkan penyesuaian. Untuk itu, sekolah memilih menyesuaikan fasilitas dengan kebiasaan siswa. Salah satunya dengan menyediakan WC jongkok ketika siswa belum terbiasa menggunakan WC duduk.

Adaptasi bukan hanya soal fasilitas. Beberapa anak yang masih kecil juga mengalami persoalan yang lazim terjadi pada fase awal tinggal jauh dari keluarga, seperti mengompol atau buang air di celana. Di tengah proses tersebut, wali asuh diminta tidak sekadar menjadi pengawas. Mereka harus memahami kondisi anak sekaligus tetap menanamkan kemandirian.

Pahrijal mengakui, pendekatan kepada siswa tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama. Anak-anak perlu dibimbing perlahan agar memahami bahwa kegiatan di asrama merupakan bagian dari tanggung jawab mereka. Bagi Pahrijal, keberhasilan pengasuhan bukan sekadar membuat anak mengikuti aturan. Target akhirnya adalah membuat siswa mampu mengurus kebutuhan dasar mereka sendiri.

Baca Juga: Mooncake Mercure-Ibis Samarinda Tak Sekadar Tradisi, Hadirkan Lima Varian Rasa

Sebab, semakin mandiri siswa, semakin ringan pula beban wali asuh. Dari mencuci pakaian hingga merapikan tempat tidur, semua diarahkan menjadi keterampilan yang melekat dalam keseharian. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
sekolah rakyat kaltim siswa Sekolah Rakyat asrama Sekolah Rakyat wali asuh Sekolah Rakyat Sekolah Rakyat Samarinda