Dulu Enggan Sekolah, Kini Anak-anak Sekolah Rakyat Samarinda Mulai Berprestasi

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 17:21 WIB
BANGKIT: Sejumlah anak yang sebelumnya nyaris meninggalkan bangku sekolah disebut mulai kembali menemukan semangat belajar setelah mengikuti Sekolah Rakyat di Samarinda. RORO/KP
BANGKIT: Sejumlah anak yang sebelumnya nyaris meninggalkan bangku sekolah disebut mulai kembali menemukan semangat belajar setelah mengikuti Sekolah Rakyat di Samarinda. RORO/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sejumlah anak yang sebelumnya nyaris meninggalkan bangku sekolah disebut mulai kembali menemukan semangat belajar setelah mengikuti Sekolah Rakyat di Samarinda. Setelah dua kali penerimaan, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dissospemmas) Samarinda melihat perubahan pada motivasi, keceriaan, cita-cita hingga kemampuan peserta didik.

Kepala Dissospemmas Samarinda, Mochammad Arif Surochman mengatakan, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan akses pendidikan kepada anak dari keluarga yang sangat membutuhkan. Pembinaan di dalam sekolah juga dinilai mulai menunjukkan perubahan pada kondisi psikologis dan karakter peserta didik.

“Kami melihat dengan adanya Sekolah Rakyat ini ada perubahan luar biasa pada anak-anak tersebut. Anak-anak yang tadinya sudah tidak mau sekolah, dari tahun lalu hingga tahun ini kami lihat mereka kembali mau bersekolah,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan tersebut menjadi salah satu hal yang paling terlihat dari pemantauan pihaknya terhadap peserta didik. Anak yang sebelumnya tidak memiliki keinginan kuat untuk bersekolah mulai mendapatkan kembali motivasi setelah berada dalam lingkungan pendidikan yang terfasilitasi.

Baca Juga: Masuk Kriteria Sekolah Rakyat, Tak Semua Anak Mau Bersekolah: Ada yang Harus Bantu Keluarga

Sekolah Rakyat menyediakan kebutuhan pendidikan peserta didik melalui fasilitas yang diberikan negara. Mulai pakaian hingga perlengkapan sekolah disediakan untuk menunjang proses belajar. “Bayangkan sekolahnya kan benar-benar difasilitasi oleh negara. Semua di dalam situ. Dari pakaian dalam maupun luar, kemudian peralatan sekolah dan lain sebagainya,” katanya.

Dia juga menilai pembangunan gedung Sekolah Rakyat di kawasan Palaran, dekat Stadion Palaran, menjadi bentuk keseriusan pemerintah dalam menyediakan lingkungan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga dengan persoalan sosial ekonomi.

Namun, perubahan yang dilihat Dissos tidak hanya berkaitan dengan fasilitas. Pembinaan yang berlangsung di sekolah disebut ikut membangun kembali rasa percaya diri anak. “Bayangkan, ada yang sudah tidak mau sekolah, ada yang sudah benar-benar tidak mau lagi. Ada juga yang sedang punya masalah. Tapi ketika masuk ke sana, kemudian kami lakukan monitoring, anak itu berubah,” tuturnya.

Perubahan itu terlihat dari tumbuhnya motivasi, keceriaan, semangat hingga harapan terhadap masa depan. “Dalam artian, motivasi, keceriaan, semangat, harapan, dan cita-cita anak-anak tersebut tumbuh. Karena pembinaan di Sekolah Rakyat itu luar biasa sekali,” lanjutnya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Samarinda Tambah 120 Siswa, Tak Menunggu Pendaftar tapi Jemput Calon Siswa

Pihaknya bahkan menemukan sejumlah peserta didik mulai menunjukkan kemampuan dan prestasi di bidang lain. Anak yang sebelumnya mengalami persoalan dalam pendidikan kini mulai berani mengembangkan minatnya.

“Luar biasa. Kami kan monitor, ya. Anak yang dulu kami masukkan, antara mau dan tidak mau, misalnya. Tapi setelah masuk, dari sisi psikologis dan cara merespons, sekarang sudah ada yang jago menari dan memiliki kemampuan di berbagai bidang. Kami lihat di sana mereka sudah punya prestasi. Mereka sudah luar biasa,” katanya.

Perkembangan tersebut dinilai menunjukkan pentingnya pembinaan karakter dalam program Sekolah Rakyat. Pendidikan tidak hanya diarahkan agar anak kembali mengikuti kegiatan belajar, tetapi juga membangun kemampuan sosial dan kepercayaan diri.

Sekolah Rakyat Samarinda kini memasuki tahun kedua pelaksanaan. Samarinda menjadi salah satu daerah yang masuk dalam pembangunan awal program tersebut. Tahun ini, kuota awal yang disiapkan mencapai 270 peserta didik, masing-masing 90 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Dissos menyebut terdapat penambahan kuota yang masih dalam proses.

Baginya, keberadaan Sekolah Rakyat memiliki makna lebih luas dari sekadar menyediakan pendidikan bagi keluarga miskin. Program tersebut diharapkan menjadi salah satu instrumen untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.

“Apalagi dengan adanya gedung yang sangat luar biasa sekarang yang terletak di Palaran. Itu menjadi daya tarik sekaligus menunjukkan keseriusan pemerintah untuk mengubah atau memutus kemiskinan melalui pendidikan,” pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Dissos Samarinda siswa Sekolah Rakyat Samarinda prestasi siswa Sekolah Rakyat Sekolah Rakyat Sekolah Rakyat Samarinda