Terancam Karhutla Labanan Berau, Orang Utan 'Ambon' Disiagakan Evakuasi Darurat

Ari Arief • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:00 WIB
TERBAKAR: Tim COP berjibaku memadamkan kebakaran lahan di KHDTK Labanan, Berau, setelah kobaran api kian merapat hingga berjarak 550 meter dari area rehabilitasi orang utan.(IST)
TERBAKAR: Tim COP berjibaku memadamkan kebakaran lahan di KHDTK Labanan, Berau, setelah kobaran api kian merapat hingga berjarak 550 meter dari area rehabilitasi orang utan.(IST)

 

KALTIMPOST.ID,KALTIM-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kabupaten Berau, Kaltim, semakin mengkhawatirkan. Titik api kini kian mendekati pusat rehabilitasi milik Centre for Orangutan Protection (COP), dengan jarak menyisakan sekitar 550 meter hingga abu sisa pembakaran mulai masuk ke kandang orang utan.

Direktur COP, Daniek Hendarto mengungkapkan bahwa meski abu pemadaman telah beterbangan hingga ke kandang orang utan bernama Ambon, kondisi satwa tersebut sejauh ini masih terpantau kondusif. Kendati demikian, pihak COP tidak ingin mengambil risiko dan telah menyiagakan skenario evakuasi darurat.

Baca Juga: Lionel Messi Kena Denda MLS, Terlibat Insiden Panas dengan Quinn Sullivan

"Kami sudah siap dengan skenario terburuk untuk mengungsikan Ambon ke pusat Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Kampung Tasuk, Berau, jika kondisi di Labanan semakin tidak memungkinkan," tegas Daniek, dikutip Minggu (23/8). Persiapan matang mencakup kandang transport, perlengkapan medis, hingga personel evakuasi telah disiagakan di lokasi.

Titik api di KHDTK Labanan yang terdeteksi sejak 8 Agustus lalu terus mendekat dari posisi awal yang berjarak 1,3 kilometer. Hingga pertengahan Agustus, titik-titik api baru masih terus bermunculan di belakang kawasan yang sebelumnya terbakar, memicu pemantauan ketat dari tim gabungan.

Baca Juga: Rampung Tiga Bulan, Jalan Syarifuddin Yoes Balikpapan Akhirnya Dibuka Penuh, Begini Kondisi Terkini

Proses pemadaman di lapangan menghadapi kendala teknis yang cukup berat. Petugas Manggala Agni, Eko Usnaini membeberkan bahwa keterbatasan sumber air serta sulitnya akses menjadi hambatan utama.

"Kendala utama kami adalah titik air yang cukup jauh serta kapasitas tangki. Dua unit tangki berkapasitas 1.200 liter yang kami bawa habis hanya dalam hitungan belasan menit karena penggunaan mesin penyemprot bertekanan tinggi, sehingga tim harus berulang kali mengambil pasokan air," jelas Eko.

Baca Juga: LAPSUS: Karhutla di Kutim dan Tahura Bukit Soeharto, 15 Hektare Terbakar! Polisi Cari Penyebabnya

Sementara itu, Pendiri COP Hardi Baktiantoro menyoroti besarnya dampak kerugian ekologis akibat karhutla ini. Selain mengancam pusat rehabilitasi, kebakaran telah menghancurkan habitat alami dan mengusir satwa liar di kawasan Labanan.

"Satwa yang berhasil melarikan diri dari api kini menghadapi ancaman krisis air dan pakan karena vegetasi penyokongnya telah hangus. Praktik pembakaran lahan harus segera dihentikan total sebelum memicu kiamat ekologis yang lebih luas," kata Hardi.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
api orangutan berau evakuasi