Padi Kopas dan Dompu, Kearifan Pangan Masyarakat Adat Mului yang Terjaga Lintas Generasi

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:47 WIB
TIM PENELITI: Tim Peneliti PKM-RSH Unmul bersama Kepala Adat Kampung Adat Mului.
TIM PENELITI: Tim Peneliti PKM-RSH Unmul bersama Kepala Adat Kampung Adat Mului.

PASER – Bagi masyarakat Kampung Adat Mului, pangan tidak hanya tumbuh di ladang. Hutan adat yang mengelilingi kehidupan mereka juga menjadi bagian penting dari sistem pangan sekaligus ruang tempat pengetahuan tentang tumbuhan diwariskan.

Hubungan tersebut menjadi bagian dari pengetahuan etnobotani pangan, yakni pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan pangan yang hidup dan dimanfaatkan di lingkungan sekitarnya.

Di Kampung Adat Mului, Desa Swan Slutung, Kecamatan Muara Komam, Kabupaten Paser, pengetahuan itu masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Masyarakat tidak hanya mempertahankan tanaman pangan yang dibudidayakan, tetapi juga memanfaatkan berbagai tumbuhan yang tersedia di hutan adat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora Universitas Mulawarman 2026. Tim yang diketuai Ade Yusuf Bahtiar dan didampingi dosen Letus Sepsamli. melakukan penelitian untuk melihat tingkat pengetahuan etnobotani pangan masyarakat Mului sekaligus memahami potensinya bagi konservasi pengetahuan lokal dan penguatan ketahanan pangan.

Tim yang tergabung dalam Etnobotani Mului itu terdiri dari lima mahasiswa lintas program studi, yakni Kehutanan, Pembangunan Sosial, dan Agroekoteknologi.

Penelitian berlangsung selama 22 hari sejak 20 Juni 2026. Untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyebarkan kuesioner kepada 40 responden dari empat kelompok umur.

Pemilihan responden dilakukan menggunakan teknik purposive sampling. Data kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS, mulai dari pengujian validitas dan reliabilitas instrumen hingga pengukuran tingkat pengetahuan menggunakan indeks etnobotani.

Peneliti juga menggunakan uji Chi-Square dan uji normalitas. Karena data yang diperoleh tidak berdistribusi normal, analisis kemudian dilanjutkan menggunakan uji non-parametrik untuk melihat perbedaan tingkat pengetahuan berdasarkan kelompok umur maupun jenis kelamin.

Hasilnya menunjukkan pengetahuan etnobotani pangan masyarakat Kampung Adat Mului masih tergolong baik.

Temuan ini menjadi penting karena masyarakat Mului masih memiliki ketergantungan terhadap hasil hutan dan ladang. Di sisi lain, perpindahan penduduk menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan dapat memengaruhi keberlanjutan pengetahuan pangan lokal.

Kopas, Jejak Pengetahuan dari Ladang

Salah satu pengetahuan yang masih dipertahankan masyarakat Mului berkaitan dengan padi lokal.

Berdasarkan informasi yang diperoleh anggota tim PKM RSH Rahma Ayu Wulandari dari Kepala Adat Mului, padi merupakan salah satu pangan pokok masyarakat. Dalam bahasa Paser, padi disebut kopas.

Menariknya, masyarakat masih mempertahankan lima jenis padi lokal, yakni kopas jalu gajah, kopas jalu nalau, kopas jalu bura, pulut buyung, dan pulut pora.

Keberadaan kelima jenis tersebut bukan sekadar menunjukkan variasi tanaman pangan. Di dalamnya terdapat pengetahuan mengenai keanekaragaman sumber pangan yang terus dipertahankan masyarakat.

Padi lokal menjadi bagian dari sistem pangan yang dibangun berdasarkan pengalaman masyarakat dalam mengelola lingkungan. Pengetahuan tersebut memungkinkan masyarakat memiliki pilihan sumber pangan sekaligus mempertahankan varietas yang telah dikenal dan diwariskan.

Dengan demikian, keberadaan kopas dapat dibaca lebih jauh sebagai bagian dari kekayaan pengetahuan masyarakat Mului dalam menjaga ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal.

Dompu sebagai Pangan Cadangan

Selain padi, masyarakat Mului juga memiliki tanaman pangan cadangan berupa singkong yang dalam bahasa Paser disebut dompu.

Setidaknya terdapat empat jenis dompu yang masih dikenal masyarakat, yakni dompu gajah, dompu remiris, dompu bengkal jara, dan dompu ayus.

Di antara jenis tersebut, dompu gajah menjadi salah satu yang paling diunggulkan. Jenis ini disebut memiliki cita rasa yang lebih enak dan paling disukai masyarakat setempat.

Keberadaan berbagai jenis dompu memperlihatkan bahwa masyarakat tidak menggantungkan kebutuhan pangan hanya pada satu jenis tanaman.

Padi dan singkong memiliki posisi berbeda dalam kehidupan pangan masyarakat, tetapi keduanya saling melengkapi. Ketika padi menjadi pangan pokok, singkong dapat berperan sebagai pangan cadangan.

Pola tersebut menunjukkan adanya praktik penganekaragaman pangan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat sendiri.

Dalam perspektif ketahanan pangan, keragaman sumber pangan dapat menjadi salah satu unsur penting untuk menjaga ketersediaan pangan masyarakat. Dalam konteks Mului, praktik tersebut telah menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Hutan sebagai Lumbung Pengetahuan

Namun, pengetahuan etnobotani masyarakat Mului tidak berhenti pada tanaman yang dibudidayakan di ladang.

Hutan adat juga menjadi bagian dari sistem kehidupan masyarakat. Berbagai tumbuhan pangan yang tersedia di dalamnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mendukung keberlangsungan kehidupan.

Karena itu, ketika berbicara mengenai ketahanan pangan masyarakat Mului, keberadaan hutan adat tidak dapat dilepaskan dari pembahasannya.

Hutan bukan hanya ruang konservasi atau wilayah yang memiliki nilai ekologis. Ia juga menyimpan pengetahuan mengenai jenis tumbuhan, cara pemanfaatan, hingga hubungan masyarakat dengan sumber daya alam.

Pengetahuan tersebut tersimpan dalam pengalaman sehari-hari dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Hasil penelitian terhadap 40 responden memperlihatkan bahwa proses pewarisan itu sejauh ini masih berjalan dengan baik. Pengetahuan etnobotani pangan masih dimiliki oleh masyarakat dari berbagai kelompok umur.

Temuan tersebut sekaligus memberikan gambaran bahwa keberagaman pangan lokal Mului bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekarang.

Menjaga Pangan, Menjaga Pengetahuan

Meski demikian, keberlanjutan pengetahuan tersebut tetap menghadapi tantangan.

Perpindahan penduduk dikhawatirkan dapat memengaruhi keberlangsungan pengetahuan etnobotani pangan. Ketika hubungan masyarakat dengan ladang, hutan, dan tumbuhan lokal semakin berkurang, pengetahuan yang selama ini diperoleh melalui pengalaman juga berpotensi ikut terputus.

Karena itu, konservasi pengetahuan menjadi sama pentingnya dengan konservasi sumber daya alam.

Menjaga varietas kopas berarti menjaga sumber pangan sekaligus pengetahuan yang menyertainya. Mempertahankan berbagai jenis dompu berarti menjaga keragaman pangan sekaligus warisan pengetahuan masyarakat. Demikian pula dengan menjaga hutan adat, yang berarti mempertahankan ruang hidup sekaligus ruang belajar bagi generasi berikutnya.

Riset mahasiswa Unmul tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan masyarakat adat dapat dibaca melalui hubungan yang lebih luas antara manusia, ladang, hutan, dan pengetahuan lokal.

Di Mului, pangan bukan hanya sesuatu yang dipanen dan dikonsumsi. Di balik sebutir kopas dan umbi dompu, terdapat pengetahuan tentang lingkungan, pilihan sumber pangan, dan pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Selama pengetahuan tersebut tetap dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan, kekayaan pangan lokal Mului memiliki peluang untuk terus bertahan.

Sebab, yang sedang dijaga masyarakat bukan hanya apa yang tumbuh di tanah, melainkan juga pengetahuan tentang bagaimana hidup berdampingan dengan apa yang tumbuh di sekitarnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
masyarakat adat Mului etnobotani pangan Mului padi lokal Mului kopas dan dompu Universitas Mulawarman