
PUBLIC SCHOLARSHIP #02
Oleh:
Bambang Irawan
Guru Besar Administrasi Publik Universitas Mulawarman
PEMIMPIN publik hampir selalu berbicara dengan angka: pertumbuhan ekonomi sekian persen, angka kemiskinan turun sekian persen, investasi mencapai sekian triliun, atau lapangan kerja bertambah sekian ribu. Kita mendengar dan mengonsumsi angka-angka seperti itu hampir setiap hari. Ada alasan mengapa angka sering digunakan.
Angka membuat sebuah pernyataan terdengar lebih kuat sekaligus memberi kesan bahwa apa yang disampaikan bukan sekadar pendapat, melainkan sesuatu yang dapat diukur. Karena itu, data menjadi bagian penting dalam komunikasi seorang pemimpin. Namun, setiap angka yang disampaikan juga membawa tanggung jawab.
Ketika presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, atau pejabat publik menyampaikan sebuah angka, masyarakat tidak hanya mendengarnya sebagai ucapan pribadi. Mereka menerimanya sebagai informasi dari pemerintah. Oleh sebab itu, muncul pertanyaan: seberapa hati-hati seorang pemimpin publik seharusnya berbicara dengan data?
Angka Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Bayangkan seorang kepala daerah mengatakan, “Investasi tahun ini meningkat 10 persen.” Apakah pernyataan itu salah? Belum tentu. Namun, kita juga belum tentu memahami keadaan sebenarnya.
Sepuluh persen dibandingkan dengan kapan? Investasi apa yang dihitung? Apakah itu target atau realisasi? Apakah kenaikan investasi tersebut menghasilkan manfaat yang dirasakan masyarakat?
Angkanya bisa saja benar, tetapi tanpa konteks yang cukup, masyarakat akan memperoleh gambaran yang tidak utuh. Berbicara dengan data tidak sesederhana membedakan angka yang benar dan salah. Ada angka yang keliru, angka yang benar tetapi kehilangan konteks, dua angka yang dibandingkan dengan ukuran atau periode berbeda, hingga target yang disampaikan sedemikian rupa sehingga terdengar seperti capaian.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




