SAMARINDA – Ketersediaan bahan bacaan di Kalimantan Timur masih menghadapi persoalan. Rasio buku terhadap kebutuhan masyarakat saat ini baru mencapai 1:1, jauh dari kondisi ideal yang diharapkan berada di angka 5:1.
Kesenjangan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Festival Literasi Kaltim Out of the Boox yang resmi dibuka melalui soft opening di Aula Tower Kadrie Oening, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Sabtu (29/8).
Festival yang menggandeng penerbit Mizan tersebut berlangsung selama 21 hari dengan menghadirkan bazar buku murah. Sekitar 70 penerbit dilibatkan dengan menawarkan beragam koleksi buku dengan potongan harga 30 hingga 50 persen.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kaltim Lisa Hasliana mengatakan, penyediaan pasar buku murah menjadi salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan.
Baca Juga: Bazar Buku Murah Digelar di Balikpapan, Semua Koleksi Dibanderol di Bawah Rp 100 Ribu
“Pengadaan pasar buku murah ini sejalan dengan tujuan penyediaan buku di Kalimantan Timur yang masih kurang. Kita bangun kesadaran literasi, kemampuan memahami informasi, berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bijak. Perpustakaan harus hadir sebagai tempat berkarya dan berkolaborasi,” ujar Lisa.
Bukan Sekadar Membaca
Lisa menilai persoalan literasi tidak cukup dilihat dari kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat juga perlu memiliki kemampuan memahami serta memilah informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Dalam konteks tersebut, ketersediaan buku dan keberadaan perpustakaan menjadi bagian penting untuk membangun kebiasaan membaca. Perpustakaan pun didorong tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi buku, tetapi berkembang menjadi ruang publik untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan menghasilkan inovasi.
Festival literasi tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat mendapatkan bahan bacaan dengan harga yang lebih terjangkau.
Selain diskon 30 hingga 50 persen, penyelenggara juga menyiapkan sejumlah program promosi, termasuk flash sale. Salah satunya paket Rp100 ribu untuk mendapatkan empat buku.
Berbagai program tersebut diharapkan dapat mendekatkan masyarakat dengan buku, terutama di tengah masih terbatasnya rasio ketersediaan bahan bacaan di Kaltim.
Plt Kepala Dispora Kaltim Rasman Rading menyatakan dukungan terhadap penyelenggaraan festival. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan alternatif rekreasi yang tetap memiliki nilai edukatif.
“Dispora mendukung 100 persen kegiatan berdampak ini karena Festival Literasi memberikan ruang rekreasi di Kalimantan Timur yang edukatif dan nyata bermanfaat,” kata Rasman.
21 Hari, Tak Hanya Bazar
Festival Literasi Kaltim Out of the Boox mengusung tema “Membangun Generasi Cerdas, Kreatif, dan Berkarakter, Melalui Budaya Literasi: Membaca, Berkarya, Menginspirasi”.
Selama 21 hari pelaksanaan, agenda festival tidak hanya berpusat pada bazar buku. Sejumlah kegiatan literasi juga disiapkan dengan melibatkan komunitas dan pegiat literasi.
Masyarakat dapat mengikuti berbagai agenda, mulai dari talkshow, seminar, workshop, hingga kelas kreatif.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, festival diharapkan tidak berhenti sebagai momentum berburu buku dengan harga murah. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses bacaan sekaligus membangun budaya literasi yang mendorong masyarakat untuk membaca, memahami informasi, berpikir kritis, berkarya, dan berkolaborasi.
Editor : Muhammad Ridhuan