BALIKPAPAN – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Timur menunjukkan angka tinggi sepanjang 2026. Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Kementerian Kesehatan, kasus paling banyak tercatat di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.
Balikpapan menjadi daerah dengan akumulasi kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 66.468 kasus. Disusul Samarinda sebanyak 48.230 kasus dan Kutai Kartanegara dengan 29.453 kasus.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, terutama di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi memperburuk kualitas udara.
Kepala Dinkes Kaltim Jaya Mualimin mengatakan, pihaknya telah menyiagakan Rumah Oksigen serta cadangan peralatan medis darurat di 20 puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten/kota.
“Kedaruratan ISPA ini imbas kabut asap karhutla,” ujar Jaya.
Baca Juga: Polusi PM2.5 Naik! Direktur RSUD Taman Husada Minta Warga Bontang Waspadai Ancaman ISPA
Kesiapsiagaan tersebut diperkuat dengan distribusi logistik kesehatan. Dinkes Kaltim menyiapkan 128 tabung oksigen portabel berkapasitas 1 meter kubik, 64 tabung oksigen berkapasitas 6 meter kubik, serta 197 set regulator dan selang pernapasan atau nasal cannula.
Sejumlah wilayah juga menjadi prioritas penyiagaan karena memiliki potensi terdampak karhutla. Di antaranya Kecamatan Sambaliung dan Pulau Derawan di Berau; Sangkulirang dan Muara Wahau di Kutai Timur; serta Muara Badak dan Sanga-Sanga di Kutai Kartanegara.
Tak hanya menyiapkan fasilitas dan peralatan medis, Dinkes Kaltim juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 400.7.7.1/2277/DINKES-III pada Agustus 2026. Edaran tersebut menjadi pedoman standardisasi diagnosis dan tata laksana penyakit yang berkaitan dengan perubahan iklim bagi fasilitas pelayanan kesehatan.
Jaya menegaskan, perlindungan kesehatan terutama diarahkan kepada kelompok rentan. Mulai bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia (lansia), hingga masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid, khususnya gangguan pernapasan.
Pemprov Kaltim juga mempercepat distribusi masker darurat ke sejumlah titik yang terdampak kebakaran. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap.
“Fokus utama perlindungan kesehatan saat ini adalah kelompok rentan,” jelasnya.
Masyarakat, khususnya kelompok rentan, diimbau membatasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker saat beraktivitas di ruang terbuka juga dianjurkan.
Jika mulai mengalami gangguan pernapasan, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
Editor : Muhammad Ridhuan