SAMARINDA – Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV mengimbau masyarakat tidak panik menghadapi musim kemarau yang berdampak pada ketersediaan air. Meski demikian, penggunaan air tetap perlu dihemat dan pemborosan dihindari.
Kepala BWS Kalimantan IV Andri Rachmanto Wibowo mengatakan, perilaku hemat air semestinya diterapkan setiap saat, tidak hanya ketika musim kemarau. Sebab, proses penyediaan dan pengolahan air juga membutuhkan energi.
“Bahkan kita kalau sedang wudu di sungai, air kan mengalir, itu saja tidak boleh boros. Apalagi kalau kita wudu di keran,” ujarnya, Jumat (20/9).
Menurutnya, pemerintah terus mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk mengurangi dampak kekeringan. BWS Kalimantan IV juga mendapat dukungan kendaraan tangki dari sejumlah balai untuk membantu distribusi air ke wilayah yang mengalami kekeringan.
Baca Juga: Kekeringan Tekan Air Baku Samarinda, Debit Waduk Benanga Menipis Dekati Batas Kritis
“Kami bersinergi. Ada mobil yang dipinjamkan dari balai lain, kemudian kita distribusikan ke lokasi-lokasi yang kekeringan,” jelasnya.
Koordinasi juga dilakukan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pemadam kebakaran, terutama dalam penanganan kebakaran yang membutuhkan pasokan air. Dalam skema tersebut, BWS menyuplai air menggunakan mobil tangki, sedangkan petugas pemadam melakukan penyemprotan di lokasi.
“BPBD, pemadam kebakaran yang menyemprot, kita suplai airnya di mobil tangki. Kami senang melihat di sini kita kompak,” tuturnya.
Andri menegaskan, seluruh sumber daya air yang tersedia akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menekan dampak kekeringan. Penanganan dilakukan dengan melibatkan pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, masyarakat hingga relawan.
“Unsur-unsur pemerintah pusat, provinsi, kota dan kabupaten, juga masyarakat dan relawan bersama-sama,” pungkasnya.
Editor : Muhammad Ridhuan