Hidup merambat berdampingan dengan rumput liar dan mudah berkembang biak di daerah tropis, membuat patikan kebo dianggap sebagai gulma.
Padahal, tumbuhan bernama ilmiah Euphorbia hirta ini memiliki khasiat obat yang luar biasa dan telah populer dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satunya oleh etnis di Kalimantan.
Dikutip dari buku Tumbuhan Berkhasiat Obat Etnis Asli Kalimantan, masyarakat etnis Kalimantan sejak lama memanfaatkan bagian daun patikan kebo sebagai obat untuk mengatasi sakit menstruasi.
Sedangkan masyarakat luas, umumnya menggunakan patikan kebo sebagai obat penyembuh gangguan pernapasan seperti asma.
Senyawa dalam daun patikan kebo diketahui memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat membantu meredakan peradangan saluran pernapasan penyebab asma.
Tanaman ini juga memiliki kandungan yang mirip dengan obat antiastatik. Yaitu, obat yang biasa digunakan untuk membantu mengurangi gejala asma dan memberikan efek rileks terhadap bronkus.
Saking populernya, tumbuhan ini bahkan kerap dijuluki dengan nama tanaman asma.
Tak hanya itu, patikan kebo juga familiar dimanfaatkan untuk mengobati penyakit tuberkulosis (TBC) karena memiliki sifat antimikroba.
Ekstrak daun dari herbal ini dapat membantu dalam membunuh infeksi bakteri tuberkulosis di dalam tubuh.
Berbagai jurnal penelitian menyebut bahwa patikan kebo adalah tanaman obat yang hampir semua bagiannya memiliki kegunaan.
Pada 2017, Akademi Farmasi Saraswati Denpasar melakukan penelitian terhadap ekstrak patikan kebo.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terkandung pada herba Patikan Kebo melalui skrining fitokimia dan analisis Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
Mulanya ekstraksi dilakukan menggunakan pelarut etanol 75% dengan cara maserasi, dan diperoleh rendemen ekstrak sebanyak 6,87%.
Kemudian, pengujian kandungan metabolit sekunder pada ekstrak herba patikan kebo diuji secara Skrining fitokimia.
Uji KLT juga dilakukan untuk mempertegas keberadaan golongan senyawa yang positif pada skrining fitokimia, dan mengetahui profil kromatografi dari ekstrak tersebut.
Setelah diuji secara skrining fitokimia dan analisis KLT, maka diperoleh hasil bahwa herba Patikan Kebo mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, seperti flavonoid, tanin, steroid, dan antrakuinon.
Sistem KLT yang digunakan dalam penelitian ini dapat memisahkan kandungan fitokimia tersebut dan memberikan hasil positif yang mempertegas hasil skrining fitokimia.
Beberapa jurnal kesehatan lain menyebut bahwa petikan kebo juga mengandung senyawa polifenol, fitosterol, alkana, dan triterpenoid.
Selain itu, di bagian daun tumbuhan herbal ini mengandung zat gizi seperti natrium, kalium, kalsium, vitamin C, fenolik, dan beta-karoten.
Untuk mengobati penyakit, patikan kebo umumnya disajikan dalam bentuk jamu atau air rebusan.
Caranya cukup mudah. Hanya perlu mengambil 5–8 lembar daun patikan kebo, kemudian cuci hingga bersih.
Lalu rebus bersama 1 gelas air dan tunggu hingga air mendidih. Setelah mendidih, dimakan hingga dingin.
Baca Juga: Rahasia Herbal Kalimantan: Ingin Rambut Tetap Hitam, Pohon Ulin Rahasianya
Selanjutnya saring untuk memisahkan daun dengan air rebusan kemudian minum. Upayakan minum air rebusan petikan kebo dengan cara rutin agar hasil maksimal.
Demikian ulasan mengenai herbal Kalimantan patikan kebo dengan beragam kandungan dan manfaat yang dapat Anda gunakan, semoga membantu. (*)
Editor : Almasrifah