Tumbuhan ini termasuk dalam jenis Rafflesia yang memiliki ukuran paling kecil, yaitu berdiameter kurang lebih 15 sentimeter.
Uniknya, tumbuhan ini merupakan endotermik yang dapat menghasilkan panas sendiri dan mengatur suhunya sendiri.
Jenis ini adalah tumbuhan yang tidak memiliki akar, batang, daun, dan klorofil, sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis.
Karena itu, keberadaan tumbuhan ini sangat bergantung dengan tumbuhan inangnya. Beberapa inang tongkol ulur ulur yakni Rafflesia, Mitrasremma, Rhizhanthes, dan Sapria.
Hidup di ketinggian 500-1.300 mdpl, Rhizanthes lowii mula-mula hanya sebesar kutil lalu membesar mencapai ukuran bulat sebesar tomat dan bergaris tengah berwarna coklat.
Sebelum mekar, tumbuhan ini berbentuk oval dengan warna putih susu kemudian bercampur sedikit warna kecoklatan.
Ketika terbuka, pada bagian pusat bunga berwarna cokelat. Warna bunga yang cantik ini bertahan sekitar 5-7 hari, setelah itu warnanya akan berangsur kusam menjadi hitam lalu membusuk.
Seperti kelompok Rafflesia lainnya, tumbuhan ini terancam punah dan semakin sulit ditemukan karena kerusakan habitat alami, meskipun tumbuhan inangnya masih sering dijumpai.
Walau demikian, bunga Rhizanthes lowii hingga saat ini belum termasuk dalam tumbuhan yang dilindungi, baik pada International Union for Conservation of Nature (IUCN) maupun Convention on International Trade in Endengered Species of Wild Flora and Fauna (CITES).
Oleh beberapa suku Dayak di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan (Kalsel), seperti Dayak Amandit dan suku Banjar, Rhizanthes lowii dipercaya berkhasiat untuk mengobati ambeien, sakit perut, dan diare.
Kenyataan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada 2021 lalu.
Jurnal penelitian ULM berjudul Pemanfaatan Tumbuhan Hutan sebagai Bahan Pengobatan Tradisional oleh Masyarakat Suku Dayak Meratus Kalimantan Selatan.
Pemanfaatan tumbuhan hutan sebagai bahan obat merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat, salah satunya adalah suku Dayak Pegunungan Meratus.
Penelitian tersebut menganalisis pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan obat bagi masyarakat adat Cabai di Desa Patikalain yang merupakan bagian dari suku Dayak Pegunungan Meratus.
Menurut sample yang diteliti, terdapat 18 jenis tumbuhan hutan yang dimanfaatkan sebagai obat oleh masyarakat suku Dayak Pegunungan Meratus.
Setidaknya terdapat 23 penyakit yang dapat diobati dengan berbagai jenis tumbuhan melalui pengobatan dalam maupun luar.
Di antara 18 jenis tanaman hutan berkhasiat obat tersebut, terdapat Rhizanthes lowii yang terbukti kerap digunakan suku Dayak Pegunungan Meratus sebagai obat ambeien, sakit perut, dan diare.
Etnis ini memanfaatkan bagian buah dari tongkol ulur ulur sebagai pengobatan dalam. Apabila menggunakan tumbuhan ini tidak berhasil, masyarakat baru akan berobat ke puskesmas.
Demikian ulasan mengenai herbal Kalimantan tongkol ulur-ulur, tumbuhan langka yang bermanfaat menyembuhkan ambeien, sakit perut, dan diare suku Dayak Pegunungan Meratus di Ibu Kota Nusantara (IKN). (*)
Editor : Almasrifah