Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Komisi IV DPRD Samarinda Minta Pemerintah Juga Fokus Bisa Buka Lapangan Kerja

M
Penulis: M Hafiz Alfaruqi❯
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda - Sri Puji Astuti
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda - Sri Puji Astuti

Advertisement

KALTIMPOST.ID SAMARINDA–Peralihan ekonomi Kalimantan Timur dari sektor tambang menuju ekonomi hijau mulai memunculkan kekhawatiran, terlebih ancaman potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri pertambangan.

Namun, DPRD Samarinda menilai perhatian utama pemerintah tidak hanya tertuju pada pekerja yang terdampak PHK, melainkan bagaimana menyiapkan lapangan kerja baru untuk menekan angka pengangguran terbuka.

Advertisement

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda Sri Puji Astuti mengatakan, sejak 2026 tidak ada lagi penerbitan izin usaha pertambangan di Samarinda.

"Kalau sektor tambang di Samarinda mulai 2026 ini memang sudah tidak ada izin tambang. Mereka yang bekerja di tambang kebanyakan warga Samarinda, tetapi lokasi kerjanya di Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan daerah lainnya," ujarnya beberapa waktu lalu.

Terkait prediksi adanya sekitar 1.500 pekerja tambang di Kaltim yang berpotensi terdampak PHK akibat berkurangnya aktivitas pertambangan, Sri menilai persoalan tersebut lebih tepat menjadi perhatian pemerintah provinsi mengingat ruang lingkupnya mencakup wilayah Kalimantan Timur secara keseluruhan.

Namun, dia menilai para pekerja tambang umumnya memiliki peluang untuk beradaptasi karena selama bekerja di sektor tersebut memperoleh penghasilan yang relatif lebih tinggi dibanding rata-rata upah minimum.

"Biasanya pekerja tambang memiliki pendapatan di atas UMR dan juga mendapat berbagai tunjangan. Kalau mereka bisa mengelola keuangan dengan baik, ada peluang beralih ke sektor lain seperti perdagangan, usaha mandiri, atau membuka usaha lainnya," jelasnya.

Menurutnya, pekerja yang terkena PHK juga umumnya memperoleh hak berupa pesangon dan kompensasi sesuai ketentuan yang berlaku sehingga memiliki modal awal untuk memulai usaha baru.

Namun, Sri menegaskan bahwa tantangan terbesar pemerintah saat ini bukan hanya menangani pekerja yang terdampak PHK, melainkan menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat yang selama ini masuk kategori pengangguran terbuka.

"Yang harus pemerintah pikirkan sebenarnya bukan hanya PHK-nya. Yang lebih penting adalah bagaimana menyiapkan lapangan pekerjaan baru untuk masyarakat, terutama pengangguran terbuka yang jumlahnya masih cukup besar," tegasnya.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

DPRD Dorong UMKM Samarinda Tak Sekadar Bertahan, tetapi Harus Naik Kelas

DPRD Dorong UMKM Samarinda Tak Sekadar Bertahan, tetapi Harus Naik Kelas

Komisi II DPRD Samarinda dorong pelaku UMKM naik kelas dengan peningkatan omzet dan akses pasar ke jaringan ritel modern.

Polemik Proyek Estetika Pasar Pagi, Warga Desak Pemkot Samarinda Hentikan Pemasangan Pagar

Polemik Proyek Estetika Pasar Pagi, Warga Desak Pemkot Samarinda Hentikan Pemasangan Pagar

Perwakilan warga yang terdampak pembangunan estetika Pasar Pagi Samarinda menyampaikan aspirasi dalam RDP di DPRD Samarinda

Dinilai Ganggu Akses Toko, DPRD Minta Proyek Estetika Pasar Pagi Dihentikan

Dinilai Ganggu Akses Toko, DPRD Minta Proyek Estetika Pasar Pagi Dihentikan

DPRD meminta Pemkot menghentikan proyek estetika Pasar pagi demi kepentingan akses masuk ke pertokoan sekitar

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer