KALTIMPOST.ID, Pohon kedawung (Parkia roxburghii) adalah salah satu raksasa hutan tropis yang tumbuh menjulang hingga 45 meter di atas permukaan tanah.
Di Indonesia, pohon ini sering ditemukan di kawasan hutan dengan ketinggian hingga 600 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Dengan batangnya yang besar dan akar kuat, pohon kedawung memainkan peran penting dalam ekosistem, dari memberikan rumah bagi berbagai satwa hingga menahan laju erosi tanah.
Baca Juga: Herbal Kalimantan: Sukun, Sumber Pangan Alternatif Warga IKN yang Lezat dan Kaya Manfaat bagi Tubuh
Mengutip dari media.neliti.com, batang kedawung digunakan untuk mengobati demam, obat sakit gigi, mengobati luka, eksim, gangguan pencernaan, dan diabetes.
Namun, meskipun kedawung memiliki banyak manfaat, baik bagi lingkungan maupun kesehatan manusia, populasinya kini kian terancam.
Pohon ini disebut-sebut sebagai salah satu dari 30 spesies tumbuhan obat langka di Indonesia, dengan jumlah yang semakin sedikit di habitat aslinya.
Selain manfaat kesehatan, pohon kedawung memiliki peran ekologis yang penting. Sebagai pohon raksasa, kedawung menduduki strata teratas dari tajuk spesies-spesies pohon lain di hutan, memberikan naungan dan habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa.
Namun, regenerasi pohon kedawung di alam sangat lambat. Kedawung memiliki tingkat perkecambahan yang rendah dan membutuhkan cahaya yang cukup untuk bisa berkecambah.
Sebagai spesies yang intoleran terhadap naungan, kedawung sulit berkembang di hutan tropis primer yang cenderung tertutup.
Hal ini diperparah dengan populasi yang semakin tua dan jumlah pohon remaja yang sangat sedikit.
Diperkirakan, populasi pohon kedawung di kawasan hutan alam taman nasional tidak lebih dari 200 individu, sebagian besar terdiri atas pohon-pohon tua.
Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya upaya konservasi dan campur tangan manusia untuk memastikan keberlangsungan hidup pohon kedawung.
Konservasi pohon kedawung menjadi sangat penting mengingat peran ekologisnya dan manfaat kesehatannya yang luas.
Pengembangan teknik perkecambahan yang lebih efektif, penyebaran biji yang lebih aktif, dan penanaman kembali di habitat-habitat yang cocok dapat membantu memulihkan populasi pohon kedawung. (*)
Editor : Dwi Puspitarini