Secara global, diperkirakan lebih dari 6 persen pria dan 21 persen wanita usia di atas 50 tahun mengalami osteoporosis. Hal ini berarti lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia mengalami osteoporosis dan berbagai komplikasi terkait osteoporosis.
---
HARI Osteoporosis Sedunia atau World Osteoporosis Day (WOD) diperingati setiap tahunnya pada 20 Oktober. Secara global, osteoporosis diperkirakan menyebabkan hampir 9 juta kasus patah tulang tiap tahunnya. Besarnya angka patah tulang akibat osteoporosis ini menyebabkan bukan hanya beban penyakit yang tinggi, namun juga dampak terhadap gangguan fungsional karena pada populasi yang berusia lanjut dan mengalami patah tulang menjadi lebih mungkin untuk mengalami disabilitas dan membutuhkan perawatan jangka panjang.
Puslitbang Gizi Kemenkes RI pada 2005 memperkirakan, dua dari lima orang di Indonesia berisiko terkena osteoporosis dengan angka prevalensi osteoporosis diperkirakan sebesar 10,3 persen dan osteopenia sebesar 41.7 persen.
Penelitian lain di 2013 menunjukkan angka prevalensi osteoporosis pada perempuan usia di atas 70 tahun mencapai 53 persen. Ke depannya, seiring dengan laju pertambahan penduduk disertai bertambahnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia, maka kita akan dihadapkan pada pergeseran pola demografi di mana kelompok populasi usia lanjut akan semakin meningkat/aging population. Hal ini diperkirakan akan turut menyebabkan peningkatan angka osteoporosis di Indonesia hingga 135 persen pada tahun 2050.
“Semakin tingginya usia harapan hidup masyarakat kita membuat kasus osteoporosis semakin meningkat setiap tahunnya,” ungkap spesialis ortopedi dari RSUD Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan dr Hendra Gunawan kepada Kaltim Post, Kamis (17/10) lalu.
Berdasarkan pengalamannya selama 12 tahun sebagai dokter, wanita memang yang paling rentan dibandingkan pria. Penyebabnya pada wanita pada usia tertentu terjadi ketika berhentinya produksi hormon estrogen atau ketika seorang wanita mengalami menopause, maka hormon estrogen yang berfungsi untuk mengatur pengangkutan kalsium ke dalam tulang ikut menurun. Pada masa menopause, kadar estrogen yang menurun secara signifikan mempercepat penurunan massa tulang. Dan perlu diketahui, wanita terlahir dengan ukuran tulang yang lebih kecil dan tipis dibandingkan pria.
“Pada usia geriatri (lansia atau 60 tahun ke atas), kondisi tulang kita memang akan mengalami pengeroposan. Ini alami. Namun harus tetap dijaga dan diwaspadai. Terutama pada empat titik. Yakni panggul, pergelangan tangan, sendi bahu, dan tulang belakang. Rata-rata kasusnya titik ini patah akibat terjatuh. Bahkan jika keropos, batuk juga bisa mengakibatkan patah tulang keras. Ini yang saya temui,” ungkap Hendra.
Salah satu gejala osteoporosis yang paling mudah terlihat lanjutnya, adalah ketika seseorang tampak lebih pendek. Pada ibu-ibu misalnya, ketika memakai daster, ukuran yang semula pas menjadi kedodoran. Ini merupakan rangkaian penurunan pada tulang belakang.
“Namun bukan hanya orang tua saja yang waspada, yang muda pun jika tidak menjaga densitas massa dan kepadatan tulangnya sejak dini. Maka risiko patah tulang sangat tinggi. Ini pernah kejadian. Ada anak muda usia 20 tahunan mengalami patah tulang. Saat saya cek, tulangnya sangat rapuh,” ungkapnya.
Karena itu Hendra mengingatkan kepada generasi muda untuk sejak dini “menabung” kalsium. Menabung di sini artinya memupuk sebanyak mungkin kalsium dalam tulang. Karena berdasarkan usia, tulang akan terus menerus menyerap kalsium hingga usia 30 tahun. Setelah itu akan terjadi penurunan penyerapan. Sehingga osteoporosis kata dia, akan bisa dikurangi risikonya jika sejak muda seseorang rajin “menabung” kalsium.
“Sumbernya dari mana? Kalsium banyak sumbernya. Beberapa jenis makanan atau minuman seperti susu kedelai/susu almond, tempe, tahu, ikan, kacang-kacangan dan brokoli. Lalu penuhi vitamin D. Vitamin D dapat diperoleh dari berbagai jenis sumber makanan dan minuman seperti susu dan ikan-ikanan,” ulasnya.
Namun ada tips. Diketahui, vitamin D berfungsi untuk meningkatkan kadar penyerapan kalsium di dalam usus serta mengatur kadar kalsium agar tidak terlalu rendah dan kesehatan tulang akan tetap terjaga. Sehingga untuk memaksimalkan penyerapan tersebut, Hendra menganjurkan berjemur di bawah sinar matahari untuk mengubah pro vitamin D menjadi vitamin D. Waktunya pagi hari yakni pukul 07.00 – 08.00. Lebih dari itu, lanjut dia, jika terlalu siang ada risiko terkena kanker kulit.
“Dan harus dirangsang dengan olahraga. Sehingga maksimal terserapnya kalsium dalam tulang. Hindari malas bergerak dan obesitas. Ini penyebab banyak anak muda kita tulangnya lebih mudah patah. Hindari rokok, alkohol dan konsumsi gula berlebih. Terutama hal-hal yang bisa mengganggu metabolisme tubuh,” ungkapnya. (rdh2)
Editor : Muhammad Ridhuan