Menurut Dr. Sara Bonnes, direktur medis Healthy Longevity Clinic di Mayo Clinic, kecepatan berjalan dapat memberikan gambaran menyeluruh mengenai bagaimana tubuh berfungsi, terutama koordinasi otot dan tingkat kebugaran secara keseluruhan.
“Tes ini sederhana, tapi sarat makna. Ia memberi tahu saya apakah seseorang bergerak dengan baik sesuai usianya,” ujarnya kepada Business Insider.
Hanya dengan stopwatch dan pita ukur, siapa pun bisa mengetahui bagaimana tubuh mereka menua. Semakin cepat langkah Anda, semakin besar kemungkinan tubuh Anda masih bekerja secara optimal.
Penurunan kecepatan berjalan bukan sekadar tanda lelah. Sejumlah studi menunjukkan bahwa melambatnya langkah kaki bisa menjadi petunjuk awal penurunan kesehatan secara menyeluruh, termasuk gangguan mobilitas, risiko jatuh yang lebih tinggi, bahkan kemungkinan kematian dini.
Profesor Christina Dieli-Conwright dari Harvard Medical School menyatakan bahwa kecepatan berjalan bisa mencerminkan kemampuan seseorang menjalani aktivitas harian—dari memasak, berbelanja, hingga menyetir.
“Begitu kecepatannya menurun, sering kali ada kondisi medis serius di baliknya,” jelasnya kepada BBC.
Fakta menarik lainnya datang dari studi terhadap perempuan usia 50 hingga 79 tahun. Hasilnya, mereka yang rutin berjalan cepat memiliki risiko gagal jantung 34% lebih rendah dibandingkan mereka yang melangkah lamban.
Tak hanya soal fisik, kecepatan berjalan juga dikaitkan dengan kondisi otak. Penelitian menemukan bahwa orang dewasa dengan langkah lambat cenderung mengalami penurunan fungsi kognitif, seperti memori, penalaran, dan kecepatan berpikir.
Bahkan, pemindaian otak menunjukkan adanya perubahan struktur otak pada kelompok ini.
Hubungan antara langkah kaki dan risiko demensia juga semakin diperkuat oleh studi terbaru. Orang yang mempertahankan kecepatan berjalan stabil dari tahun ke tahun ternyata memiliki peluang lebih kecil terkena gangguan kognitif berat di masa depan.
“Apapun penyebabnya, saat langkah melambat, itu nyaris selalu menandakan adanya penurunan kesehatan secara umum,” ungkap Dr. Amit Sachdev dari Michigan State University.
Editor : Uways Alqadrie