Menurut dr. Andri Prasetya, SpKO, dokter spesialis kedokteran olahraga dari RSUP Persahabatan, pull-up adalah latihan fungsional yang sangat baik untuk melatih kekuatan dan daya tahan otot.
“Gerakan ini melibatkan otot latissimus dorsi, trapezius, biceps, dan core. Konsistensi latihan dapat meningkatkan postur tubuh, kekuatan genggaman, dan juga metabolisme tubuh,” jelasnya.
Namun, menurut dr. Andri, gerakan pull-up memang tergolong berat bagi pemula. Ia menyarankan untuk memulai dengan latihan pendukung seperti dead hang, negative pull-up, atau resistance band pull-up agar tubuh terbiasa dengan pola gerakannya.
Tak hanya dari sisi kekuatan, olahraga pull-up juga memberikan manfaat psikologis. “Gerakan ini menuntut fokus dan kontrol tubuh yang baik. Jika dilakukan rutin, dapat memberikan rasa percaya diri dan pencapaian personal,” tambahnya.
Sementara itu, Satria Pranata, pelatih kebugaran bersertifikat dari Jakarta, menyebutkan bahwa cukup melakukan pull-up 2–3 kali seminggu untuk melihat hasil. “Latihan tidak perlu terlalu banyak. Fokus pada teknik yang benar dan progres secara bertahap,” ujarnya.
Pull-up juga cocok bagi mereka yang ingin olahraga praktis tanpa alat mahal. Hanya dengan palang besi atau bahkan batang pohon yang kokoh, latihan bisa dilakukan di mana saja.
Namun, penting untuk memastikan pemanasan yang cukup dan menghindari gerakan mendadak yang bisa memicu cedera bahu atau siku.
Tips untuk Pemula:
Mulai dari dead hang selama 10–30 detik.
Lakukan negative pull-up dengan perlahan.
Gunakan resistance band sebagai bantuan.
Perhatikan posisi tangan selebar bahu dan jangan mengayun.
Dengan teknik yang tepat dan latihan teratur, pull-up bisa menjadi solusi sederhana untuk membentuk tubuh bagian atas yang kuat dan sehat.
Editor : Uways Alqadrie