Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sarapan atau Intermittent Fasting? Mana yang Cocok Buat Gaya Hidupmu?

Alisha Indah Latifa • Rabu, 6 Agustus 2025 | 15:55 WIB

Foto ilustrasi
Foto ilustrasi
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Selama bertahun-tahun, sarapan disebut-sebut sebagai “waktu makan paling penting dalam sehari”. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, tren intermittent fasting (IF) justru mulai menggeser pandangan tersebut.

Banyak orang melewatkan sarapan demi mendapatkan manfaat dari pola makan dengan jeda waktu ini. Pertanyaannya, mana yang sebenarnya lebih sehat? Dan mana yang cocok buat kamu?

Sarapan memang memiliki sejumlah manfaat fisiologis. Menurut American Heart Association, orang yang rutin sarapan cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap obesitas, penyakit jantung, dan gangguan metabolik. 

Sarapan juga membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil sepanjang hari, meningkatkan fokus, serta memberi energi untuk memulai aktivitas. 

Sebuah studi dalam The Journal of Nutrition (2020) menemukan bahwa orang yang rutin sarapan cenderung memiliki pola makan yang lebih seimbang secara keseluruhan.

Namun, di sisi lain, intermittent fasting—terutama pola 16:8, yaitu puasa selama 16 jam dan makan dalam jendela waktu 8 jam—menawarkan manfaat kesehatan yang juga signifikan. Penelitian dari Harvard Medical School menjelaskan bahwa IF bisa meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki sistem pencernaan, dan membantu mengatur berat badan. 

Bahkan ada penelitian awal yang menyebutkan bahwa pola makan ini juga berdampak positif terhadap fungsi otak dan potensi pencegahan penyakit degeneratif.

Menariknya, tidak ada satu jawaban mutlak soal mana yang lebih baik. Dr. Monique Tello dari Harvard menekankan bahwa efektivitas IF atau sarapan tergantung pada kondisi tubuh, gaya hidup, dan tujuan kesehatan seseorang. Misalnya, jika kamu punya aktivitas fisik yang tinggi di pagi hari, tubuhmu cenderung butuh asupan energi dari sarapan. 

Tapi jika kamu merasa lebih fokus dan ringan saat menjalani pagi tanpa makan, dan bisa menjaga pola makan sehat di siang–malam hari, maka IF bisa jadi pilihan yang masuk akal.

Namun penting dicatat, baik sarapan maupun IF harus tetap memperhatikan kualitas makanan. Sarapan tinggi gula seperti roti putih dan minuman manis justru bisa merugikan metabolisme. Sebaliknya, IF yang diisi dengan makan besar berkalori tinggi dalam waktu singkat juga bisa berbahaya.

Jadi, bukan soal siapa yang sarapan dan siapa yang puasa, tapi apakah pola makan itu mendukung kebutuhan tubuh dan bisa dijalani secara konsisten. 

Karena kesehatan bukan tentang ikut tren, tapi tentang mengenal tubuh sendiri dan memilih yang paling realistis dan berkelanjutan.

 

 

Editor : Uways Alqadrie
#sarapan #manfaat kesehatan #gaya hidup sehat #Intermittent fasting