Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Balut Lagi Viral di Sosmed: Benarkah Halal dan Aman Dikonsumsi?

Alisha Indah Latifa • Senin, 15 September 2025 | 11:38 WIB
Photo
Photo

KALTIMPOST.ID, Belakangan, media sosial diramaikan oleh konten para influencer yang mencoba balut, makanan unik berupa telur bebek berembrio yang direbus dan dimakan langsung.

Sebagian orang menyebut balut kaya nutrisi dan bermanfaat untuk kesehatan, sementara yang lain merasa tidak tega atau mempertanyakan keamanannya. Jadi, sebenarnya bagaimana fakta tentang makanan khas Filipina ini?

Asal Usul Balut

Balut berasal dari Filipina dan telah lama menjadi bagian dari budaya kuliner setempat. Kata “balut” berarti “tertutup” atau “dibungkus”, merujuk pada embrio bebek yang masih berada dalam selaput telur.

Proses pembuatannya dimulai dari telur bebek yang dibuahi lalu dierami selama 17–18 hari, kemudian direbus. Makanan ini juga ditemukan di Vietnam dengan nama hot vit lon dan di Kamboja.

Kandungan Nutrisi

Penelitian oleh Bondoc dkk. (2023) yang meneliti balut dari bebek Itik Pinas di Filipina menemukan bahwa dalam satu telur balut terkandung:

Menurut ulasan dalam Journal of Ethnic Foods (2019), balut dianggap sebagai sumber energi yang padat nutrisi, sering dijadikan camilan malam hari di Filipina.

Manfaat Potensial

Konsumsi balut dalam jumlah wajar dapat memberikan manfaat kesehatan, antara lain:

  1. Menambah energi dan protein untuk pemulihan tubuh.
  2. Mendukung kesehatan tulang berkat kandungan kalsium dan fosfor.
  3. Menyumbang antioksidan alami dari kuning telur, termasuk vitamin A.
  4. Meningkatkan kualitas lemak jika dibandingkan dengan telur biasa, karena rasio lemak tak jenuh lebih baik pada balut umur tertentu.

Risiko dan Kontroversi

Namun, balut juga menimbulkan beberapa catatan:

Apakah Halal untuk Muslim?

Pertanyaan besar muncul di kalangan Muslim: apakah balut halal?
Sebagian ulama menganggap balut tidak halal karena embrio yang mati di dalam telur dianggap “bangkai” dan tidak disembelih sesuai syariat.

Namun, ada juga pendapat lain yang membolehkan jika embrio masih berupa gumpalan tanpa bentuk jelas.

Karena ada perbedaan pandangan, sebaiknya umat Muslim berhati-hati dan merujuk pada fatwa resmi di negara masing-masing.

Balut memang unik sekaligus kontroversial. Dari sisi gizi, telur bebek berembrio ini terbukti kaya protein, lemak sehat, serta mineral penting.

Namun, faktor keamanan, kolesterol, hingga status halal membuatnya tidak bisa dikonsumsi sembarangan, terutama bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim.

Bagi yang penasaran, pastikan balut dimasak dengan baik, konsumsi dalam jumlah wajar, dan perhatikan aturan agama maupun kesehatan pribadi.

Pada akhirnya, apakah balut sekadar tren viral atau benar-benar bisa jadi pilihan makanan bergizi, semua kembali pada keputusan masing-masing. (*)

Editor : Almasrifah
#embrio bebek #risiko #Asal Usul Balut #balut #protein #nutrisi