Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Membedakan Batuk Pilek Biasa dari Pneumonia, Tanda Bahaya yang Wajib Diketahui Orang Tua  

Ari Arief • Rabu, 12 November 2025 | 12:22 WIB

 

Dokter Kanya Ayu Paramastri
Dokter Kanya Ayu Paramastri

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Batuk dan pilek sering kali dianggap remeh, sebagai gangguan kesehatan umum yang dapat diatasi dengan istirahat dan obat bebas. Namun, orang tua harus waspada, sebab gejala yang tampak ringan pada anak bisa menjadi tanda awal Pneumonia, yaitu infeksi serius pada paru-paru yang memerlukan penanganan medis segera.

Menurut Dokter Spesialis Anak Kanya Ayu Paramastri, pemahaman yang benar mengenai perbedaan kedua kondisi ini sangat krusial agar orang tua tidak salah dalam mengambil tindakan.

"Ada banyak kesalahpahaman. Penting untuk membedakan, apakah ini batuk pilek biasa atau kondisi yang lebih serius, yaitu Pneumonia," jelas Dokter Kanya dalam acara Media Session World Pneumonia Day 2025 bertema “Unlocking Every Breath: Together Against Pneumonia” di Jakarta Pusat, Senin (10/11).

Empat Kunci Gejala Pneumonia

Dokter Kanya menjelaskan bahwa Pneumonia didiagnosis secara klinis dengan harus adanya empat gejala utama, yaitu demam, batuk, sesak napas, kekurangan oksigen. "Harus ada keempat kriteria ini. Tidak semua kasus batuk pilek dan demam biasa bisa langsung disebut sebagai Pneumonia," tegasnya.

Baca Juga: Musim Pancaroba Tiba, Warga Diimbau Waspada Flu dan Batuk

Jika anak hanya mengalami batuk pilek tanpa adanya tanda sesak atau kekurangan oksigen, kemungkinan besar itu adalah batuk pilek biasa. Sulit bernapas melalui hidung karena mampet atau adanya lendir, sehingga anak bernapas melalui mulut, masih dianggap wajar selama tidak ada indikasi sesak.

Pneumonia adalah peradangan atau infeksi pada paru-paru. Salah satu penyebab paling umum adalah bakteri Streptococcus pneumoniae. Meskipun dapat menyerang siapa saja, anak-anak lebih rentan karena sistem kekebalan tubuh mereka belum matang sepenuhnya.

Tanda Kegawatan dan Sesak Napas

Gejala Pneumonia pada umumnya meliputi demam, batuk, nyeri kepala, nyeri dada, penurunan nafsu makan, serta tubuh yang terasa lesu dan lemas.

Poin utama yang membedakan Pneumonia dari batuk pilek biasa adalah munculnya tanda-tanda sesak napas (distress pernapasan).

Dokter Kanya merincikan tanda kegawatan tersebut:

Baca Juga: Herbal Kalimantan: Rumput Hiring Dikunyah untuk Mengobati Maag dan Batuk Etnis Dayak Meratus di IKN

Orang tua harus waspada dan tidak terkecoh. Terkadang anak yang sesak masih dapat terlihat bermain atau tersenyum. "Jangan sampai tertipu. Meskipun anak terlihat santai-santai, padahal ia sedang sesak," ia mengingatkan.

Jika terdeteksi satu saja tanda kegawatan seperti napas cepat, retraksi dada, atau cuping hidung kembang kempis, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan guna mencegah komplikasi yang lebih serius.

Upaya Pencegahan Pneumonia

Pneumonia merupakan penyakit yang dapat dicegah. Dokter Kanya menyarankan beberapa langkah sederhana untuk memperkuat pertahanan anak. Pertama, nutrisi seimbang dengan memastikan asupan gizi yang adekuat untuk membangun sistem kekebalan tubuh yang kuat.

Baca Juga: Rahasia Herbal Kalimantan: Dipercaya sebagai Obat Batuk Alami Etnis Kutai, Gandarusa Ternyata Teruji Menurunkan Gula Darah Penderita Diabetes

Kedua, istirahat cukup, tidur yang berkualitas sangat penting untuk pemulihan dan peningkatan daya tahan tubuh. Ketiga, Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui langkah-langkah pencegahan penularan penyakit meliputi rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, gunakan masker saat sakit atau berada di lokasi yang padat.

Berikutnya, terapkan etika batuk yang benar (menutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam).

Keempat, Imunisasi PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine). Vaksinasi ini melindungi dari infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae, penyebab utama Pneumonia. PCV direkomendasikan untuk bayi pada usia 12 minggu dan dilanjutkan pada atau setelah usia 1 tahun, orang dewasa berusia 65 tahun ke atas.

Berikutnya, anak-anak dan orang dewasa dengan kondisi kesehatan kronis tertentu, seperti gangguan ginjal atau penyakit jantung serius.(*)

 

Editor : Thomas Priyandoko
#pilek #waspada #anak #batuk