KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Penyakit ginjal sering kali dijuluki sebagai ancaman tersembunyi karena sifatnya yang asimtomatik, berkembang secara perlahan tanpa menunjukkan gejala yang berarti di fase awal. Ironisnya, banyak pasien baru menyadari kondisi mereka saat ginjal sudah mengalami kerusakan berat dan membutuhkan penanganan medis tingkat lanjut.
Di Indonesia, fenomena ini kian memprihatinkan. Berdasarkan data 2024, tercatat lebih dari 1,5 juta kasus gagal ginjal terjadi sepanjang tahun sebelumnya, dengan total biaya pengobatan nasional mencapai Rp 2,92 triliun.
Angka ini menegaskan bahwa kesadaran akan kesehatan ginjal bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan untuk menekan tren kasus kronis serta kasus akut pada anak-anak.
Merujuk pada laporan Times of India (10/1), terdapat beberapa indikator fisik yang sering dianggap remeh, padahal merupakan sinyal peringatan dari ginjal.
Baca Juga: Enam Ciri Seseorang Terserang Subclade K, Varian Super Flu yang Sedang Mendunia
Keletihan Ekstrem dan Gangguan Fokus
Menurunnya kemampuan ginjal dalam menyaring darah mengakibatkan akumulasi racun dalam tubuh. Dampaknya, seseorang akan merasa cepat lelah dan sulit berkonsentrasi. National Kidney Foundation juga menyebutkan bahwa penyakit ginjal sering memicu anemia, yang memperparah rasa lemas dan tidak berenergi.
Masalah Kulit (Kering dan Gatal)
Banyak yang mengira kulit gatal hanya masalah kelembapan biasa. Padahal, ini bisa jadi tanda ketidakseimbangan mineral dalam darah. Saat ginjal gagal menjaga kadar nutrisi dan mineral yang tepat, tubuh bereaksi melalui kondisi kulit yang kering dan rasa gatal yang menetap.
Kualitas Tidur yang Menurun
Baca Juga: Hati-hati! Sehat Tanpa Rokok tapi Stroke karena Minuman Energi
Sulit tidur atau insomnia sering kali berkaitan dengan fungsi filtrasi ginjal yang buruk. Ketika limbah tubuh tidak terbuang melalui urine dan justru mengendap di darah, pola tidur akan terganggu. Riset dalam jurnal Kidney Medicine (2022) mengonfirmasi bahwa penderita gangguan ginjal kronis stadium lanjut umumnya memiliki masalah tidur yang signifikan.
Pembengkakan di Area Mata
Bangun tidur dengan mata sembab sering dianggap sebagai efek kurang istirahat. Namun, secara medis, ini bisa menjadi indikasi proteinuria—kondisi di mana ginjal justru membuang protein ke dalam urine alih-alih mempertahankannya dalam tubuh. Kebocoran protein inilah yang menyebabkan jaringan di sekitar mata membengkak.
Edema pada Kaki dan Pergelangan Kaki
Baca Juga: Bukan Hanya Telur, Inilah 12 Sumber Protein Tinggi untuk Tubuh Sehat
Ketidakmampuan ginjal membuang kelebihan garam (natrium) memicu retensi cairan di bagian ekstremitas bawah, seperti kaki dan pergelangan kaki. Meski pembengkakan ini juga bisa merujuk pada gangguan jantung atau hati, kemunculannya tetap memerlukan pemeriksaan medis segera.
Mengenali tanda-tanda tersebut adalah langkah awal yang bijak. Karena gejala ini bisa tumpang tindih dengan penyakit lain, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan fungsi ginjal secara rutin, terutama bagi individu yang berisiko tinggi.(*)
Editor : Hernawati