KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Seringkali terjebak dalam membandingkan kehidupan pribadi dengan orang lain, yang justru merusak kebahagiaan sendiri.
Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: seberapa sering pasangan bahagia melakukan hubungan intim? Apakah frekuensi yang tinggi selalu menjamin hubungan yang berkualitas?
Dr. Carolina Castaños, seorang psikolog klinis yang ahli dalam terapi keluarga dan pernikahan, mengungkapkan bahwa sebenarnya tidak ada "angka keramat" untuk menentukan tingkat kebahagiaan sebuah pasangan melalui seks.
Kualitas di Atas Kuantitas
Menurut Dr. Carolina, setiap pasangan memiliki standar kenyamanan yang berbeda-beda. Frekuensi yang tinggi bukanlah jaminan bahwa sebuah hubungan berjalan sehat atau memuaskan.
Baca Juga: Hanya 10 Menit Bersepeda, Tubuh Mampu Memproduksi Senyawa Anti-Kanker, Benarkah?
"Hubungan intim bisa dilakukan setiap hari tanpa ada rasa kedekatan emosional, atau hanya dilakukan seminggu sekali namun terasa sangat mendalam. Keintiman yang berkualitas justru lahir dari rasa aman dan koneksi yang kuat antarpasangan," jelas Carolina, seperti yang dilaporkan oleh Unilad.
Dia menganalogikan seks bukan seperti kebutuhan pokok (makan atau minum) yang memiliki takaran pasti. Seks berfungsi sebagai pelengkap ikatan emosional, bukan satu-satunya penopang keharmonisan rumah tangga.
Meskipun bersifat sangat personal, aktivitas seksual tetap menjadi elemen penting. Jika dalam sebuah hubungan tidak terjadi kontak seksual selama lebih dari satu bulan, Dr. Carolina menyarankan pasangan untuk waspada. Hal ini bisa menjadi indikator adanya masalah emosional yang lebih mendalam yang belum terselesaikan.
Baca Juga: Kasus Pengeroyokan Guru di Jambi Berlanjut ke Jalur Hukum, 12 Siswa Terancam?
Seks Bukanlah Alat Pelarian
Sangat penting untuk memahami bahwa seks yang intens tidak selalu berarti hubungan sedang baik-baik saja. Jika kehidupan di ranjang terasa aktif namun komunikasi dan keseharian bermasalah, ada kemungkinan seks digunakan sebagai pelarian atau untuk menutupi kekosongan batin.
Secara biologis, orgasme memicu pelepasan oksitosin, hormon yang mampu menekan hormon stres (kortisol).
Efek euforia dan rasa nyaman yang ditimbulkan bisa memicu ketergantungan, di mana seseorang terus mencari kepuasan fisik hanya untuk meredakan ketegangan mental sesaat, tanpa memperbaiki akar masalah dalam hubungan.(*)
Editor : Hernawati