Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tragedi di Stadion Gajayana Malang, Memahami Risiko Serangan Jantung Saat Berolahraga

Ari Arief • Senin, 19 Januari 2026 | 16:26 WIB

FC Kuncoro (alm), asisten Pelatih Arema FC (kiri).
FC Kuncoro (alm), asisten Pelatih Arema FC (kiri).

KALTIMPOST.ID,MALANG-Kabar duka datang dari dunia sepak bola tanah air. Asisten pelatih Arema FC, Kuncoro, mengembuskan napas terakhirnya di usia 52 tahun saat berpartisipasi dalam laga amal peringatan satu abad Stadion Gajayana, Malang, Jatim.

Sebelum dinyatakan meninggal akibat serangan jantung, ia sempat pingsan di lapangan dan menerima tindakan darurat berupa resusitasi jantung paru (RJP). Peristiwa ini memicu pertanyaan penting apakah serangan jantung yang terjadi saat aktivitas fisik memiliki gejala yang spesifik?

Mengenali Gejala di Tengah Aktivitas

Menurut spesialis jantung, dr. Vito Damay, SpJP(K), gejala serangan jantung saat berolahraga bisa sangat bervariasi bagi setiap individu. Namun, indikasi yang paling umum meliputi rasa sesak di dada. Dada terasa seperti tertekan benda berat, diremas, atau muncul sensasi panas (terbakar).

Baca Juga: Strategi Menurunkan Kadar Gula pada Nasi, Mengapa Nasi Dingin Lebih Sehat?

Ketidaknyamanan yang ambigu yaitu banyak pasien sulit mendeskripsikan rasa sakitnya, namun secara umum mereka merasa ada yang "salah" di area dada. Sering kali mendengar ungkapan bahwa korban serangan jantung sebelumnya terlihat bugar dan tidak menunjukkan gejala apa pun. Dr. Vito menjelaskan bahwa fenomena ini memang sering terjadi.

“Penyakit jantung koroner sering kali berkembang secara tersembunyi selama bertahun-tahun. Saat kita melakukan olahraga berat, jantung memerlukan asupan oksigen yang melonjak drastis," jelas dr. Vito.

Jika terdapat sumbatan atau penyempitan pembuluh darah yang tidak terdeteksi, aktivitas fisik yang intens dapat menjadi pemicu serangan jantung atau gangguan irama jantung yang mematikan, terlepas dari seberapa aktif orang tersebut sebelumnya.

Baca Juga: Bukan Soal Angka, Inilah Alasan Mengapa Kualitas Seks Lebih Penting daripada Kuantitas

Pentingnya Skrining Meski Merasa "Fit"

Menjalani gaya hidup sehat atau rutin berolahraga ternyata bukan jaminan mutlak seseorang bebas dari risiko jantung. Beberapa faktor risiko yang sering terabaikan meliputi faktor usia (terutama di atas 35–40 tahun).

Riwayat tekanan darah tinggi, kolesterol, atau diabetes. Kebiasaan merokok di masa lalu yang telah meninggalkan plak pada pembuluh darah. Faktor genetika atau riwayat kesehatan keluarga.

Banyak orang merasa sehat karena tidak pernah melakukan pemeriksaan medis secara rutin (medical check-up). Padahal, olahraga yang aman seharusnya diawali dengan pemahaman terhadap kondisi kesehatan jantung masing-masing.(*)

Editor : Hernawati
#jantung #gejala #oksigen #pasien #olahraga