Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Jadi Perdebatan, Benarkah GERD Mematikan? Simak Penjelasan Dokter Spesialis dan Pencegahannya

Monika Dwi Hermawan • Selasa, 27 Januari 2026 | 05:30 WIB

 

Ilustrasi Penyakit GERD
Ilustrasi Penyakit GERD

KALTIMPOST.ID, Topik penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) mendadak ramai diperbincangkan hingga memuncaki daftar tren di platform X (Twitter) Indonesia.

Keriuhan ini bermula saat netizen mengaitkan riwayat penyakit lambung almarhumah Lula Lahfah dengan penyebab kematiannya, yang kemudian memicu kecemasan di kalangan sesama penderita penyakit serupa.

Menanggapi ketakutan dan informasi simpang siur tersebut, sejumlah dokter spesialis mulai angkat bicara untuk memberikan edukasi.

Salah satunya adalah dokter spesialis jantung dr. Dwita Rian Desandri (@wita_desandri), yang menjelaskan bahwa GERD tidak secara mendadak menghentikan detak jantung.

Meski ada gejala bernama heartburn atau rasa terbakar di dada, hal tersebut secara medis sangat berbeda dengan mekanisme serangan jantung.

Namun, unggahan edukasi tersebut justru memicu pro dan kontra. Banyak warganet yang menyangkal, bahkan melayangkan hujatan karena masih meyakini bahwa GERD adalah penyebab utama kematian mendadak sebab mereka mengalami gejala-gejala GERD serius yang dirasa sangat mengkhawatirkan.

GERD sendiri terjadi saat asam lambung naik kembali ke kerongkongan, yang dapat memicu nyeri ulu hati, sensasi terbakar, hingga gangguan di area dada bawah. Kondisi ini disebabkan oleh melemahnya katup (sfingter) di bagian bawah kerongkongan.

Normalnya, katup ini menutup rapat setelah makanan masuk ke perut. Jika katup mengendur tidak normal, asam lambung akan bocor ke atas dan memicu iritasi.

Kondisi ini sering kali diperparah oleh hernia hiatus, yaitu bergesernya bagian atas perut ke atas otot diafragma, sehingga fungsi diafragma sebagai penahan asam menjadi tidak maksimal.

Meski gejalanya tampak menakutkan, para ahli menegaskan bahwa GERD tidak langsung mengancam nyawa. Bahaya akan muncul apabila GERD tidak diobati dan terjadi komplikasi yang tidak ditangani dengan baik.

dr. Gregory Budiman, seorang dokter umum yang juga dikenal sebagai praktisi di bidang estetika, melalui platform Threads menjelaskan kondisi kritis yang mungkin terjadi untuk penderita penyakit GERD.

Saat tidur, asam lambung bisa naik ke tenggorokan dan masuk ke saluran napas, yang mengakibatkan laringospasme.

Kondisi ini membuat penderita merasa tercekik atau sulit bernapas (asfiksia), dalam kondisi ekstrem dapat berujung fatal.

Di sisi lain, dr. Dwita Rian Desandri kembali menekankan bahwa jika ada penderita GERD yang meninggal secara mendadak, kemungkinan besar terdapat masalah pada jantung yang tidak terdeteksi.

Sayangnya, minimnya prosedur otopsi di Indonesia membuat masyarakat awam sering kali menyimpulkan sendiri diagnosis akhir berdasarkan gejala awal yang dirasakan pasien.

Hal tersebut juga dibela oleh dr. Ayman Alatas dan dr. Tirta Mandira Hudhi seorang dokter umum yang sangat populer di platform X, TikTok, dan Instagram.

GERD sering kali dipicu oleh stres yang tidak terkelola dengan baik serta pola hidup yang tidak sehat. Untuk mencegah, masyarakat disarankan menjaga pola makan dengan mengurangi konsumsi makanan asam, pedas, kafein, alkohol, cokelat, serta berhenti merokok.

Hindari kebiasaan makan dalam porsi besar sekaligus dan jangan langsung tidur setelah makan. Selain itu, posisi tidur dengan kepala lebih tinggi dan menghadap ke arah kiri sangat dianjurkan.

Posisi miring ke kiri memanfaatkan gaya gravitasi untuk menahan isi lambung agar tidak mengalir balik ke katup kerongkongan, sehingga meminimalisir risiko refluks. (*)

Editor : Almasrifah
#gerd #info kesehatan #asam lambung #edukasi kesehatan #lula lahfah #serangan jantung #GERD anxiety