KALTIMPOST.ID – Tekanan darah tinggi bukan sekadar penyakit biasa. Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat memicu gangguan jantung hingga stroke akibat pecah pembuluh darah di otak. Hipertensi terjadi ketika jantung harus memompa darah dengan tekanan lebih tinggi ke seluruh tubuh.
“Kalau tekanannya tinggi berarti jantung harus memompa lebih keras,” papar dokter yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Medika Sangatta Kutai Timur, Muhammad Yusuf Aditya Prawira.
Kondisi itu membuat otot jantung menebal dan ukuran jantung membesar. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai hypertensive heart disease atau penyakit jantung akibat hipertensi.
Namun, risiko paling berbahaya terjadi ketika tekanan darah tinggi berlangsung terus-menerus hingga menyebabkan pembuluh darah pecah. “Kalau pembuluh darah di otak pecah jadinya stroke,” ujar dr Yusuf.
Baca Juga: Jangan Langsung Divonis Hipertensi, Pemeriksaan Tensi Ternyata Ada Aturannya
Stroke terbagi menjadi dua jenis, yakni stroke sumbatan dan stroke perdarahan. Pada penderita hipertensi, risiko yang paling sering muncul adalah stroke perdarahan. Selain hipertensi, kolesterol tinggi dan diabetes juga dapat memperparah kerusakan pembuluh darah hingga memicu stroke akibat sumbatan.
Karena itu, dr Yusuf menekankan pentingnya skrining kesehatan rutin meski tubuh terasa sehat dan tidak memiliki keluhan. Dia menyarankan pemeriksaan tekanan darah dilakukan sesuai kondisi masing-masing orang. Bila tekanan darah benar-benar normal, pemeriksaan bisa dilakukan setiap beberapa tahun sekali. Namun jika hasilnya mulai mendekati batas tinggi, pemeriksaan perlu dilakukan tiap tahun.
“Kalau tensinya normal tinggi sekitar 130 sampai 139, itu kita ukur tiap tahun,” ujarnya. Dia juga mengungkap adanya fenomena hipertensi jas putih atau white coat hypertension. Kondisi tersebut terjadi ketika tekanan darah seseorang selalu tinggi saat diperiksa di rumah sakit atau klinik, tetapi normal saat di rumah. “Mungkin pasiennya stres atau takut duluan,” katanya.
Baca Juga: Hipertensi di Kaltim Bergeser ke Usia Muda, Dokter Soroti Sedentary Life
Sebagai langkah pencegahan, dr Yusuf mengajak masyarakat menerapkan pola hidup CERDIK. Mulai dari cek kesehatan rutin, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat, istirahat cukup, dan kelola stres.
Dia juga mengingatkan pentingnya pola makan seimbang melalui konsep “Isi Piringku”. Dalam satu piring makan, separuh porsi sebaiknya diisi sayur dan buah. “Artinya harus banyak makan serat,” katanya.
Sementara konsumsi gula, garam, dan lemak juga harus dibatasi. Untuk garam, batas konsumsi harian maksimal hanya satu sendok teh. Menurutnya, gaya hidup modern dengan konsumsi makanan instan, camilan kemasan, dan kurang aktivitas fisik menjadi tantangan besar bagi generasi muda saat ini. “Banyak anak sekarang masuk usia SMP itu sudah mulai merokok," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo