Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

371 Ribu Warga Kaltim Diperkirakan Idap Hipertensi, Samarinda Tertinggi

Nasya Rahaya • Sabtu, 23 Mei 2026 | 17:21 WIB
dr Jaya Mualimin, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim
dr Jaya Mualimin, Kepala Dinas Kesehatan Kaltim

KALTIMPOST.ID - Hipertensi atau tekanan darah tinggi masih menjadi persoalan kesehatan yang cukup serius di Bumi Etam. Dinas Kesehatan mencatat, jumlah estimasi penderita hipertensi usia di atas 15 tahun pada 2025 mencapai 371.317 orang.

Penyakit hipertensi disebut sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan gejala, namun berisiko menyebabkan komplikasi berat seperti stroke, penyakit jantung, gagal ginjal hingga gangguan pembuluh darah.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr Jaya Mualimin menjelaskan, dari total estimasi penderita tersebut, sebanyak 354.459 orang atau sekitar 95,5 persen sudah mendapatkan pelayanan kesehatan. “Hipertensi perlu menjadi perhatian serius karena apabila tidak dikendalikan dapat menyebabkan komplikasi kronis dan meningkatkan beban pembiayaan kesehatan,” ujarnya.

Data Dinkes Kaltim menunjukkan, estimasi penderita hipertensi terdiri dari 180.265 laki-laki dan 191.052 perempuan. Namun, capaian pelayanan kesehatan pada perempuan tercatat lebih tinggi dibanding laki-laki. Perempuan yang mendapatkan pelayanan kesehatan mencapai 197.442 orang atau 103,3 persen dari estimasi sasaran.

Baca Juga: Hipertensi Bisa Berujung Stroke, Dokter Ingatkan Pentingnya Skrining Rutin

Sementara laki-laki sebanyak 157.016 orang atau sekitar 87,1 persen. Menurut Jaya, kondisi tersebut menunjukkan perempuan cenderung lebih aktif melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dibanding laki-laki. Samarinda menjadi daerah dengan estimasi penderita hipertensi tertinggi di Kaltim, yakni mencapai 217.576 orang.

Sedangkan Mahakam Ulu menjadi daerah dengan estimasi penderita terendah sebanyak 10.549 orang. Dari sisi cakupan pelayanan kesehatan, beberapa daerah bahkan mencapai target hingga di atas 100 persen. Kutai Barat dan Balikpapan mencatat capaian 100 persen, sedangkan Paser mencapai 102,8 persen.

Jaya menjelaskan, capaian di atas 100 persen dapat terjadi karena adanya pasien dari luar wilayah yang ikut mendapatkan pelayanan kesehatan, meningkatnya penemuan kasus baru atau adanya perbedaan antara estimasi sasaran dengan realisasi pelayanan di lapangan.

Baca Juga: Jangan Langsung Divonis Hipertensi, Pemeriksaan Tensi Ternyata Ada Aturannya

Meski demikian, masih ada sejumlah daerah dengan cakupan pelayanan hipertensi yang relatif rendah. Berau misalnya, hanya mencapai 72,6 persen, Bontang 74,5 persen, dan Penajam Paser Utara 85 persen.

“Masih ada penderita hipertensi yang belum terjangkau layanan kesehatan secara optimal. Penyebabnya bisa karena keterbatasan akses pelayanan, rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan tekanan darah, maupun kepatuhan minum obat yang belum baik,” katanya.

Ia menambahkan, tingginya kasus hipertensi di Kaltim dipengaruhi sejumlah faktor risiko, seperti pola makan tinggi garam dan lemak, kurang aktivitas fisik, obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stres, faktor usia hingga keturunan.

Untuk menekan angka hipertensi, Dinkes Kaltim terus mendorong upaya promotif dan preventif melalui pelayanan kesehatan primer, terutama di puskesmas. Langkah yang dilakukan antara lain deteksi dini dan pemeriksaan rutin, penerapan pola hidup sehat, perilaku CERDIK, kepatuhan minum obat, serta penguatan layanan kesehatan primer.

Perilaku CERDIK yang di maksud ialah cek kesehatan secara berkala, enyahkan asap rokok, rajin aktivitas fisik, diet sehat (kalori seimbang), istirahat cukup, dan kelola stres. “Penguatan deteksi dini, peningkatan kesadaran masyarakat, penerapan gaya hidup sehat, dan optimalisasi pelayanan kesehatan primer menjadi langkah penting untuk menurunkan angka kesakitan dan komplikasi akibat hipertensi di Kaltim” tutup Jaya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#kesehatan Kaltim #hipertensi Kaltim #dr Jaya Mualimin #stroke #Dinkes Kaltim