KALTIM POST.ID,JAKARTA–Mengubah jadwal tidur—seperti tidur pukul 23.00 Wita di satu hari lalu baru terlelap pukul 01.00 Witadi hari berikutnya—sering kali dianggap sepele. Namun, para ahli kardiologi baru-baru ini memperingatkan bahwa ketidakkonsistenan jadwal tidur, meskipun durasinya mencukupi, memiliki risiko fatal yang sama besarnya dengan kurang tidur terhadap kesehatan jantung.
Temuan terbaru menunjukkan bahwa jadwal tidur yang tidak teratur secara langsung memicu peradangan kronis dan mempercepat aterosklerosis, yaitu penumpukan plak berbahaya di dalam pembuluh darah arteri.
Dr. Douglas Zuckermann, MD, seorang ahli kardiologi, menjelaskan bahwa ketidakstabilan waktu tidur merampas waktu pemulihan vital yang dibutuhkan organ jantung setiap malamnya. Akibatnya, tubuh merespons dengan memproduksi hormon stres secara berlebihan.
Baca Juga: Igor Tolic Siap Teruskan Tradisi Juara Persib Bandung
"Hal ini menyebabkan peningkatan hormon kortisol, lonjakan tekanan darah saat tidur, dan memicu lebih banyak peradangan. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, jantung dipaksa bekerja ekstra keras, yang secara drastis meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit jantung koroner," ujar Dr. Douglas.
Merusak Ritme Sirkadian dan Menolak Turunnya Tensi
Secara biologis, detak jantung dan tekanan darah diatur oleh jam internal 24 jam atau ritme sirkadian. Menurut ahli kardiologi Dr. Cynthia A. Kos, DO, FACC, jadwal tidur yang acak-acakan akan mengacaukan sistem ini dan memaksa tubuh berada dalam mode waspada (fight or flight) secara terus-menerus.
Baca Juga: Atasi Krisis Listrik 72 Desa Pedalaman, Ketua DPRD Kaltim Kawal Megaproyek PLTA Batoq Kelo
Dampak paling instan dari kacaunya jadwal tidur adalah hilangnya fase dipping—yaitu penurunan tekanan darah secara alami yang seharusnya terjadi saat manusia tertidur.
"Pasien yang tidak mengalami penurunan tekanan darah di malam hari akibat jadwal tidur yang berantakan, memiliki risiko jauh lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular," tegas ahli kardiologi lainnya, Dr. Caroline Ball, MD, FACC.
Ancaman Sindrom Metabolik
Baca Juga: Pelaku Pembunuhan WNA Korsel di Bekasi Ditangkap oleh Polda Metro Jaya, Motifnya Bikin Penasaran
Selain merusak pembuluh darah, tidur yang tidak teratur juga terbukti mengacaukan sistem metabolisme tubuh dalam memproses gula dan mengendalikan nafsu makan. Saat kelelahan akibat jam tidur yang bergeser, seseorang cenderung mengonsumsi makanan berkalori tinggi dan enggan berolahraga.
Data studi klinis terbaru menegaskan bahwa rendahnya keteraturan tidur berkaitan erat dengan lonjakan indeks massa tubuh (IMT) dan sindrom metabolik.
Para ahli juga mengingatkan warga untuk tidak "membayar utang tidur" secara berlebihan di akhir pekan. Pasalnya, durasi tidur yang terlalu lama sama bahayanya karena tetap mengganggu ritme sirkadian dan memicu regulasi glukosa darah yang buruk. Konsistensi jam tidur dan bangun setiap hari menjadi kunci utama menjaga kesehatan jantung tetap optimal.(*)
Editor : Thomas Priyandoko