KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Sebuah fajar baru menyingsing bagi dunia kedokteran global, khususnya dalam penanganan penyakit hati menular. Para peneliti internasional resmi melaporkan temuan obat eksperimental pertama di dunia yang mampu memberikan "kesembuhan fungsional" (functional cure) bagi penderita Hepatitis B kronis.
Obat ini memungkinkan pasien menghentikan total konsumsi obat-obatan tanpa memicu kembalinya virus berbahaya tersebut.
Obat revolusioner bernama bepirovirsen—atau dijuluki "Bepi"—dikembangkan oleh raksasa farmasi GSK bersama Ionis Pharmaceuticals. Berdasarkan hasil uji klinis berskala internasional yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, sebanyak 1 dari 5 pasien (sekitar 20 persen) yang mendapat suntikan obat ini menunjukkan hasil yang luar biasa.
Baca Juga: Antisipasi Kecelakaan di Jalur Poros, Satlantas Polres PPU Turun Tangan Tandai Jalan Berlubang
Sistem imun mereka mampu mengambil alih kendali penuh dan menekan virus hingga ke tingkat tidak terdeteksi.
"Selama berdekade-dekade, kita belum pernah memiliki metode pengobatan Hepatitis B yang mampu mencapai tingkat kesembuhan seperti saat ini," kata Dr. Seng Gee Lim dari National University Health System Singapura, yang memimpin studi global tersebut dalam konferensi pers sebelum pemaparan materi di Barcelona, Spanyol, seperti dikutip dari AP, Sabtu (30/5).
Menghentikan Ketergantungan Obat Harian
Baca Juga: Bukan Stadion Azteca, "Lapangan para Dewa" Meksiko Ternyata Ada di Dalam Kawah Gunung Berapi
Selama ini, ratusan juta penderita Hepatitis B kronis di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, harus bergantung pada konsumsi pil harian seumur hidup. Pengobatan standar tersebut hanya mampu menekan perkembangan virus, namun gagal menyembuhkan secara total karena virus Hepatitis B dikenal cerdik bersembunyi di dalam jaringan tubuh dan siap mengganas kembali jika pasien lalai minum obat.
Wakil Presiden GSK, Melanie Paff, menjelaskan cara kerja Bepi yang sangat progresif. Obat ini bekerja langsung mengikat komponen genetik virus, melumpuhkan kemampuan replikasinya, serta menekan protein permukaan kunci (Protein "S") yang biasanya mengecoh imun manusia. Alhasil, obat ini sekaligus bertindak merangsang sistem kekebalan tubuh pasien untuk menghancurkan sisa-sisa infeksi secara mandiri.
Baca Juga: Sikap Langka Presiden Meksiko, Hibahkan Tiket No. 00001 Piala Dunia 2026 kepada Gadis Pribumi
Dalam uji coba ketat terhadap 1.838 pasien, mereka yang diberikan suntikan Bepi mingguan selama enam bulan menunjukkan hasil yang bersih dari virus. Bahkan, setelah enam bulan penuh menghentikan total seluruh pengobatan dan pil harian, virus tetap tidak terdeteksi dan tidak bangkit kembali. Pengamatan jangka panjang mengonfirmasi kondisi kesembuhan stabil ini mampu bertahan hingga tiga tahun.
Langkah Besar yang Dinantikan
Hepatitis B kronis saat ini menjadi salah satu pembunuh senyap paling mematikan di dunia, yang memicu kanker hati serta gagal hati, dengan angka kematian mencapai 1,1 juta orang setiap tahunnya.
Baca Juga: Waspada! Jadwal Tidur Berubah-ubah Picu Kerusakan Arteri dan Penyakit Jantung
Pakar hepatitis terkemuka dari University of Michigan, Dr. Anna Lok, yang meninjau riset ini, menyebut temuan Bepi sebagai lompatan besar yang sudah dinantikan dunia medis selama puluhan tahun. Meski demikian, ia memberikan catatan bahwa uji klinis fase ini belum melibatkan pasien dengan komplikasi berat seperti sirosis (pengerasan hati).
Tingkat efektivitas yang tinggi ini membuat Bepi kini berada dalam peninjauan jalur cepat (fast-track review) oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), dengan keputusan final yang dijadwalkan keluar pada Oktober 2026 mendatang. Selain AS, otoritas regulasi kesehatan di Jepang, Tiongkok, dan Uni Eropa saat ini juga tengah mempercepat proses peninjauan agar obat ini bisa segera diproduksi massal dan diakses oleh jutaan pasien global.(*)
Editor : Thomas Priyandoko