Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tak Perlu Lagi ke Singapura, BPOM Resmi Rilis Obat Diabetes Inovatif Tirzepatide

Ari Arief • Minggu, 5 Juli 2026 | 15:43 WIB
Ilustrasi BPOM menyetujui inovatif obat diebetes, sehingga penderita tidak perlu lagi membelinya ke luar negeri.(generate ai)
Ilustrasi BPOM menyetujui inovatif obat diebetes, sehingga penderita tidak perlu lagi membelinya ke luar negeri.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) resmi menerbitkan izin edar untuk tirzepatide, obat diabetes inovatif terbaru. Langkah ini diharapkan mampu memperluas akses terapi bagi masyarakat sekaligus menekan kecenderungan pasien Indonesia yang selama ini harus berobat ke luar negeri dengan biaya mahal.

Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengungkapkan bahwa banyak obat inovatif sebelumnya sulit diakses di dalam negeri. Kondisi ini membuat pasien, khususnya dari kalangan mampu, terpaksa berobat ke negara tetangga.

Baca Juga: Konflik Lahan Perumahan Korpri PPU Memanas, Warga Laporkan Pemkab ke Ombudsman Kaltim

"Banyak obat-obat baru itu hanya tersedia di negeri seberang. Sehingga biasanya hanya bisa digunakan oleh orang-orang kaya karena mereka harus pergi ke Singapura dan membawanya ke Indonesia," kata Taruna kepada media massa dikutip Minggu (5/7/2026).

Menurut Taruna, hambatan ketersediaan obat inovatif selama ini dipengaruhi oleh keengganan produsen mendaftarkan produk hingga faktor harga. Oleh karena itu, BPOM bergerak cepat mempercepat proses persetujuan demi kepentingan masyarakat luas.

Baca Juga: Sapa Ratusan Pemuda Katolik, Kapolres PPU Warning Bahaya Narkoba hingga Jempol di Medsos

Berbeda dengan terapi konvensional, tirzepatide bekerja dengan mengaktivasi dua reseptor hormon sekaligus, yaitu Glucose-Dependent Insulinotropic Polypeptide (GIP) dan Glucagon-Like Peptide-1 (GLP-1). Mekanisme ini meniru (mimicking) hormon alami tubuh untuk meningkatkan kinerja insulin dan mencegah penumpukan gula di pembuluh darah.

"Kalau gula menumpuk di pembuluh darah, itu dapat menyebabkan aterosklerosis yang memicu penyempitan pembuluh darah dan berbagai komplikasi lainnya," jelas Taruna. Selain mengontrol gula darah, obat ini juga efektif mengurangi rasa lapar untuk pengelolaan berat badan pasien.

Baca Juga: Kolaborasi Polresta IKN dan Polres PPU Pastikan Doa Nasional 2026 Berlangsung Khidmat

Persetujuan izin edar ini diberikan setelah melalui evaluasi ilmiah yang ketat oleh Komite Penilai Obat Nasional serta mengacu pada persetujuan European Medicines Agency (EMA). Taruna memastikan aspek keamanan dan efikasi obat ini sangat baik. "Efikasinya luar biasa, bahkan bisa menunjukkan efektivitas di atas 70 persen," imbuhnya.

Masuknya obat inovatif ini ke Indonesia juga didorong oleh status BPOM yang kini diakui sebagai WHO Listed Authority (WLA). Indonesia menjadi satu dari 10 regulator obat terbaik di dunia yang sejajar dengan Australia, Singapura, Jepang, Amerika Serikat, hingga Swiss. Status internasional ini meningkatkan kepercayaan perusahaan farmasi global.

Baca Juga: 10 Cara Merawat HP agar Awet dan Tidak Cepat Rusak

Sementara itu, Presiden Direktur PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL), Christophe Piganiol, mengapresiasi efisiensi birokrasi BPOM. Melalui jalur reliance yang diterapkan sejak 1 Agustus 2025, izin edar tirzepatide berhasil rampung dalam waktu 98 hari kerja. Bahkan, persetujuan indikasi manajemen berat badan kronis (chronic weight management) selesai hanya dalam 42 hari kerja.

"Jalur percepatan ini memungkinkan obat inovatif yang sudah disetujui di negara referensi mendapatkan izin di Indonesia dalam waktu sekitar 90 hari kerja, tanpa mengurangi standar evaluasi keamanan, khasiat, dan mutu," kata Christophe.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#bpom #diabetes #obat #singapura #mahal