KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Tanaman ciplukan (Physalis angulata) yang kerap dianggap sebagai gulma atau tanaman liar di area persawahan dan lahan terbuka, ternyata menyimpan segudang manfaat bagi kesehatan. Tanaman yang akrab bagi generasi 80 dan 90-an ini terbukti secara ilmiah memiliki berbagai kandungan nutrisi dan senyawa aktif yang berkhasiat sebagai obat.
Berdasarkan data yang dihimpun dari laman Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Minggu (5/7), bagian akar, daun, hingga buah ciplukan telah lama digunakan masyarakat sebagai ramuan tradisional. Akar ciplukan jamak dipakai untuk obat cacing dan penurun demam. Sementara bagian daunnya kerap diandalkan untuk mempercepat penyembuhan patah tulang, bisul, borok, penguat jantung, keseleo, hingga nyeri perut."Untuk buahnya yang berasa manis asam segar, selain enak dikonsumsi langsung, juga diyakini masyarakat dapat mengobati epilepsi, gangguan saluran kencing, hingga penyakit kuning," tulis laporan tersebut.
Didukung Hasil Penelitian Ilmiah
Khasiat tanaman yang dikenal dengan nama ceplukan di Jawa dan cecendet di Sunda ini bukan sekadar mitos. Sejumlah penelitian lintas negara, baik secara in vitro maupun in vivo, menunjukkan bahwa ciplukan memiliki aktivitas antihiperglikemi (penurun kadar gula darah), antibakteri, antivirus, imunomodulator (imunostimulan dan imunosupresan), antiinflamasi, antioksidan, hingga sitotoksik.
Dua penelitian penting yang memperkuat bukti empiris ini antara lain:
-
Aktivitas Antihiperglikemi: Penelitian in vivo oleh Baedowi (1998) pada mencit menunjukkan bahwa ekstrak daun ciplukan dosis 28,5 mL/kg BB mampu memengaruhi sel β insulin pankreas.
-
Aktivitas Antimikroba: Penelitian Januario (2000) menemukan bahwa ekstrak murni herba Physalis angulata terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab penyakit TBC. Kendati demikian, efektivitas ini masih memerlukan penelitian lanjutan.
Cara Pengolahan yang Benar
Masyarakat dapat mengolah akar, batang, daun, hingga buah ciplukan dengan cara direbus hingga sari-sarinya larut, lalu meminum air rebusan tersebut. Khusus untuk buah yang sudah matang, dapat langsung dikonsumsi sebagai camilan alami setelah dicuci bersih.
Namun, masyarakat diimbau untuk memperhatikan cara konsumsi yang benar demi menjaga keamanan dan optimalisasi khasiatnya. Air rebusan ciplukan sebaiknya langsung dihabiskan pada hari yang sama dan tidak disimpan lebih dari 24 jam. Penyimpanan yang terlalu lama berisiko menurunkan kualitas serta merusak kandungan senyawa aktif di dalam ramuan herbal tersebut.(*)
Editor : Thomas Priyandoko