Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Viral di Korsel, Tren 'Slow Jogging' Mulai Dilirik: Lari Santai, Bakar Kalori Dua Kali Lipat

Ari Arief • Rabu, 8 Juli 2026 | 20:13 WIB
Ilustrasi slow jogging di Korea Selatan.(Shutterstock)
Ilustrasi slow jogging di Korea Selatan.(Shutterstock)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Anggapan bahwa olahraga lari harus selalu melelahkan, menyiksa fisik, dan membuat napas terengah-engah kini mulai bergeser. Belakangan ini, sebuah tren olahraga baru bernama slow jogging tengah viral di Korea Selatan (Korsel) dan mulai memicu perhatian pencinta kebugaran dunia.

Sesuai namanya, slow jogging adalah aktivitas berlari dengan ritme sangat lambat. Saking lambatnya, pelaku olahraga ini masih bisa mengobrol santai dan tertawa bersama teman di sebelahnya. Secara teknis, kecepatannya hanya berkisar antara 3 hingga 5 kilometer per jam (km/jam), atau hampir setara dengan ritme jalan kaki santai.

Baca Juga: Waspada ‘Silent Killer’, Ini 3 Kebiasaan Sederhana untuk Jinakkan Hipertensi

Meski terkesan santai, riset medis membuktikan bahwa slow jogging justru membakar energi jauh lebih besar. Saat berlari perlahan, otot-otot besar seperti paha depan, bokong, dan punggung bawah aktif bekerja secara konstan.

Alhasil, pengeluaran energi dan pembakaran kalori dari aktivitas ini mencapai dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan jalan kaki biasa. Bagi masyarakat yang sedang berjuang memangkas lemak perut, olahraga ini dinilai bisa menjadi solusi instan yang menyenangkan tanpa membebani tubuh.

Baca Juga: Libur Sekolah, Perpustakaan Kota Balikpapan Dipadati Pelajar dan Mahasiswa

Sejarah dan Perkembangan

Dikutip dari laman Slow Jogging Korea, metode olahraga ini sebenarnya pertama kali dikembangkan oleh mendiang Profesor Hiroaki Tanaka dari Departemen Ilmu Olahraga Universitas Fukuoka, Jepang. Prof. Tanaka merumuskan metode ini setelah melalui riset mendalam selama lebih dari 40 tahun. Gerakan tersebut kemudian mendunia setelah disiarkan oleh stasiun TV Jepang, NHK, pada tahun 2009.

Tren ini kemudian menyeberang ke Negeri Gingseng pada tahun 2015. Saat itu, perwakilan dari Korea Selatan, Jung Ra-hye, bertolak langsung ke Jepang untuk mengadopsi teknik dan metode pengajaran langsung dari Profesor Tanaka. Langkah tersebut menjadi fondasi awal penyebaran slow jogging di Korsel.

Baca Juga: Wajib Lapor Belanja OPD Kaltim di Atas Rp 10 Juta Jadi Sorotan, Firnadi Ikhsan Desak Aturan Punya Dasar Hukum Jelas

Setahun berselang, tepatnya pada 2016, Ketua Asosiasi Slow Jogging Jepang, Ujiayama, bersama Prof. Tanaka diundang ke Korea untuk menandatangani perjanjian kerja sama bilateral sekaligus mendirikan Korea Slow Jogging Association. Sejak saat itu, sertifikasi pelatih resmi dikomersialkan dan komunitasnya terus berkembang pesat hingga menjadi tren gaya hidup sehat yang masif saat ini.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#jogging #korsel #tren