KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Ancaman penyakit kanker di tingkat global kian mengkhawatirkan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa penyakit mematikan ini merenggut lebih dari 26.000 nyawa setiap hari di seluruh dunia. Jika tidak ada tindakan darurat yang diambil, jumlah kasus tahunan diproyeksikan melonjak drastis hingga menyentuh angka hampir 35 juta kasus pada tahun 2050.
Data tersebut tertuang dalam laporan terbaru bertajuk WHO Global Status Report on Cancer 2026 yang disusun bersama Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC). Saat ini, kanker menempati posisi sebagai penyebab kematian nomor dua paling mematikan di dunia setelah penyakit kardiovaskular (jantung), dengan estimasi 20,6 juta kasus baru dan hampir 10 juta kematian setiap tahunnya.
Baca Juga: Tak Lagi 58 Tahun, Prabowo Resmi Ubah Batas Usia Pensiun Polri, Ini Ketentuan Terbarunya
Selain ledakan jumlah kasus, laporan ini menyoroti melebarnya jurang ketimpangan akses pengobatan antarnegara. Sebagai contoh, sebanyak 87 persen wanita penderita kanker payudara di negara berpenghasilan tinggi mampu bertahan hidup hingga 5 tahun setelah diagnosis. Sebaliknya, di negara berpenghasilan rendah, tingkat kelangsungan hidupnya merosot tajam hingga tersisa sekitar 42 persen.
Ironisnya, saat ini kurang dari sepertiga negara di dunia yang memasukkan perawatan kanker ke dalam paket jaminan kesehatan nasional mereka.
Baca Juga: Nirbobol vs Juara Golden Glove, Duel Unai Simon dan Courtois Panaskan Spanyol vs Belgia
Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa ketimpangan akses ini harus segera diakhiri. Menurutnya, keselamatan pasien tidak boleh ditentukan oleh faktor geografis maupun ekonomi.
"Kanker adalah penyakit yang sangat personal yang menyentuh hampir semua dari kita. Namun, apakah seseorang bisa selamat dari kanker seharusnya tidak pernah bergantung pada di mana mereka dilahirkan atau berapa banyak penghasilan mereka," tegas Dr. Tedros, dikutip dari laman resmi WHO, Jumat (10/7).
Baca Juga: Surplus Neraca Dagang Kaltim Tembus USD1,51 Miliar, Tertinggi Sepanjang 2026
Gaya Hidup Modern Jadi Pemicu Utama
Sementara itu, laporan yang sama mengungkapkan bahwa hampir 40 persen kasus kanker di dunia sebenarnya berkaitan erat dengan faktor risiko yang dapat dicegah. Mulai dari penggunaan tembakau (rokok), konsumsi alkohol, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, hingga infeksi virus seperti HPV dan Hepatitis B atau C.
Meski angka penggunaan tembakau global berhasil ditekan turun hingga 27 persen sejak 2010 berkat pengetatan kebijakan kontrol rokok, para ahli menilai pergerakan ini masih terlalu lambat untuk menahan laju kasus baru.
Baca Juga: Wanita Wajib Tahu, 6 Kesalahan Diet yang Perlu Dihindari, Nomor 1 Kerap Dilakukan
Direktur IARC, Dr. Elisabete Weiderpass, menambahkan bahwa tren pemicu kanker kini telah bergeser ke arah gaya hidup modern dan faktor lingkungan.
"Profil kanker terus berkembang, kini semakin didorong oleh meningkatnya angka obesitas, kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, dan polusi udara. Pencegahan kanker harus tetap menjadi prioritas politik bagi tiap negara," desak Dr. Elisabete.(*)
Editor : Thomas Priyandoko