Selatox Bangun Basis Produksi Bertaraf Global, BPOM Beri Sertifikasi CPOB

Agus Prayitno • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 21:37 WIB
Joh Young Hoon, CEO Selatox Bio Pharma, menegaskan komitmen perusahaan menjadi produsen biofarmasi berkelas dunia melalui fasilitas produksi botulinum toxin bersertifikat GMP pertama di Indonesia. (Foto: Istimewa)
Joh Young Hoon, CEO Selatox Bio Pharma, menegaskan komitmen perusahaan menjadi produsen biofarmasi berkelas dunia melalui fasilitas produksi botulinum toxin bersertifikat GMP pertama di Indonesia. (Foto: Istimewa)

KALTIMPOST.ID, CIKARANG – PT Selatox Bio Pharma (Selatox) memperkuat langkah menuju pusat manufaktur biofarmasi bertaraf global setelah memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia. Pencapaian ini ditandai dengan peresmian fasilitas manufaktur biofarmasi Selatox di Cikarang, Jawa Barat.

Sertifikasi CPOB tersebut menjadi pengakuan atas kesiapan fasilitas produksi dan sistem manajemen mutu Selatox dalam memenuhi standar yang ditetapkan regulator. Dengan fasilitas tersebut, perusahaan mengembangkan ekosistem yang menggabungkan riset, manufaktur, dan operasional bisnis untuk mendukung ekspansi global.

Selatox Perkuat Fondasi Manufaktur Biofarmasi Global

Selatox merupakan perusahaan biofarmasi yang berfokus pada penelitian, pengembangan, dan manufaktur produk biofarmasi estetika. Perusahaan saat ini mengembangkan berbagai produk berbasis Botulinum Toxin Type A sebagai bagian dari inovasi di bidang estetika medis.

Fasilitas manufaktur baru Selatox dirancang sebagai basis produksi dengan standar internasional. Infrastruktur tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun kemampuan manufaktur yang mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun global.

Baca Juga: Warga Berau Diserang Buaya Saat Bersihkan Kapal di Sungai Tabalar Muara, Korban Alami Luka Serius

Peresmian fasilitas manufaktur mengusung tema "Pursuing the Highest Quality, Delivering the Finest Beauty." Acara tersebut menghadirkan perwakilan pemerintah, BPOM, organisasi kesehatan, tenaga medis, mitra industri, dan berbagai pemangku kepentingan.

Para peserta menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur manufaktur dan penerapan sistem mutu dalam mendukung perkembangan industri biofarmasi Indonesia. Selain teknologi, kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam membangun industri yang berkelanjutan.

Integrasi Riset, Produksi, hingga Operasi Bisnis Global

Fasilitas manufaktur Selatox dilengkapi sistem produksi berteknologi maju, area produksi steril, serta sistem manajemen mutu yang mencakup seluruh rantai proses produksi. Sistem tersebut diterapkan mulai dari pengelolaan bahan baku hingga proses distribusi produk.

Dengan sertifikasi CPOB dari BPOM, fasilitas Selatox telah memenuhi persyaratan produksi sesuai prinsip Good Manufacturing Practice (GMP). Standar tersebut menjadi acuan penting untuk memastikan kualitas, keamanan, dan konsistensi produk biofarmasi.

Chief Executive Officer Selatox, Joh Young Hoon, mengatakan sertifikasi CPOB menjadi langkah strategis bagi perusahaan dalam membangun ekosistem biofarmasi terintegrasi.

"Perolehan sertifikasi CPOB dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia merupakan pencapaian penting bagi Selatox. Sertifikasi ini menegaskan bahwa fasilitas manufaktur dan sistem manajemen mutu kami telah memenuhi standar yang ditetapkan," ujar Joh Young Hoon.

Menurutnya, Selatox berkomitmen menghadirkan produk berkualitas melalui proses produksi presisi dan sistem pengendalian mutu yang ketat. Langkah tersebut menjadi dasar perusahaan untuk memperkuat kepercayaan tenaga kesehatan dan mitra bisnis.

"Sertifikasi ini menjadi langkah awal bagi Selatox dalam membangun ekosistem biofarmasi yang terintegrasi, mulai dari penelitian dan pengembangan, manufaktur, hingga bisnis di ranah global," katanya.

Joh Young Hoon menambahkan perusahaan akan terus berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia lokal dan teknologi manufaktur berstandar internasional. Investasi tersebut diharapkan dapat mendukung pertumbuhan industri farmasi dan bioteknologi Indonesia.

Dorong Daya Saing Biofarmasi Indonesia

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Transformasi Sistem Kesehatan, Agus Tjahajana Wirakusumah, mengatakan pemerintah terus mendorong penguatan kapasitas produksi dalam negeri. Upaya tersebut dilakukan melalui penguasaan teknologi dan kolaborasi antara pemerintah, industri, serta institusi pendidikan.

"Kehadiran fasilitas manufaktur seperti PT Selatox Bio Pharma diharapkan dapat mendukung kemandirian farmasi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing industri kesehatan nasional," ujar Agus.

Baca Juga: Sabet Emas PON tapi Latihan di Rumput Liar, Ketum KONI Kaltim Anderiy Syachrum Turun Tangan Benahi Lapangan Hoki!

Sementara itu, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyampaikan apresiasi atas peresmian fasilitas manufaktur biofarmasi dan pencapaian sertifikasi CPOB Selatox. Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan komitmen perusahaan dalam memenuhi standar internasional terkait keamanan, mutu, dan khasiat produk.

"Kami mengucapkan selamat kepada PT Selatox Bio Pharma atas peresmian fasilitas manufaktur biofarmasi serta pencapaian sertifikasi CPOB. Pencapaian ini menjadi langkah penting dalam memperkuat industri farmasi dan biofarmasi di Indonesia," kata Taruna Ikrar.

Dengan fasilitas manufaktur baru dan sertifikasi CPOB, Selatox menargetkan pengembangan Indonesia sebagai pusat biofarmasi estetika yang mengintegrasikan riset, produksi, dan bisnis global. Perusahaan juga berupaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai industri biofarmasi internasional melalui manufaktur berstandar global.

Editor : Agus Prayitno
Selatox Sertifikasi CPOB Industri Farmasi Indonesia Botulinum Toxin Type A bpom