Jangan Keliru Lagi, Ini 5 Mitos Menstruasi yang Masih Dipercaya Wanita Indonesia

Ari Arief • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 15:29 WIB
Ilustrasi kalender siklus menstruasi seorang wanita.(generate ai)
Ilustrasi kalender siklus menstruasi seorang wanita.(generate ai)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Pemahaman masyarakat mengenai kesehatan reproduksi wanita masih kerap terhalang oleh berbagai mitos yang diwariskan secara turun-temurun. Kaltim Post merangkum lima mitos menstruasi yang sering beredar di masyarakat beserta fakta medisnya untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.

1. Larangan Keramas Saat Haid

Mitos yang melarang keramas karena dianggap dapat membekukan darah atau memicu kanker rahim dipastikan tidak benar. Secara anatomis, kulit kepala tidak berhubungan dengan siklus menstruasi di rahim. Keramas justru sangat dianjurkan untuk menjaga kebersihan diri, mengingat produksi minyak dan keringat meningkat akibat perubahan hormon saat haid.

2. Minum Air Es Menyebabkan Darah Membeku

Anggapan bahwa air es membekukan darah haid adalah keliru. Sistem pencernaan dan reproduksi memiliki jalur yang berbeda. Suhu minuman yang masuk ke lambung tidak memengaruhi kondisi darah di rahim. Adapun gumpalan darah yang keluar saat haid merupakan hal normal akibat reaksi antikoagulan alami tubuh saat aliran darah sedang deras.

3. Tidak Boleh Berolahraga

Banyak wanita menghentikan aktivitas fisik karena takut merusak rahim. Padahal, olahraga ringan hingga sedang seperti yoga, berjalan santai, atau peregangan justru disarankan. Aktivitas fisik memicu pelepasan hormon endorfin yang berfungsi meredakan kram perut (dismenore) dan memperbaiki suasana hati.

4. Darah Menstruasi Adalah Darah Kotor

Penggunaan istilah "darah kotor" merupakan stigma sosial, bukan gambaran medis. Komposisi darah haid terdiri dari darah normal, luruhnya jaringan dinding rahim (endometrium), dan cairan vagina. Darah menstruasi tidak mengandung racun dan sama bersihnya dengan darah di bagian tubuh lain.

5. Tidak Bisa Hamil Saat Berhubungan Seks Masa Haid

Risiko kehamilan tetap ada meski berhubungan seksual saat haid. Sperma mampu bertahan di dalam rahim hingga lima hari. Pada wanita dengan siklus haid pendek atau tidak teratur, proses ovulasi bisa terjadi tak lama setelah haid selesai, sehingga pembuahan tetap berpotensi terjadi.

Panduan Perawatan Diri Saat Menstruasi

  • Ganti pembalut: Lakukan secara rutin setiap 4–6 jam sekali.

  • Konsumsi zat besi: Perbanyak asupan bayam atau daging merah untuk mencegah anemia.

  • Cukupi cairan: Minum air putih yang cukup guna mengurangi perut kembung.

  • Kompres hangat: Tempelkan kompres hangat di area perut bawah untuk meredakan kram.

  • Menjaga kebersihan: Basuh area kewanitaan menggunakan air bersih tanpa perlu sabun pembersih berparfum.

Masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi ke dokter spesialis kandungan apabila mengalami nyeri haid berlebih yang mengganggu aktivitas atau pendarahan hebat hingga harus mengganti pembalut tiap 1–2 jam sekali.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
haid konsultasi mitos