KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Gejala awal demam berdarah dengue (DBD) kerap sulit dibedakan dari flu biasa. Kondisi tersebut berisiko membuat penanganan terlambat, padahal kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat saat memasuki fase kritis.
Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Gia Pratama Putra, menjelaskan bahwa gejala awal DBD umumnya ditandai dengan demam tinggi, menggigil, lemas, sakit kepala, hingga nyeri pada sendi dan otot. Mual, muntah, serta tanda perdarahan seperti mimisan, gusi berdarah, dan bintik merah di kulit juga kerap muncul.
“Pada fase awal, DBD memang sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya,” kata dr. Gia.
Ia mengingatkan bahwa fase kritis DBD umumnya didahului oleh penurunan trombosit secara drastis. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa memicu syok, gangguan fungsi organ, hingga perdarahan berat.
“Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase itulah kondisi pasien bisa memburuk dengan cepat,” tambahnya.
Masyarakat diimbau untuk segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan jika menemukan tanda bahaya. Di antaranya nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh sangat lemas, hingga penurunan kesadaran.
3M Plus Tetap Jadi Kunci Pencegahan
Berdasarkan pengalamannya di fasilitas kesehatan, dr. Gia menyebut kendala utama penanganan DBD adalah keterlambatan mengenali tanda bahaya dan tata laksana yang kurang tepat. Oleh karena itu, pencegahan penularan virus yang dibawa nyamuk Aedes aegypti ini harus tetap menjadi prioritas.
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus dinilai masih sangat efektif. Langkah tersebut meliputi:
-
Menguras tempat penampungan air secara rutin.
-
Menutup rapat wadah penyimpanan air.
-
Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
-
Plus: Menggunakan obat antinyamuk serta gotong royong menjaga kebersihan lingkungan.
“Setiap keluarga dapat berperan aktif dengan menjalankan 3M Plus secara konsisten, baik di rumah maupun di lingkungan tempat beraktivitas,” ujarnya.(*)
Editor : Thomas Priyandoko